Dari Kamar Basecamp yang Sempit, Aku Menggugat Negara”

oleh -221 x dibaca
Andi Khaerul Amri

Oleh: Andi Khaerul Amri, Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta (Ketua Komisariat PMII Kebayaoran Lama Cabang Jakarta Selatan)

 

Tulisan ini untuk para pemegang kuasa yang masih nyaman menikmati uang rakyat tapi lupa bahwa amanah bukan warisan, dan untuk sahabat-sahabatku yang mulai tertidur dalam singgasana kenyamanan.

Bangun, negeri ini tidak sedang baik-baik saja. Di malam sunyi yang berselimut dingin, di kamar basecamp yang tak begitu luas namun sering melahirkan mimpi-mimpi besar, aku terjaga bersama sahabatku memikirkan keadaan negeri ini.

Dindingnya sederhana, lampunya redup, angin masuk pelan dari celah jendela.

Ruang sempit itu mungkin tak lebih dari beberapa langkah, tetapi di sanalah pikiran berkelana tanpa batas. Dari sudut kamar itulah layar ponsel menyala, menampilkan berita demi berita yang membuat dada terasa sesak. Ironis dan menyakitkan. Tentang negaraku yang katanya berdiri di atas hukum, tetapi berulang kali menyisakan luka di tubuh rakyatnya sendiri.

BACA JUGA:  REKSA DANA SYARIAH: PILIHAN INVESTASI AMAN, MURAH, DAN MUDAH

Nama institusi disebut. Narasi lama diputar kembali. Ketika aparat di bawah Kepolisian Negara Republik Indonesia terseret dalam kasus yang menghilangkan nyawa warga, publik  kembali d isuguhi istilah oknum. Seolah-olah masalah selesai hanya dengan satu kata. Padahal yang berulang bukan hanya individu, melainkan pola. Pola kekuasaan yang terlalu sering kebal dari evaluasi. Jika hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, maka yang terkikis bukan hanya kepercayaan, tetapi harga diri negara itu sendiri.

Belum selesai kegelisahan itu, muncul ironi lain bernama program Makan Bergizi Gratis. Program yang seharusnya menghadirkan harapan justru menyisakan luka. Dalam periode 1 sampai 13 Januari 2026, JPPI mencatat sebanyak 1.242 orang diduga menjadi korban keracunan MBG. Bahkan menurut perhitungan BBC, sepanjang Januari jumlahnya mencapai

BACA JUGA:  KURBAN : MENGUJI KETAQWAAN DI TENGAH EFESIENSI

1.929 orang. Hampir dua ribu korban dalam satu bulan.

Angka-angka itu terasa semakin dingin ketika dibaca dalam kamar kecil ini. Apakah ini benar solusi, atau sekadar proyek besar yang lalai menjaga kualitas. Apakah ini kebijakan untuk rakyat, atau kemasan baru dari problem lama bernama pengabaian dan kelalaian.

Di kamar kos yang sempit ini, kesadaran terasa lebih luas dari ruangnya. Dan justru dari ruang sederhana inilah nurani dipaksa bangun. Mahasiswa tidak boleh ikut terbiasa. Kita bukan generasi yang di tidurkan. Diam bukan netral, diam adalah izin. Jika kebijakan melukai rakyat, kita wajib bersuara. Jika kekuasaan menyimpang, kita wajib mengingatkan. Karenasejarah tak pernah lahir dari kenyamanan, melainkan dari kegelisahan yang dirawat dengan keberanian.

BACA JUGA:  SUKSESI KEPALA DAERAH DALAM PERSPEKTIF AKADEMISI DAN AGAMA

Suara Tidak Bisa Dipenjara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.