Oleh : Affandy S,Sos Wartawan TribunBone
Dalam kehidupan sehari-hari, cinta sering dipahami sebatas perasaan. Padahal, dalam perspektif ilmu komunikasi, cinta adalah pesan yang harus disampaikan, diterima, dan dimaknai. Tanpa komunikasi, cinta mudah salah tafsir; tanpa empati, pesan cinta kehilangan maknanya.
Ilmu komunikasi memandang interaksi manusia sebagai proses pertukaran simbol. Kata-kata, gestur, intonasi suara, hingga diam, semuanya adalah simbol yang mengandung pesan. Di sinilah cinta bekerja. Ia tidak hanya hadir dalam ungkapan verbal seperti “aku sayang kamu”, tetapi juga dalam tindakan sederhana: mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memberi waktu, atau sekadar hadir di saat dibutuhkan.
Konsep ini sejalan dengan teori komunikasi interpersonal yang menekankan pentingnya umpan balik (feedback). Cinta yang dikomunikasikan tanpa memperhatikan respon penerima berpotensi menjadi komunikasi satu arah. Seseorang mungkin merasa telah memberi cinta, namun pihak lain tidak merasakannya. Maka, cinta perlu dikomunikasikan dengan memahami bagaimana lawan bicara menerima dan memaknainya.
Dalam konteks ini, gagasan tentang bahasa cinta menjadi relevan. Setiap individu memiliki preferensi cara menerima kasih sayang—ada yang merasa dicintai melalui kata-kata, ada pula melalui perhatian, bantuan, atau sentuhan. Ilmu komunikasi menyebutnya sebagai perbedaan latar belakang pengalaman, nilai, dan kebutuhan yang memengaruhi proses decoding pesan.
Masalah muncul ketika pengirim dan penerima pesan berada pada frekuensi yang berbeda. Cinta yang disampaikan dengan niat baik bisa terasa dingin, bahkan menyakitkan, jika tidak sesuai dengan bahasa yang dipahami penerima. Inilah yang kerap memicu konflik dalam relasi personal, keluarga, maupun sosial.
Lebih jauh, komunikasi cinta menuntut empati. Empati adalah kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain, memahami perasaannya, dan merespons secara manusiawi. Dalam ilmu komunikasi, empati menjadi kunci efektivitas pesan, karena ia menjembatani perbedaan persepsi dan emosi.
Pada akhirnya, bahasa cinta bukanlah tentang seberapa banyak kata yang diucapkan, melainkan seberapa dalam pesan itu dipahami. Cinta yang dikomunikasikan dengan empati, kesadaran, dan keterbukaan akan membangun relasi yang sehat dan bermakna. Dalam perspektif ilmu komunikasi, mencintai berarti belajar menyampaikan pesan dengan cara yang dapat diterima, dipahami, dan dirasakan oleh orang lain.
Cinta Dalam Ruang Kehidupan Kita Sebagai Manusia
Cinta bukan hanya perasaan, melainkan cara manusia hadir dalam kehidupan bersama. Ia tercermin dalam bahasa yang dipilih, sikap yang ditunjukkan, dan empati yang diberikan kepada sesama. Dalam ruang kehidupan sehari-hari, cinta bekerja melalui hal-hal sederhana: mendengarkan, menghargai, dan memperlakukan orang lain secara manusiawi.
Di tengah rutinitas dan tekanan hidup, cinta sering diuji. Namun justru dalam keterbatasan itulah cinta menemukan maknanya. Ketika seseorang memilih bersikap ramah di tengah kepadatan, atau tetap adil di tengah tekanan, ia sedang mempraktikkan cinta dalam bentuk yang paling nyata.
Pada akhirnya, cinta dalam ruang kehidupan kita sebagai manusia adalah kesadaran untuk menjaga martabat sesama. Ia tidak menuntut kesempurnaan, hanya kehadiran yang tulus dan komunikasi yang berempati. Di situlah cinta hidup dan memberi arti pada kehidupan bersama.






