Masyarakat Makin Terkoneksi, Tetapi Makin Kesepian

oleh -86 x dibaca
Arisnawawi

Oleh: 

Arisnawawi, S.Sos., M.Si. 

(Dosen Prodi Sosiologi, Universitas Negeri Makassar)

Kita sedang hidup dalam sebuah ironi besar yang barangkali akan ditertawakan oleh generasi mendatang, jika mereka masih memiliki cukup empati untuk melakukannya. Hari ini, manusia bisa menggenggam dunia dalam satu usapan jempol, berbicara melintasi benua dalam hitungan milidetik, dan menyiarkan setiap detik kehidupannya kepada ribuan orang asing. Kita adalah masyarakat yang paling terkoneksi secara teknis sepanjang sejarah peradaban. Namun, di balik keriuhan notifikasi itu, kita justru sedang menjadi masyarakat yang paling kesepian.

 

Saya melihat fenomena ini bukan sekadar luapan emosi melankolis individu di malam hari. Ini adalah kesunyian yang terstruktur. Laporan terbaru dari Komisi Koneksi Sosial WHO (2025) menegaskan bahwa kesepian bukanlah masalah sepele, ia adalah ancaman kesehatan publik mayor yang mematikan. Data menunjukkan bahwa satu (1) dari enam (6) orang di dunia mengalami kesepian. Bayangkan, di tengah kerumunan cafe atau di mall yang sesak, setiap orang keenam yang Anda temui sedang berjuang melawan rasa hampa yang akut. Ini bukan lagi drama personal, ini adalah gejala sosiologis dari bangunan sosial yang retak.

 

Untuk memahami keretakan ini, kita pinjam kacamata Emile Durkheim. Dalam karyanya tentang Suicide dan The Division of Labour in Society, Durkheim memperkenalkan konsep “Anomie” suatu kondisi di mana perubahan sosial yang terlalu cepat menyebabkan rontoknya norma-norma lama. Dalam konteks digital, kita sedang mengalami “anomie siber”. Kita memiliki ribuan koneksi teknis, tetapi kehilangan lem sosial yang mampu merekatkan. Durkheim mengingatkan bahwa tanpa integrasi sosial yang kuat, individu akan kehilangan arah dan merasa terasing di tengah keramaian.

BACA JUGA:  ARAH PENDIDIKAN SETELAH DELAPAN DEKADE KEMERDEKAAN

 

Ada distingsi tajam yang harus kita bedah antara isolasi sosial dan kesepian. Isolasi sosial adalah kondisi objektif di mana seseorang kekurangan peran dan interaksi sosial. Sementara itu, kesepian adalah pengalaman subjektif yang menyakitkan, sebuah “perasaan negatif” yang muncul ketika kualitas hubungan yang dimiliki tidak sesuai dengan yang diinginkan. Kita bisa saja memiliki 5.000 teman di media sosial (dimensi struktural), namun tidak memiliki satu pun orang yang bisa ditelepon saat ban kendaraan bocor di tengah malam (dimensi fungsional), atau seseorang yang benar-benar memahami kegelisahan batin kita (dimensi kualitas).

 

Yang paling memilukan adalah, seringkali kita menganggap teknologi digital adalah “obat” bagi kesepian. Faktanya, remaja usia 13-17 tahun adalah kelompok yang paling kesepian secara global (20,9 persen), disusul oleh orang dewasa muda usia 18-29 tahun (17,4 persen). Mengapa mereka yang paling mahir berteknologi justru yang paling menderita?

 

Kita sedang mengalami obesitas informasi tetapi kelaparan nutrisi sosial. Media sosial sering kali menggantikan interaksi tatap muka yang kaya akan isyarat non-verbal dengan makanan digital yang hambar. Fenomena seperti phubbing (mengabaikan orang di depan mata demi layar ponsel) telah merusak kualitas hubungan kita. Kita hadir secara fisik, tetapi pikiran kita tertambat pada yang lain. Kita hidup dalam kondisi siaga permanen (always-on), namun kehilangan kemampuan untuk “hadir” sepenuhnya bagi sesama secara fisik.

BACA JUGA:  Bone, Dari Lumbung Pangan Nasional Menuju Daerah Berdaya Saing dan Berkelanjutan

 

Kesepian ini kemudian merembes ke bawah kulit dan menjadi patologi biologis. Ia bukan sekadar rasa sedih, melainkan pemicu stres kronis yang meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, diabetes, hingga demensia. WHO mencatat bahwa kesepian berkaitan dengan sekitar 871.000 kematian setiap tahunnya. Secara sosiologis, kesepian ini bisa kita sebut sebagai pembunuh massal yang tidak meninggalkan jejak darah, melainkan jejak isolasi di kamar-kamar rumah, kos, dan apartemen yang sunyi.

 

Dampaknya pun merambah ke ranah ekonomi, masyarakat yang kesepian adalah masyarakat yang tidak produktif. Di Amerika Serikat, isolasi sosial pada lansia menghabiskan dana Medicare tambahan sebesar 6,7 miliar dolar per tahun. Di Inggris, kesepian merugikan pemberi kerja sebesar 3,2 miliar dolar per tahun akibat penurunan produktivitas dan tingginya angka turnover (perputaran/pergantian) karyawan. Kita terjebak dalam sistem kapitalisme yang menuntut produktivitas tanpa henti, namun mengabaikan infrastruktur sosial yang sebenarnya menjadi pondasi dari produktivitas itu sendiri.

 

Lalu, di mana peran negara? Di sinilah yang membuat agak galau. Hingga akhir 2024, hanya sekitar 4,1 persen dari 194 negara anggota WHO yang memiliki kebijakan nasional untuk mengatasi kesepian. Mayoritas negara masih melihat kesepian sebagai masalah “nasib individu” atau urusan keluarga semata. Padahal, hilangnya ruang ketiga (third spaces), seperti taman kota yang ramah, perpustakaan publik, hingga transportasi umum yang nyaman adalah kebijakan tata kota yang secara langsung berkontribusi pada dinamika kesepian.

BACA JUGA:  Small is Beautiful 

 

Barangkali, penawar untuk kesepian ini tersimpan dalam memori kolektif kemanusiaan kita yang kian berdebu. Kita perlu menjahit kembali robekan sosial ini dengan menghidupkan filosofi kemanusiaan yang lebih mendalam. Jika Afrika memiliki Ubuntu yang mengajarkan bahwa “seseorang menjadi manusia melalui orang lain”, maka kita memiliki nilai Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge. Sipakatau (saling memanusiakan) harus menjadi fondasi utama untuk menolak dehumanisasi digital yang mereduksi eksistensi manusia menjadi sekadar deretan angka di layar kaca. Di tengah rimba media sosial, Sipakalebbi (saling menghargai) hadir sebagai “rem” agar jempol tidak mudah melempar racun komentar yang toksik. Sementara itu, Sipakainge (saling mengingatkan) adalah mekanisme penyelamatan untuk menarik kembali saudara-saudara kita yang terjebak dalam labirin algoritma yang menyesakkan.

Integrasi nilai-nilai ini menuntut kita untuk melatih kembali otot sosial yang kian melemah dan merebut kembali hak kita atas koneksi yang benar-benar bernyawa. Kesepian massal ini adalah gugatan bagi kemanusiaan kita. Sudah saatnya kita meletakkan gawai, menatap mata orang di sebelah kita, dan memulai percakapan yang sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.