AKHIRI KEGELAPAN, JEMPUT FAJAR KHILAFAH RASYIDAH

oleh -133 x dibaca

Penulis: Amrullah Andi Faisal, Kolumnis Publik di Sinjai

 

Selasa 3 Maret 2026, kalender sejarah kembali menunjuk pada luka yang belum mengering. 102 tahun silam, di bawah tekanan konspirasi global dan pengkhianatan internal, Khilafah Islamiyah di Turki diruntuhkan. Sejak saat itu, umat Islam yang berjumlah miliaran jiwa kehilangan perisai (al junnah), arah dan kemuliaannya. Peringatan 102 tahun ini bukan sekadar ajang nostalgia, melainkan momentum Kado Kebangkitan untuk menyatukan barisan, demi tegaknya kembali Khilafah Rasyidah ala Minhajin Nubuwah.

 

Penindasan Akibat Tiadanya Perisai

Ketiadaan Khilafah bukan sekadar masalah hilangnya struktur politik, tetapi hilangnya perlindungan atas nyawa dan kehormatan. Lihatlah Palestina hari ini. Genosida di Gaza bukan sekadar kegagalan diplomasi, namun bukti nyata bahwa tanpa kepemimpinan tunggal, umat Islam seperti buih di lautan. Lebih dari 50 negara Muslim yang memiliki jutaan tentara dan ribuan tank, hanya menjadi penonton bisu saat saudara seakidahnya dibantai. Nasionalisme telah menjadi jeruji besi yang menghalangi bantuan militer nyata mengalir ke Yerusalem.

Tidak berhenti di sana, hegemoni Barat dengan leluasa menjadikan negeri-negeri Muslim sebagai teater peperangan. Serangan-serangan udara ke wilayah berdaulat seperti Iran, Yaman dan Lebanon menunjukkan kedaulatan bangsa Muslim saat ini hanyalah ilusi. Kita terpecah belah dalam kotak-kotak kecil bernama negara bangsa, yang diciptakan penjajah melalui Perjanjian Sykes-Picot. Tujuannya hanya satu, memastikan umat Islam tidak pernah lagi menjadi kekuatan global yang disegani.

BACA JUGA:  ZAKAT FITRAH: TRADISI SUCI YANG MENYEMAI SOLIDARITAS UMAT

 

Jawaban Atas Hegemoni Global

Persatuan umat dalam bingkai Khilafah merupakan satu-satunya jawaban untuk meruntuhkan hegemoni Barat dan entitas zionis. Secara geopolitik, wilayah Islam memegang kunci jalur perdagangan dunia. Terusan Suez, Selat Hormuz dan Malaka. Tanpa Khilafah, kekayaan ini dikelola untuk kepentingan oligarki dan korporasi asing. Di bawah Khilafah, sumber daya alam ini akan dikelola sebagai milkiyyah ammah (kepemilikan umum) yang hasilnya dikembalikan untuk memperkuat militer dan kesejahteraan rakyat.

Kekuatan Ukhuwah Islamiyah yang terinstitusionalisasi akan melahirkan daya gentar yang absolut. Satu ancaman terhadap satu jengkal tanah Muslim akan dijawab dengan mobilisasi umum seluruh kekuatan umat. Inilah yang akan mengakhiri penjajahan di Palestina dan mencegah agresi-agresi liar di masa depan.

 

Rekonstruksi Ekonomi dan Kedaulatan Moneter

Kado 102 tahun ini harus memuat visi ekonomi yang konkret. Khilafah akan memutus rantai perbudakan utang melalui sistem keuangan berbasis syariah yang murni. Kita akan meninggalkan sistem fiat (uang kertas tak berharga) yang dikendalikan bank-bank sentral Barat. Kemudian kembali kepada Dinar (emas) dan Dirham (perak). Ini bukan sekadar kembali ke masa lalu, melainkan langkah paling progresif, untuk menghancurkan inflasi sistemik dan riba yang mencekik ekonomi dunia.

Dengan kemandirian moneter, Khilafah mampu membiayai proyek-proyek raksasa tanpa harus mengemis pada IMF atau Bank Dunia. Ekonomi Islam akan fokus pada sektor riil, industri berat, dan distribusi kekayaan yang merata, sehingga tidak ada lagi anak-anak Muslim yang mati kelaparan di tengah melimpahnya cadangan energi di negerinya.

