Bentangan Penggunaan Metode Keteladanan pada PAI (Pembelajaran Pendidikan Agama Islam) di Sekolah sebagai Wujud Pembentukan Kesadaran Spiritual dan Moral Peserta Didik

oleh -374 x dibaca
Dr. Usman, S.Ag., M.Pd

Oleh : Dr. Usman, S.Ag., M.Pd, Dosen Prodi PAI FTK UINAM, Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

 

PEMBELAJARAN Pendidikan Agama Islam (PAI) pada hakikatnya tidak hanya bertujuan mentransmisikan pengetahuan keagamaan, tetapi membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak peserta didik sesuai nilai-nilai Islam. Dalam konteks pendidikan kontemporer, tujuan ini menghadapi tantangan serius.

 

Realitas sosial menunjukkan adanya jarak yang semakin lebar antara pemahaman agama dan perilaku nyata, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Fenomena ini menandakan bahwa pembelajaran PAI yang selama ini dilakukan sepertinya berorientasi pada ranah kognitif semata, belum cukup efektif dalam menumbuhkan kesadaran moral dan spiritual peserta didik.

 

Salah satu persoalan mendasar dalam pembelajaran PAI adalah kecenderungan pendekatan verbalistik, di mana nilai-nilai agama disampaikan melalui ceramah, hafalan, dan penilaian tertulis, sementara aspek keteladanan kurang mendapat perhatian sistematis. Padahal, pendidikan nilai pada dasarnya merupakan proses internalisasi yang sangat bergantung pada contoh nyata. Peserta didik tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan guru, tetapi terutama dari apa yang dilakukan guru dalam keseharian. Pada titik inilah metode keteladanan menjadi relevan dan strategis untuk dikembangkan secara terencana.

BACA JUGA:  Lingkungan Dijaga oleh Penghuni yang Akan Datang

 

Metode keteladanan memiliki landasan kuat baik secara pedagogis maupun normatif dalam pendidikan Islam. Dalam perspektif pedagogik, belajar melalui observasi dan imitasi merupakan mekanisme dasar pembentukan perilaku.

 

Sementara dalam tradisi Islam, konsep uswah hasanah menegaskan bahwa keteladanan merupakan sarana utama dalam menyampaikan nilai. Ajaran agama menjadi bermakna ketika diwujudkan dalam perilaku konkret yang dapat dilihat, dirasakan, dan ditiru.

 

Penggunaan metode keteladanan dalam pembelajaran PAI perlu dipahami sebagai desain pembelajaran yang disengaja, bukan sekadar sikap personal guru. Guru PAI idealnya ditempatkan sebagai figur sentral pembawa nilai, bukan hanya sebagai pengajar materi. Peran ini menuntut konsistensi antara ucapan dan tindakan, integritas dalam penilaian, kedisiplinan dalam menjalankan tugas, serta kepekaan etis dalam berinteraksi dengan peserta didik. Keteladanan semacam ini membentuk pesan pendidikan yang jauh lebih kuat daripada penjelasan normatif semata, melalui materi pembelajaran.

 

Pada tataran desain pembelajaran, metode keteladanan perlu diintegrasikan sejak tahap perencanaan. Tujuan pembelajaran PAI tidak hanya dirumuskan dalam bentuk capaian kognitif, tetapi juga capaian sikap dan perilaku. Materi ajar dirancang untuk membuka ruang refleksi dan praktik nilai, sementara strategi pembelajaran memberi kesempatan bagi peserta didik untuk mengamati dan meniru perilaku positif yang ditampilkan guru. Dalam konteks ini, kelas bukan sekadar ruang transfer pengetahuan, melainkan ruang pembiasaan nilai.

BACA JUGA:  Mendorong Kepala Desa Ciptakan Desa Mandiri Fiskal: Butuh Peran Strategi Operasional Bupati

Implementasi metode keteladanan juga menuntut pendekatan kontekstual. Nilai-nilai PAI perlu dikaitkan dengan situasi nyata yang dihadapi peserta didik, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Keteladanan guru berfungsi sebagai penghubung antara ajaran normatif dan realitas sosial. Ketika guru menunjukkan sikap jujur, adil, dan bertanggung jawab dalam situasi konkret, peserta didik memperoleh gambaran langsung tentang bagaimana nilai agama dioperasionalkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Lebih jauh, rancang bangun penggunaan metode keteladanan tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan lingkungan sekolah. Keteladanan guru PAI akan kehilangan daya pengaruhnya apabila nilai yang ditampilkan tidak sejalan dengan budaya sekolah secara keseluruhan.

 

Oleh karena itu, penguatan metode keteladanan perlu melibatkan kepala sekolah, tenaga kependidikan, serta kebijakan sekolah yang mencerminkan nilai-nilai moral dan religius. Sekolah harus berfungsi sebagai ekosistem nilai yang konsisten, sehingga peserta didik mengalami keselarasan pesan di berbagai ruang pendidikan.

 

Dari sisi evaluasi, keberhasilan metode keteladanan tidak selalu dapat diukur secara instan melalui instrumen tes. Dampaknya lebih bersifat jangka panjang dan tercermin dalam perubahan sikap, kebiasaan, serta cara peserta didik mengambil keputusan moral.

BACA JUGA:  “Ayam Jantan dari Timur” Wujud Artikulasi Simbolik Pemimpin Jempolan

 

Oleh sebab itu, evaluasi pembelajaran PAI perlu dilengkapi dengan observasi perilaku, refleksi diri, dan penilaian proses yang memberi perhatian pada perkembangan karakter peserta didik.

Dalam konteks yang lebih luas, rancang bangun berupa penggunaan metode keteladanan dalam pembelajaran PAI memiliki implikasi strategis bagi pembangunan karakter bangsa. Pendidikan agama yang berbasis keteladanan berpotensi melahirkan generasi yang tidak hanya memahami nilai-nilai agama secara konseptual, tetapi mampu menghidupinya dalam praktik sosial. Di tengah krisis figur panutan dan meningkatnya kompleksitas persoalan moral, sekolah memiliki peran penting dalam menghadirkan teladan yang kredibel dan konsisten.

 

Pada akhirnya, penguatan metode keteladanan menegaskan kembali esensi pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Pembelajaran PAI yang dirancang secara sadar melalui keteladanan bukan sekadar alternatif pedagogis, melainkan kebutuhan mendesak. Dari ruang kelas yang sarat keteladanan, pendidikan agama menemukan kembali maknanya sebagai sarana pembentukan karakter yang hidup, relevan, dan berkelanjutan.

Terima kasih, Allahu a’lam bissawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.