LAPPARIAJA, TRIBUNBONEONLINE.COM– Musim panen sukun membawa suasana berbeda di sejumlah wilayah Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone. Buah yang biasanya hanya terlihat sesekali di pekarangan rumah warga, kini melimpah dan ramai dijajakan, bahkan di depan rumah-rumah penduduk.
Kecamatan Lappariaja yang berada di wilayah Bone bagian barat dikenal memiliki kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan tanaman sukun. Kabupaten Bone sendiri memiliki wilayah yang luas dengan karakteristik geografis yang beragam, baik di bagian selatan, utara, maupun barat. Sukun dikenal sebagai tanaman yang adaptif, mampu tumbuh di berbagai kondisi lahan dan lingkungan, sehingga memberi peluang pengembangan di banyak kawasan. Saat ini, budidaya sukun memang lebih banyak dijumpai di Bone bagian barat, namun tanaman ini berpotensi dikembangkan secara lebih luas di wilayah lainnya.
Di wilayah Kampung Baru, Dusun Salosawae, Desa Patangkai, sukun tidak hanya tumbuh sebagai tanaman pekarangan, tetapi lebih banyak dibudidayakan secara khusus di kebun-kebun warga, sehingga hasil panennya relatif melimpah saat musim tiba.
Masyarakat setempat membudidayakan dua jenis sukun, yakni sukun biasa dan sukun kambesi, yaitu sukun yang dibungkus saat proses pertumbuhan buah untuk menjaga kualitas dan hasil panen. Kedua jenis sukun ini menjadi andalan warga karena mudah tumbuh dan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Pemilik pohon sukun yang juga dikenal sebagai pemerhati sepak bola, Iwan Parebba, menuturkan bahwa tanaman sukun tergolong mudah dibudidayakan dan tidak memerlukan perawatan khusus.
“Biasanya sukun berbuah satu kali dalam setahun, bahkan kadang bisa dua kali. Kalau bukan musimnya, buahnya memang tidak banyak. Musim sukun mulai berbuah rutin saat memasuki bulan Oktober,” tutur Iwan Parebba, Rabu (14/1/2026).
Selain dijual dalam bentuk buah segar, sebagian warga juga mulai mengolah sukun menjadi berbagai makanan, seperti gorengan hingga keripik. Meski demikian, hingga kini belum terdapat UMKM yang secara khusus mengelola sukun sebagai produk olahan unggulan, sehingga potensi ekonomi dari komoditas ini dinilai masih terbuka lebar.
Dengan produksi yang relatif melimpah serta kemudahan dalam budidaya, sukun di Kabupaten Bone memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai komoditas pangan alternatif sekaligus identitas unggulan daerah. Saat ini, pengembangan sukun memang lebih banyak dijumpai di wilayah Bone bagian barat, seperti Kecamatan Lappariaja, Bengo, dan Ulaweng. Namun, dengan karakter tanaman yang adaptif dan mudah tumbuh, sukun juga berpeluang dikembangkan di wilayah Bone bagian utara maupun selatan.
Selain bernilai ekonomi, pohon sukun juga memberikan manfaat ekologis bagi kehidupan manusia. Pohonnya yang besar dan rimbun berfungsi sebagai penghasil oksigen, peneduh alami, serta membantu menjaga keseimbangan lingkungan. Akar pohon sukun juga mampu menahan erosi tanah, sehingga baik untuk konservasi lahan di kawasan pedesaan.
Penulis : Affandy