BACA JUGA:  MASA DEPAN POLITIK BONE: ANDI TENRI WALINONONG (ATW) MENARI DI ANTARA STRUKTUR EKONOMI DAN SUPRASTRUKTUR BUDAYA PERSPEKTIF FILSAFAT SEJARAH MARX

 

Lonjakan Iptek dan Peradaban Islam Abad XXI

Visi Khilafah ala Minhajin Nubuwah adalah konsep kemajuan. Kita pernah memimpin dunia selama 1000 tahun dalam sains dan teknologi karena Islam mewajibkan penguasaan ilmu pengetahuan. Di masa depan, Khilafah akan mendirikan pusat-pusat riset nuklir untuk kemandirian energi, mengembangkan teknologi antariksa untuk kedaulatan informasi, dan membangun kedaulatan siber yang tidak bisa diintervensi oleh sistem intelijen asing.

Ilmu pengetahuan dalam Islam tidak berdiri sendiri. Ia dibimbing wahyu. Maka, teknologi yang dihasilkan bukan untuk memusnahkan manusia, seperti bom atom di Hiroshima atau genosida dengan kecerdasan buatan di Gaza. Tetapi untuk Rahmatan lil ‘Alamin. Kita akan melahirkan kembali Ibnu Sina, Al Khwarizmi dan Al Jazari modern yang memimpin peradaban dengan akhlak kenabian.

 

Seruan Untuk Pejuang Kebangkitan

Seratus dua tahun adalah waktu yang sudah terlalu lama bagi kita untuk berada dalam kegelapan. Janji Allah dalam Al Quran Surah An Nur ayat ke-55 dan kabar gembira dari Rasulullah Sallalahu Alayhi Wassallam tentang kembalinya Khilafah merupakan kepastian yang lebih nyata daripada terbitnya matahari esok hari.

Perjuangan mengembalikan Khilafah bukanlah perjuangan kelompok tertentu, tapi kewajiban setiap Muslim yang merindukan tegaknya hukum Allah di muka bumi. Mari kita jadikan peringatan 3 Maret 2026 sebagai titik balik. Buanglah sekat-sekat perbedaan kecil, satukan langkah dalam dakwah yang cerdas, santun, namun tegas terhadap kezaliman.

BACA JUGA:  Idul Adha: Momentum Mengendalikan Hawa Nafsu dan Memuliakan Akal

Fajar itu telah menyingsing. Mari kita jemput Khilafah Rasyidah yang akan membawa dunia keluar dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT. Allahu Akbar!

 

Rujukan Intelektual:

1.Al Mawardi, Abu al Hasan. 1996. Al Ahkam as-Sultaniyyah (Hukum-Hukum Tata Negara). Membahas kewajiban imamah/khilafah sebagai pengganti kenabian dalam menjaga agama dan mengatur dunia.

 

2.An Nabhani, Taqiuddin. 1953. Ad Dawlah al Islamiyyah. Beirut: Darul Ummah. Analisis mendalam mengenai struktur negara Islam dan bagaimana Rasulullah membangun entitas politik di Madinah.

 

3.Zallum, Abdul Qadim. 2002. Sistem Keuangan di Negara Khilafah. Rujukan teknis mengenai penggunaan emas dan perak sebagai standar mata uang dunia.

 

4.Huntington, Samuel P. 1996. The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. Simon & Schuster. Sebagai perbandingan analisis Barat yang mengakui potensi kembalinya peradaban Islam sebagai kekuatan global.

 

5.Pappé, Ilan. 2024. Lobbying for Zionism on Both Sides of the Atlantic. Memberi konteks tentang bagaimana hegemoni politik Barat bekerja untuk menekan kedaulatan dunia Islam.

 

6.HR Ahmad (Nomor 18430). “Akan ada masa Kenabian… kemudian masa Khilafah yang mengikuti jalan Kenabian.” (Landasan teologis utama bagi keyakinan akan kembalinya Khilafah).

 

7.Al Ghazali, Abu Hamid. Al Iqtisad fi al I’tiqad. Menjelaskan hubungan tak terpisahkan antara kekuasaan politik/Sultan dan agama: “Agama adalah pondasi, kekuasaan adalah penjaga”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.