“Learning To Do”, Mengokohkan (2/4) Pilar Pendidikan Dunia

oleh -45 x dibaca
Prof. Dr. Haedar Akib - Associate Prof. Dr. Patahuddin

Oleh:

Prof. Dr. Haedar Akib, Anggota Senat Akademik Universitas Negeri Makassar (UNM), Tim Leader Manajemen Program BERMUTU (Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading) Indonesia Timur (2008-2012).

Associate Prof. Dr. Patahuddin, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNM, Alumni Program Doktor Bidang Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta.

 

 

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) selalu mengajak anak bangsa untuk kembali menakar arah pendidikan karena pendidikan (secara sempit persekolahan) tidak boleh hanya sebagai kegiatan rutin di ruang kelas, sekadar penyampaian materi ajar, pengisian daftar hadir, penyelesaian kurikulum, pelaksanaan ujian. Pendidikan merupakan proses pembentukan manusia yang mengetahui, mampu melakukan, sanggup hidup bersama, dan menjadi pribadi yang utuh. Setelah Learning to Know (L2K) yang mengajarkan manusia untuk memahami dunia melalui pengetahuan, Learning to Do yang disingkat L2D mengajak kita (manusia) untuk mengubah pengetahuan menjadi tindakan, keterampilan, karya inovasi yang bernilai tambah atau berdampak sebagai bentuk kontribusi nyata dari dimensi praktis pendidikan. Pengetahuan yang tidak berubah menjadi tindakan menjadi wacana sedangkan ilmu yang tidak melahirkan keterampilan berhenti sebagai hafalan. Demikian halnya institusi pendidikan (sekolah dan kampus) yang hanya mengajarkan teori tanpa memberi ruang praktik melahirkan lulusan yang tahu banyak, tetapi belum tentu mampu berbuat banyak. Oleh karena itu, L2D merupakan salah satu dari empat pilar penting pendidikan dunia yang memampukan manusia berkreasi, bekerja, berkarya (beramal), memecahkan masalah, dan beradaptasi agar dapat memberi manfaat bagi kehidupan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

***

Learning to Do (L2D) secara sederhana berarti belajar untuk melakukan, berkarya, dan memecahkan masalah. Makna dari tiga kata kunci L2D tersebut tidak boleh dipersempit hanya sebagai kemampuan bekerja secara teknis dimana peserta didik mampu mengoperasikan alat, menyelesaikan tugas, atau mengikuti prosedur, melainkan pula menunjukkan kemampuan menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni (IPTEKS) dalam situasi nyata, menghubungkan teori dengan praktik, mengubah ide menjadi karya inovatif yang bernilai atau berdampak, dan menghadapi persoalan kehidupan dengan keterampilan yang relevan (life skill).

Dalam pendidikan, sering kali terdapat kesenjangan antara apa yang dipelajari dan apa yang dibutuhkan pada universitas kehidupan. Peserta didik belajar rumus tetapi tidak tahu penggunaannya, mahasiswa mempelajari teori organisasi tetapi tidak pernah dilatih mengelola konflik dalam tim. Anak didik menghafal konsep kewirausahaan tetapi tidak pernah mencoba merancang produk sederhana. Mahasiswa menguasai kompetensi dasar matematika – tambah (+), kali (x), kurang (-), bagi (÷) tetapi tidak terbiasa “berbagi”, “pelit” atau “efisien”. Demikian pula mereka memahami definisi dan etika komunikasi yang efektif tetapi gagap dan kurang etis (kurang beradab) ketika berbicara di depan orang tua, guru atau publik. L2D (belajar untuk melakukan) ini merupakan pengingat pendidikan yang mengurangi jarak antara ruang kelas dan kehidupan nyata.

BACA JUGA:  MENJALIN SILATURAHMI, MENGGAPAI BERKAH DAN RIDHA ILAHI

Belajar untuk melakukan berarti belajar melalui pengalaman dimana peserta didik tidak hanya mendengar penjelasan guru, melainkan pula mencoba, berlatih, gagal, memperbaiki, dan mencoba kembali karena melalui proses itulah keterampilan terasah. Seorang anak tidak akan pandai menulis hanya dengan mendengar teori menulis melainkan harus menulis, seperti halnya praktek baik guru atau dosen yang menyuruh anak didiknya ”menulis tangan” jawaban soal essay. Mahasiswa tidak mahir meneliti hanya dengan menghafal metodologi atau metode penelitian, melainkan perlu mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, menganalisis, dan menulis laporan. Demikian pula, seorang calon guru atau dosen tidak akan menjadi pendidik yang baik hanya dengan membaca teori pedagogik melainkan harus masuk kelas, berinteraksi dengan peserta didik, dan belajar dari pengalaman mengajar. Dengan demikian, L2D bukan sekadar pilar keterampilan, melainkan pilar keberanian bertindak dalam melatih diri dan orang lain untuk tidak berhenti pada ungkapan “saya tahu”, tetapi bergerak menuju “saya mampu melakukan”. L2D mengubah pendidikan dari kebiasaan pasif menjadi proses yang produktif, aktif, inovatif, efektif, menyenangkan, humanis, dan bermakna yang disingkat PAIKEMHUB.

