Oleh: Hamri, SE, ME, Ketua Program Studi Kewirausahaan Institut Teknologi dan Bisnis Arung Palakka
________________________________________
FENOMENA pertukaran hampers pada momen berbuka puasa telah mengalami perubahan signifikan, dari sekadar wujud silaturahim menjadi simbol status yang diperkuat oleh media sosial. Kajian ini menelaah bagaimana fenomena ini tidak hanya berdampak pada relasi sosial, tetapi juga memiliki implikasi ekonomi yang dapat mendorong pengembangan UMKM serta memperkuat kemandirian ekonomi kerakyatan. Dengan menyoroti aspek sosial, ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan, artikel ini berupaya mengidentifikasi peluang yang dapat mengubah tren konsumtif menjadi strategi pemberdayaan ekonomi yang lebih inklusif dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat.
1. Pendahuluan
Ramadan bukan hanya bulan suci bagi umat Islam, tetapi juga momen yang mempererat hubungan sosial. Tradisi berbuka puasa bersama (bukber) dan pertukaran hampers semakin berkembang seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Namun, di era digital, tradisi ini mengalami pergeseran makna. Hampers yang dulu berfungsi sebagai simbol silaturahim kini berpotensi menjadi ajang pamer di media sosial, didorong oleh tren “instagrammable” dan fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Lalu, apakah tradisi ini benar-benar hanya sebatas konsumsi semata, atau justru bisa dimanfaatkan sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat?
2. Pertukaran Hampers dan Peran Media Sosial
2.1 Transformasi Budaya Silaturahim
Secara historis, pengiriman makanan dan bingkisan telah menjadi bagian dari budaya Islam, baik dalam bentuk parcel Lebaran maupun bingkisan berbuka puasa. Hampers modern adalah evolusi dari tradisi ini, yang kini didorong oleh estetika dan ekspektasi sosial. Media sosial mempercepat perubahan ini dengan menetapkan standar estetika tertentu, sehingga makna silaturahim terkadang tergantikan oleh kepentingan pencitraan.
2.2 Media Sosial dan Standarisasi Tren Berdasarkan data APJII (2023), 73% penduduk Indonesia aktif di media sosial, dengan lonjakan signifikan pada konten bertema Ramadan. Tagar seperti #HampersKekinian dan #BukberHitz mengumpulkan jutaan unggahan, menunjukkan bahwa ekspektasi sosial terhadap hampers kini semakin tinggi. Hal ini memicu tekanan bagi individu untuk mengikuti tren, menciptakan budaya konsumsi yang tidak selalu selaras dengan nilai-nilai silaturahim yang sesungguhnya.
3. Korelasi dengan Pengembangan UMKM dan Kemandirian Ekonomi
3.1 Peluang Ekonomi dan Pasar bagi UMKM
Industri hampers di Indonesia tumbuh sekitar 30% per tahun (Kemenperin, 2023), menciptakan peluang besar bagi UMKM untuk memasuki rantai pasokan hampers. Para pelaku UMKM dapat berkontribusi melalui produksi makanan lokal, kemasan ramah lingkungan, hingga produk berbasis kearifan lokal. Dengan meningkatnya permintaan, hampers dapat menjadi platform strategis untuk meningkatkan daya saing UMKM serta memperkuat ekonomi nasional berbasis komunitas.
3.2 Inovasi Produk dan Diferensiasi Pasar
Tren hampers “instagrammable” tidak hanya memicu konsumsi berlebihan, tetapi juga dapat mendorong inovasi. UMKM yang mampu memadukan unsur estetika dan keunikan lokal dapat bersaing dengan brand besar. Hal ini membuka ruang bagi diversifikasi produk, di mana konsumen dapat memilih hampers berbasis produk lokal berkualitas dibandingkan dengan produk komersial massal.
3.3 Dampak pada Kemandirian Ekonomi Kerakyatan
Dengan mengedepankan produk UMKM, masyarakat dapat mengurangi ketergantungan pada barang impor serta memperkuat distribusi ekonomi secara lebih merata. Hampers berbasis UMKM bukan hanya sekadar produk konsumtif, tetapi juga instrumen dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, serta memperkuat ekonomi berbasis komunitas.
4. Implikasi Sosial, Ekonomi, dan Keberlanjutan Lingkungan
4.1 Kesenjangan Sosial dan Relasi Semu
Psikolog sosial menyoroti bahwa tekanan sosial akibat tren hampers mewah dapat menciptakan hierarki sosial dalam pertemanan. Studi UI (2022) menunjukkan bahwa 40% partisipan lebih fokus memotret hampers mereka daripada menikmati interaksi sosial saat berbuka puasa. Fenomena ini menunjukkan bahwa makna silaturahim dapat terfragmentasi akibat tekanan konsumtif.
4.2 Dilema Ekonomi dan Lingkungan
Meskipun industri hampers memberikan peluang bagi UMKM, dampaknya terhadap lingkungan tidak dapat diabaikan. Greenpeace Indonesia mencatat peningkatan sampah plastik hingga 40% selama Ramadan, sebagian besar berasal dari kemasan hampers sekali pakai. Oleh karena itu, strategi produksi yang berkelanjutan harus menjadi bagian dari solusi agar tren hampers tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga ramah lingkungan.
5. Upaya Menyeimbangkan Tradisi dan Keberlanjutan
5.1 Pendekatan Berbasis Komunitas
Inisiatif seperti “Bukber Tanpa Hampers” yang muncul di Yogyakarta menunjukkan bahwa kesadaran terhadap esensi berbagi masih dapat diperkuat. Alih-alih mengedepankan hampers mahal, komunitas ini menekankan pentingnya berbagi makanan rumah sebagai bentuk silaturahim yang lebih otentik.
5.2 Optimalisasi UMKM melalui Kampanye Berkelanjutan
UMKM dapat mengadopsi model bisnis berbasis keberlanjutan dengan mempromosikan hampers ramah lingkungan, seperti penggunaan kemasan daur ulang atau produk organik. Dengan demikian, hampers tidak hanya menjadi simbol silaturahim, tetapi juga mencerminkan nilai keberlanjutan yang lebih luas.
6. Kesimpulan
Pertukaran hampers saat berbuka puasa memiliki dimensi yang kompleks: di satu sisi mempermudah silaturahim, di sisi lain berpotensi melahirkan budaya konsumtif yang tidak berkelanjutan. Namun, dengan pendekatan yang tepat, fenomena ini dapat dimanfaatkan sebagai instrumen penguatan ekonomi kerakyatan. Dengan memberdayakan UMKM, mendorong inovasi berbasis lokal, serta mengadopsi praktik ramah lingkungan, tren hampers dapat diubah menjadi strategi ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan membawa manfaat bagi kemaslahatan umat.