Oleh:
Brigjen Pol. Dr. M. Awal Chairuddin, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, Jakarta & penulis buku berjudul ”Pejera Bhabinkamtibmas”.
Prof. Dr. Haedar Akib, Guru Besar Ilmu Administrasi Universitas Negeri Makassar & Dosen Program Pascasarjana Universitas Puangrimaggalatung (UNIPRIMA) Sengkang.
Tulisan menyambut hari Idul Fitri ini terinspirasi dari pernyataan Prof. Hamdan Juhannis (Rektor UIN Alauddin) dalam opininya, Bona Fide (24) berjudul “Menyoal Diri yang belum Selesai” bahwa esensi diri yang selesai dengan dirinya atau belum bukan berarti memindahkan jatidiri manusia menjadi malaikat, melainkan karena takaran kehidupannya dimana pun berada, termasuk berkendara di jalan raya menurut penulis, adalah pencapaian ”ke(tenang)an”, atau istilah teologisnya ”sabar,” sebagai refleksi pengamalan ayat Al Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 153 yang mengajarkan …Innallâha ma‘ash-shâbirîn yang artinya Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Sebaliknya, orang yang belum selesai dengan dirinya akan mengalami konflik batin karena takaran kehidupannya adalah sebatas pencapaian ”kesenangan”.
***
Jalan raya sering dipahami hanya sebagai ruang perpindahan, tempat orang bergerak dari rumah ke kantor, dari kampus ke pasar, dari satu urusan ke urusan lain. Namun, di balik hiruk-pikuk kendaraan, klakson, lampu lalu lintas, dan persimpangan yang sibuk, sesungguhnya jalan raya merupakan ”ruang nilai”, termasuk nilai sipakatau (saling memanusiakan), sipakainga (saling mengingatkan), sipakalebbi (saling menghargai) menurut khazanah budaya perilaku orang Bugis-Makassar, karena di sanalah karakter seseorang diuji secara nyata, spontan, dan tanpa banyak topeng. Orang bisa tampak sopan di ruang rapat, lembut di mimbar, atau santun di media sosial, tetapi berubah menjadi agresif, mudah marah, tidak sabar, dan egois ketika berada di jalan. Oleh karena itu, berbicara tentang lalu lintas tidak cukup hanya dalam bahasa hukum, teknik, atau keselamatan. Lalu lintas juga dipahami dalam perspektif etika, estetika, kinestetika dan spiritualitas sehingga dalam konteks ini gagasan teologi berlalu lintas menarik untuk direnungkan.
Teologi berlalu lintas disepahami sebagai cara memandang aktivitas berlalu lintas bukan sekadar tindakan fisik mengendarai kendaraan, melainkan juga sebagai bentuk penghayatan iman dalam kehidupan sehari-hari. Teologi ini tidak berbicara tentang ritual keagamaan di jalan, melainkan tentang artikulasi nilai-nilai ketuhanan diterjemahkan dalam perilaku saat berada di ruang publik (M. Awal Chairuddin & Haedar Akib. Teologi Berlalu Lintas, Mata Kuliah Wajib bagi Pengguna Jalan, Tribun Bone, https://tribunboneonline.com/2026/01/20/teologi-berlalu-lintas-mata-kuliah-wajib-bagi-pengguna-jalan/). Ketika seseorang mematuhi aturan, menghormati pejalan kaki, tidak menyerobot antrean, memberi jalan kepada yang lebih membutuhkan, dan menahan emosi saat menghadapi kemacetan, maka ia sedang memperlihatkan bahwa iman tidak berhenti di tempat ibadah (masjid, gereja, pure, kuil). Iman bergerak, hadir, dan diuji di jalan raya. Dengan kata lain, jalan merupakan salah satu panggung paling jujur untuk melihat apakah ajaran moral dan spiritual benar-benar diamalkan atau hanya diucapkan.
