Artikulasi Simbol Peradaban Wajo: Dari “Tanah Sutra” ke “Jalur Sutra”

oleh -154 x dibaca
Dr. H. Darmawan Sanusi, S.Sos., M.Si - Prof. Dr. Haedar Akib

Oleh:

 Dr. H. Darmawan Sanusi, S.Sos., M.Si., Plt. Rektor Universitas Puangrimaggalatung (UNIPRIMA) Sengkang & Ketua Kadin Kabupaten Wajo.

 Prof. Dr. Haedar Akib, Guru Besar Ilmu Administrasi Universitas Negeri Makassar & Dosen Program Pascasarjana UNIPRIMA Sengkang. 

Artikulasi simbol(ik) peradaban Wajo ini diinspirasi oleh pertanyaan retoris mahasiswa Program Magister Ilmu Administrasi Publik UNIPRIMA Sengkang (2026) mengenai kata kunci “Sutra” yang menurutnya, apakah ketika kita menyebut ”Sutra” yang teringat Kabupaten Wajo, demikian sebaliknya manakala menyebut nama daerah ini yang teringat “Warisan Sutra” selain talenta masyarakatnya (to’ Wajo) sebagai pedagang ulung. Artikulasi simbolik ini sesuai dengan pernyataan Gareth Morgan dalam bukunya Images of Organization (1986) tentang metafora individu atau institusi (organisasi) yang didasarkan pada cara berpikir (a way of thinking) dan cara melihat (a way of seeing) sesuatu, sehingga hari ulang tahun Kabupaten Wajo ke-627 (2026) bertema ”Menguatkan Jati Diri dan Karakter Ammaradekangeng Menuju Wajo Maradeka” atau Mengokohkan Kebersamaan menuju Wajo Maradeka” sebagai bahasa simbolik peradabannya.

***

Dalam sejarah manusia, peradaban tidak hanya dibangun oleh batu, logam, dan senjata, tetapi juga oleh simbol, dimana di antara sekian banyak simbol dalam konteks Kabupaten Wajo misalnya, Sutra menempati posisi yang unik. Sifat Sutra lembut, tetapi berdaya ikat kuat dan tampak sebagai kain tetapi sesungguhnya bekerja sebagai bahasa sosial. Di satu sisi ada “Tanah Sutra” yaitu ruang lokal tempat sutra ditenun menjadi identitas, penghidupan, dan memori kolektif. Di sisi lain, ada “Jalur Sutra” sebagai jaringan lintas benua dimana sutra berubah menjadi medium pertukaran barang, gagasan, agama, teknologi, dan kebudayaan, sebagaimana dinyatakan oleh Haedar Akib dkk., dalam artikelnya berjudul Revitalization of Maritime Silk Road based on the Security Implications and Cooperation (Austral: Brazilian Journal of Strategy & International Relations, Vol. 10, no. 20, Jul./Dec. 2021, h. 73-87).

BACA JUGA:  ASURANSI SYARIAH: MENYONGSONG MASA DEPAN PERLINDUNGAN KEUANGAN BERBASIS NILAI

Artikulasi pergeseran dari “Tanah Sutra” ke “Jalur Sutra” bukan sekadar membicarakan perpindahan komoditas an-sich, melainkan membahas produk-produk lokal dan nasional yang bertransformasi menjadi simbol peradaban suatu daerah atau negara. Dalam konteks Indonesia, khususnya Wajo yang oleh periset disebut sebagai “city of silk”, kota sutra maka transformasi ini terasa sangat nyata, dari tenunan rumah tangga, kemudian sutra tumbuh menjadi identitas daerah, lalu membuka pintu untuk membaca sejarah dunia yang lebih luas.

Artikulasi simbol peradaban dari “tanah sutra” ke “Jalur Sutra” bagi penulis merupakan proses ketika sutra tidak lagi dipahami hanya sebagai benda atau komoditi, melainkan pula sebagai penanda makna simbolik, sebagaimana perspektif Interpretive Symbolic (perspektif ketiga perkembangan teori organisasi menurut Mary Jo Hatch dalam bukunya Organization Theory (2013). “Tanah sutra” menunjuk pada ruang sosial yang melahirkan, merawat, dan mewariskan kebudayaan persuteraan, dimana pada kasus Wajo, usaha tenun sutra terus tumbuh sebagai warisan budaya, sekaligus menunjukkan identitas Wajo sebagai kota sutra dan pusat penjualan kain sutra di Indonesia. Hasil riset yang lalu mencatat besarnya skala sosial-ekonomi sektor ini, pada 2015 sebanyak 5.806 unit usaha dengan 17.396 tenaga kerja, lalu meningkat menjadi 6.116 unit usaha dengan 18.510 tenaga kerja pada 2019. Artinya, “tanah sutra” bukan romantisme folklor (kebudayaan rakyat yang diwariskan turun-temurun) melainkan sebagai ruang produksi makna simbolik sekaligus ruang produksi ekonomi-kreatif yang bernilai tambah.

