Tanpa Kemewahan, Penuh Kehangatan: Imlek di Bone Jadi Simbol Persaudaraan

oleh -96 x dibaca

BONE, TRIBUNBONEONLINE.COM– Suasana penuh keakraban terasa di Vihara Dharma Palakka pada Selasa, 17 Februari 2026, saat marga Tionghoa di Kabupaten Bone merayakan Tahun Baru Imlek secara sederhana namun sarat makna. Perayaan berlangsung khidmat, diawali dengan doa bersama yang kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah antarsesama warga Tionghoa dari berbagai latar belakang agama.

Tidak ada kemewahan berlebihan. Justru kesederhanaan menjadi warna utama perayaan tahun ini. Kebersamaan, rasa syukur, dan persaudaraan menjadi semangat yang menyatukan seluruh peserta yang hadir.

Pada tahun 2026, Tahun Baru Imlek jatuh pada 17 Februari dan menandai Tahun 2577 Kongzili. Dalam tradisi Tionghoa, Imlek memiliki makna yang serupa dengan pergantian tahun pada 1 Januari dalam kalender Gregorian maupun 1 Muharram dalam kalender Hijriah sebuah momentum refleksi dan harapan baru.

BACA JUGA:  Bupati Sinjai Dukung Sensus Ekonomi, Harap Data Akurat Dukung Pembangunan Daerah

Dalam pandangan kalender tradisional Tionghoa, pergantian tahun tidak sekadar perubahan angka, tetapi juga pertemuan simbol-simbol kosmologis yang diyakini membawa karakter tertentu bagi perjalanan waktu. Tahun ini menandai berakhirnya Tahun Ular Kayu dan dimulainya Tahun Kuda Api, kombinasi yang terakhir kali muncul pada tahun 1966 dalam siklus kalender Tionghoa selama 60 tahun.

Pergantian tahun tersebut juga berdekatan dengan sejumlah fenomena alam dan momentum keagamaan lain, termasuk fenomena gerhana matahari cincin api yang terjadi pada periode serupa, serta awal Ramadan 1447 Hijriah yang diperkirakan tidak jauh dari perayaan Imlek. Hal ini semakin memperkaya nuansa keberagaman dan kebersamaan di tengah masyarakat.

BACA JUGA:  Asmar Sulhadi Putra Bupati Bone Lulus dari SMA Taruna, Semangat Anak Daerah Ukir Prestasi Nasional

Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Kabupaten Bone, Hakim Lewa, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh warga yang telah ikut berpartisipasi menyiapkan berbagai hidangan dan sajian dalam perayaan tersebut.

Menurutnya, Imlek bukanlah perayaan yang terbatas pada aspek keagamaan, melainkan tradisi budaya yang dapat dirayakan oleh seluruh masyarakat Tionghoa, apapun agama yang dianutnya.

“Perayaan tahun Imlek bukan perayaan keagamaan. Ini adalah tradisi dari Tiongkok. Agama apa pun dia, asalkan dia Tionghoa, bisa merayakan Imlek,” ungkapnya.

Ia pun berharap momentum Tahun Kuda Api membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat. Harapan akan kesehatan, rezeki yang melimpah, serta kesuksesan menjadi doa yang mengiringi perayaan tahun ini.

BACA JUGA:  Bone Wujudkan Pertanian Modern

Di tengah suasana hangat dan sederhana itu, Imlek di Bone bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi ruang pertemuan nilai-nilai budaya, toleransi, dan persaudaraan yang terus hidup di tengah keberagaman masyarakat. (Ag)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.