Pada konteks ini, ke(tenang)an atau ke(sabar)an menjadi indikator penting pengamalan teologi berlalu lintas. Kata ke-tenang-an menarik karena di dalamnya ada kata “tenang”, yakni kondisi batin yang tidak mudah goyah oleh keadaan luar. Demikian pula ke-sabar-an ada kata sabar yaitu kemampuan menahan diri, menunda ledakan emosi, dan tetap memilih tindakan yang benar walaupun ada dorongan kuat untuk bertindak sebaliknya. Di jalan raya, ketenangan dan kesabaran bukan sifat pasif, melainkan keduanya justru merupakan bentuk kekuatan batin. Orang yang tenang bukan berarti lamban berkendara, demikian pula orang yang sabar bukan berarti lemah. Sebaliknya, orang-orang yang tenang dan sabar, seperti pembaca opini ini! adalah mereka yang mampu mengendalikan diri ketika situasi cenderung memancing kemarahan, kepanikan, dan kecerobohan.
Pertanyaan retorisnya, apa yang dimaksud dengan pencapaian ke(tenang)an atau sabar sebagai indikator pengamalan teologi berlalu lintas? Secara sederhana berarti bahwa kualitas spiritual seseorang dilihat dari caranya mengelola (menahan) diri ketika berhadapan dengan dinamika di jalan raya. Indikator tersebut tampak pada pilihan-pilihan kecil tetapi menentukan, tetap berhenti saat lampu merah walaupun jalan tampak sepi, tidak memotong jalur seenaknya, tidak membalas makian pengguna jalan lain dengan amarah yang lebih besar, tidak membunyikan klakson secara berlebihan, serta tidak pelit atau bersedia mengalah demi keselamatan bersama. Semua itu mungkin tampak remeh, tetapi justru di sanalah ukuran kedewasaan moral diuji. Banyak orang gagal bukan pada hal besar, melainkan pada disiplin kecil yang dianggap sepele.
Sesuai perspektif ini sabar bukan sekadar bertahan menunggu lampu hijau atau menerima macet tanpa menggerutu. Sabar lebih dalam dari itu karena mengusik kesadaran bahwa jalan raya merupakan ruang bersama, bukan wilayah pribadi, apalagi ruang menunjukkan ego karena merasa kendaraannya lebih baru atau mewah dibanding kendaraan lain. Setiap tindakan di jalan mempertimbangkan keberadaan orang lain. Pengendara yang sabar memahami dan sadar bahwa beberapa detik yang ingin dihemat tidak sebanding dengan risiko kecelakaan, konflik, atau bahkan hilangnya nyawa. Sabar menjadi wujud dari penghormatan terhadap kehidupan dan penghormatan terhadap kehidupan adalah inti dari banyak ajaran teologis.
Selanjutnya, mengapa ke(tenang)an atau perilaku sabar penting dalam teologi berlalu lintas? Jawabannya karena lalu lintas merupakan cermin moral masyarakat. Kondisi jalan raya memperlihatkan kualitas peradaban suatu komunitas. Ketika jalan dipenuhi perilaku saling serobot, melanggar, kasar, dan tidak peduli, maka itu bukan hanya masalah teknis transportasi, tetapi juga masalah moral kolektif. Jalan merupakan cerminan cara masyarakat memandang aturan, hak orang lain dan makna kebersamaan. Sebaliknya, ketika orang tertib, saling memberi ruang dan menghormati sesama pengguna jalan maka menjadi tanda nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual telah bekerja dalam kehidupan sosial.
Pencapaian ketenangan atau sabar penting karena jalan raya merupakan ruang yang sangat rawan memunculkan ego. Banyak orang merasa kendaraannya adalah perpanjangan dari dirinya. Ketika jalannya terhalang maka ia merasa harga dirinya diganggu, ketika didahului ia merasa diremehkan, atau ketika diklakson ia merasa diserang. Dari sinilah banyak konflik lalu lintas bermula, terjadi bukan karena persoalan besar, tetapi karena ego yang terlalu sensitif. Teologi berlalu lintas mengajak manusia untuk menundukkan ego itu. Mengemudi bukan ajang menunjukkan kuasa, keberanian semu, atau dominasi atas pengguna jalan lain, melainkan mengemudi merupakan latihan kerendahan hati, karena berkendara di jalan raya tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis (mengerem atau menggas), tetapi juga kedewasaan emosi.