“Tanah sutra” juga berarti ruang pewarisan, sebagaimana dinyatakan oleh pakarnya bahwa keberlanjutan usaha tenun sutra di Wajo didukung oleh pendidikan ekonomi keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi, bantuan permodalan, kesetaraan gender penenun, dan daya adaptasi pelaku usaha. Dengan kata lain, Sutra bukan sekadar hasil industri melainkan sebagai khazanah pengetahuan (tacit, explicit, cultural, menurut Ikujiro Nonaka and Hirotaka Takeuchi, dalam bukunya Knowledge Crating Company, 1995) yang dikreasi, hidup, dinamis dan berkembang. Ragam pengetahuan tersebut disimpan (embody) di tangan-tangan penenun, di rumah-rumah keluarga, dan pada kebiasaan atau ketekunan kerja, serta pada kebanggaan komunal to’Wajo. Dengan kata lain, ketika menyebut “tanah sutra” maka yang dimaksud sebetulnya adalah ”pemilik tanah” yang menenun (merajut) identitasnya sendiri (Haedar Akib & Teguh Ahmad Asparill, Merajut Identitas Baru: Transformasi Sosial Wajo dari ”Warisan Sutera” ke ”Tradisi Santri”, https://tribunboneonline.com/2026/04/07/merajut-identitas-baru-transformasi-sosial-wajo-dari-warisan-sutera-ke-tradisi-santri/).

BACA JUGA:  Pilkada Lewat Dewan: Solusi Mengatasi Maraknya Uang Palsu dalam Pemilu?

Sementara itu, “Jalur Sutra” merujuk pada ruang yang jauh lebih luas. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menjelaskan bahwa ”Silk Roads” adalah jaringan rute darat dan maritim yang menghubungkan Eurasia, tempat sutra dari Wajo dan banyak komoditas lain dipertukarkan antar-komunitas dunia. Selanjutnya, National Geographic menegaskan bahwa “Silk Road” bukan satu jalan tunggal, melainkan jaringan rute yang dipakai pedagang selama lebih dari 1.500 tahun. Istilah itu sendiri baru dipopulerkan oleh Ferdinand von Richthofen pada 1877. Sementara itu, Britannica menyebutnya sebagai jalur kuno yang menghubungkan Tiongkok dan Barat, membawa barang sekaligus ide antar-dua peradaban besar. Jadi, “Jalur Sutra” pada dasarnya adalah nama bagi infrastruktur perjumpaan manusia, karena bukan hanya jalan dagang, melainkan pula medan tempat dunia belajar saling mempengaruhi. Di titik inilah artikulasi simbolik itu terjadi, dimana Tanah sutra sebagai “locus”, sedangkan Jalur Sutra sebagai “nexus”. Locus berbicara tentang tempat asal, akar, dan kearifan lokal, sedangkan nexus berbicara tentang pertemuan, perjalanan, dan sirkulasi makna simbolik. Keduanya terhubung oleh satu kata kunci yaitu sutra sebagai simbol perekatnya.

BACA JUGA:  HAB ke-80 Kemenag Guru Madrasah Swasta Hanya Jadi Penonton Kebijakan PPPK

***

Mengapa sutra layak dibaca sebagai ”simbol peradaban” karena mampu memperlihatkan kebudayaan (hasil cipta, rasa dan karsa manusia) yang lahir dari kemampuan mengubah benda menjadi makna simbolik. Dalam masyarakat Bugis-Wajo, tenun bukan hanya sebagai hasil kerja ekonomi kreatif, melainkan aktivitas yang bertransformasi dari produksi untuk kebutuhan keluarga dan adat menuju produksi yang menyesuaikan dengan permintaan pasar. Menariknya, perubahan itu tidak memutus akar sosialnya, karena jaringan bisnis penenun tetap dibangun melalui kekerabatan, kampung asal, persahabatan, dan ikatan etnik. Bahkan, bagi diaspora Bugis di berbagai daerah atau negara, kain tenun Bugis tetap dipakai dalam upacara tradisional sebagai simbol identitas di tempatnya menetap. Artinya, Sutra hidup bukan hanya karena ada transaksi, tetapi karena ada rasa memiliki.

Rasa memiliki itu mengingatkan kita bahwa ekonomi bertahan lama karena ditopang oleh kebudayaan yang langgeng. Demikian pula Jalur Sutra kuno bertahan berabad-abad bukan hanya karena adanya kebutuhan dagang, melainkan pula karena menjadi ruang dimana orang, kota, agama, dan pengetahuan saling bertemu. Kemudian, Jalur Sutra menjadi besar karena adanya kota, pelabuhan, caravanserai (warisan peradaban), pengrajin, penerjemah, keluarga-keluarga yang menjadikan pertukaran secara ”suka-sama suka” (Qur’an, Surah An-Nisaa’ ayat 29) sebagai cara hidupnya. Dengan kata lain, kita memahami Silk Roads bukan hanya sebagai memori sejarah, melainkan pula sebagai contoh dialog, kerjasama, dan pertukaran lintas peradaban dunia yang saling terhubung hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.