Dilaunching Buku Tari Pajaga Welado di UNCAPI Bone

oleh -488 x dibaca

WATAMPONE, TRIBUNBONEONLINE.COM–Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Sulawesi Selatan dan Tenggara menunjuk Dosen Muda Universitas Cahaya Prima yakni Muhammad Asdar dan Tim, untuk melaksanakan penelitian dengan skema peneltian Dokumentasi Karya Budaya dengan nama Kegiatan Fasilitas Pemajuan Kebudayaan (FPK).

Muhammad Asdar, Feby Triady dkk., mengangkat judul “Jejak Sakral dalam Gerak Tari Pajaga Welado : Eksplorasi Simbolisme dan Warisan Budaya”. Penelitiannya dilakukan selama kurang lebih lima bulan di Kecamatan Ajangale dan merangkum hasilnya dengan menerbitkan Buku Referensi. Buku ini dibuat dalam 140 Halaman dengan Penulis Muhammad Asdar dan Feby Triadi.

Buku ini di Launching pada Rabu (6/11/25) pukul 11.00 Wita di Kampus Universitas Cahaya Prima Lt 2. Dibuka langsung oleh Rektor UNCAPI Prof. Dr Dra Hj Andi Cahaya, M.Si didampingi Dekan Fakultas Sains dan Teknologi. Terlihat hadir pada kursi Panelis Kadis Kebudayaan, Kadis Pariwisata dan yang mewakili Kepala Balitbangda Kab. Bone.

BACA JUGA:  Kelompok Kerja Kepala Sekolah Kecamatan Tanete Riattang Timur Gelar Rapat Koordinasi

 

Pada deretan audience terlihat deretan Badan Eksekutif Mahasiswa UNCAPI, BEM Fakultas Saintek dan Soshum, dan Seluruh Himpinan Mahasiswa Program Studi yang ada di UNCAPI, berikut beberapa kolompok muda peneliti budaya juga ikut hadir sebagai peserta.

Dalam sambutannya, Rektor Uncapi menyampaikan rasa bangga dengan Dosen Muda yang senantiasa berkarya dan berkolaborasi, bahkan mendukung pemerintah terkhusus Pemerintah Kabupaten Bone.

“Izin Ibu Kadis Kebudayaan dan Pak Kadis Pariwisata dan Kepala Balitbangda, mereka ini Dosen Muda kami yang sedikit memberi karya, dan kami ucapkan terima kasih selama ini memberi arahan dan rekomendasi kepada mereka untuk bisa berkompetisi di Tingkat Nasional terkhusus di kegiatan ini, yang di support langsung oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Sulawesi Selatan dan Tenggara,” tutur Andi Cahaya.

Suasana Launching Buku ini terpantau sangat interaktif, Kadis Kebudayaan dan Kadis Pariwisata berulang melempar pertanyaan ke penulis bukunya sebagai bagaian dari konfirmasi atas hasil temuan penelitiannya.

BACA JUGA:  MI Arrahman Pajekko Laksanakan Asesmen Akhir Semester Ganjil

Muhammad Asdar menjawab dengan baik dan saksama atas beberapa pertanyaan dengan melampirkan data hasil penelitian termasuk dokumentasi visual maupun audio, termasuk proses wawancaranya. Salah satu yang diminta penjelasannya oleh Kadis Kebudayaan adalah durasi waktu Tari Pajaga Welado ini yang dianggap lama untuk konteks pementasan, dan ada penamaan yang baru diketahui oleh Kadis Pariwisata untuk penamaan Arung Palakka pada gambar dalam buku.

“Untuk durasi waktu tari ini memang agak lama, dan jika dilihat dari kacamata penikmat tari memang agak membosankan, namun dari hasil temuan penelitian kami durasinya memang lebih dari 30 menit dan sangat dipertahankan originalitasnya oleh pawaris tarian ini, karena ada makna dalam setiap gerakannya, bahkan setiap nada dalam iringan musiknya. Tari ini mulai agak langka karena hanya dibolehkan untuk dilakukan oleh pewaris tari ini saja, atau yang punya garis turunan dari penggiat tari pajaga welado ini,” jawab Asdar dalam sesi tanya jawab yang bertindak sebagai pemapar buku.

BACA JUGA:  Kenakan Baju Adat Bugis, Guru MTsN 3 Bone Semarakkan HJB 693

Feby Triadi sebagai anggota peneliti yang juga terlibat dalam penulisan buku menyampaikan statemen. “Izin Bapak Ibu dan teman-teman sekalian, kami menulis buku ini adalah bagian dari luaran penelitian kami, dimana kami bertindak sebagai peneliti dan bukan budayawan. Karena ada sedikit irisan Budayawan dan Peneliti Budaya, yakni Budayawan akan menerjemahkan defenisi dan peneliti budaya menangkap dari hasil terjemahannya. Semoga buku ini bisa menjadi manfaat untuk kita semua dan bagian dari menjaga salah satu warisan budaya tak benda kita yang diakui oleh negara sejak tahun 2023 yakni Tari Pajaga Welado,” tutup Feby Triadi, Peneliti Budaya, alumni Antropologi UGM yang juga aktif sebagai Kepala Lembaga Inovasi dan Kekaryaan Universitas Cahaya Prima. (*/dar)

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.