Perilaku sabar berkendara juga penting karena keselamatan lalu lintas sangat bergantung pada kemampuan mengendalikan diri. Banyak kecelakaan bukan terjadi karena orang tidak tahu aturan melainkan karena tidak mau menahan diri, tahu lampu merah berarti berhenti tetapi menerobos, tahu kecepatan tinggi berisiko tetapi tetap memacu kendaraan, tahu bermain ponsel saat berkendara berbahaya tetapi tetap dilakukan. Jadi, akar persoalannya sering bukan pada kurangnya pengetahuan, melainkan lemahnya pengendalian diri. Dalam ajaran teologi berlalu lintas atau bahasa spiritual inilah wilayah perjuangan batin. Orang yang mampu menang atas dirinya sendiri di jalan sedang melakukan praktik iman yang konkret, bukan yang abstrak.
Sementara itu, ketenangan penting karena lalu lintas merupakan ruang interaksi anonim. Di jalan, kita bertemu banyak orang yang tidak kita kenal dan mungkin tidak akan pernah kita temui lagi. Justru karena anonim, godaan untuk tidak peduli menjadi besar, dimana orang merasa bebas berlaku kasar karena tidak ada hubungan personal. Namun, teologi berlalu lintas mengajarkan tentang martabat manusia yang tidak bergantung pada apakah dikenal atau tidak. Pejalan kaki yang tidak kita kenal tetap dihormati, pengendara lain yang lambat tetap memiliki hak yang sama untuk aman. Demikian pula pengemudi angkutan, ojek, pesepeda, anak sekolah, orang tua, bahkan hewan yang menyeberang jalan semua hadir dalam cakrawala moral yang menuntut tanggung jawab.
Ke(tenang)an atau sabar dapat diwujudkan sebagai pengamalan teologi berlalu lintas melalui beberapa langkah. Mulai dari membangun kesadaran diri bahwa berkendara sebagai aktivitas etis, karena banyak orang menganggap etika, estetika, kinestetika hanya berlaku pada situasi resmi seperti dalam rapat, kelas, kantor, rumah ibadah. Padahal berkendara merupakan tindakan moral karena selalu melibatkan keselamatan dan hak orang lain. Kesadaran ini penting agar seseorang tidak memisahkan antara iman dan perilaku di jalan, sebagaimana pernyataan M. Awal Chairuddin & Haedar Akib di Tribun Bone berjudul Ramadhan, Pengamalan Teologi Berlalu Lintas, https://tribunboneonline.com/2026/02/24/ramadhan-pengamalan-ajaran-teologi-berlalu-lintas/). Kita perlu melihat bahwa setiap keputusan saat berkendara memiliki dimensi benar-salah, bukan sekadar cepat-lambat. Selanjutnya, melatih pengendalian emosi, menjadikan aturan dan markah jalan sebagai bentuk tanggung jawab moral bukan sekadar beban hukum, menumbuhkan empati, dan memberi teladan.
***
Pencapaian ke(tenang)an atau sabar sebagai indikator pengamalan teologi berlalu lintas mengajarkan satu hal penting yaitu kualitas iman tidak cukup diukur dari seberapa fasih kita atau seseorang berbicara tentang moral, tetapi dari seberapa konsisten menghormati kehidupan dalam praktik sehari-hari di jalan karena jalan raya dipahami sebagai tempat di mana kesalehan diuji dalam bentuk yang sangat konkret. Apakah kita tetap manusiawi ketika tergesa-gesa? Apakah kita masih menghormati orang lain ketika emosi memuncak? Atau apakah kita rela menahan diri demi keselamatan bersama? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat lalu lintas tidak lagi tampak sebagai urusan biasa, melainkan sebagai arena pengamalan nilai teologis, apalagi ketika mudik dengan berkendara sambil membawa oleh-oleh yang bernilai untuk orang tua atau keluarga yang sabar menanti kedatangan kita. Semoga!