***

L2D perlu dikokohkan dalam pendidikan Indonesia karena dunia hari ini tidak lagi cukup menghargai ijazah tanpa kompetensi atau keahlian, apalagi jika keaslian ijazahnya meragukan. Ijazah tetap penting sebagai bukti formal pendidikan atau pernah bersekolah dan sebagai alasan untuk ”reuni”, tetapi kehidupan nyata menuntut kemampuan yang lebih intensif dan luas, kemampuan berpikir kritis dan khuzuk berzikir, jujur dan adil, bekerja sama dan berkolaborasi, berliterasi dan berkomunikasi, menggunakan teknologi, mengelola waktu, memanfaatkan peluang, menyelesaikan masalah, berinovasi, dan beradaptasi dengan perubahan era. Lulusan lembaga pendidikan menghadapi kenyataan dalam kehidupan, tentang dunia kerja dan industri, serta masyarakat majemuk, sehingga tidak selalu bertanya “apa yang dihafal?” melainkan “apa yang dapat dilakukan?” Pertanyaan ini sederhana tetapi mengusik dasar pendidikan kita, karena ketika sekolah dan kampus hanya melatih peserta didik untuk menjawab soal, mereka mungkin siap menghadapi ujian, tetapi belum tentu siap menghadapi kehidupan nyata. Jika pendidikan hanya menekankan teori, lulusan mungkin paham konsep tetapi canggung ketika bekerja dalam situasi nyata yang kompleks.

BACA JUGA:  ASURANSI SYARIAH: MENYONGSONG MASA DEPAN PERLINDUNGAN KEUANGAN BERBASIS NILAI

Dunia modern bergerak cepat, teknologi berubah, pekerjaan berubah, pola komunikasi berubah, dan kebutuhan masyarakat juga berubah. Banyak pekerjaan lama yang hilang atau berkurang seiring munculnya pekerjaan baru dan berkembangnya keterampilan. Dalam situasi seperti ini, pendidikan tidak hanya menyiapkan peserta didik untuk satu jenis pekerjaan, tetapi juga membekalinya dengan kemampuan belajar dan bekerja secara adaptif. Inilah inti L2D karena manusia dididik agar mampu bertindak secara cerdas dalam berbagai keadaan.

Bangsa Indonesia membutuhkan pendidikan yang mampu menjawab persoalan konkret masyarakatnya. Dekadensi moral, kemiskinan, pengangguran, ketimpangan sosial-ekonomi-politik, rendahnya etika literasi digital, lemahnya produktivitas, kerusakan lingkungan, dan tantangan pelayanan publik, korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) tidak dapat diselesaikan dengan pidato atau omongan dan teori, melainkan sangat membutuhkan orang yang mampu bekerja, berkolaborasi, merancang solusi, dan melaksanakan gagasan. Dengan kata lain, pendidikan sejatinya melahirkan warga negara yang bukan hanya pandai mengkritik keadaan, tetapi juga mampu memperbaikinya.

L2D juga penting untuk membangun martabat manusia, karena seorang yang memiliki keterampilan akan memiliki rasa percaya diri dan tidak hanya bergantung pada belas kasihan orang lain, melainkan memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai tambah bagi dirinya, orang lain, dan organisasi tempatnya bekerja. Keterampilan membuat manusia lebih mandiri, produktif, dan berdaya saing. Oleh karena itu, pendidikan yang berkualitas (baik) membuat manusia mampu berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa kehilangan kepedulian kepada sesama.

Memperkuat pilar pendidikan berarti menghadirkan pendidikan berbasis praktik, proyek, dan pengalaman. Teori tetap penting, tetapi teori disertai pengalaman melakukan. Dalam mata pelajaran apa pun, peserta didik diberi kesempatan mencoba menerapkan konsep. Matematika dapat dikaitkan dengan pengelolaan keuangan sederhana, agar fasih menambah, mengali, mengurang, dan berbagi. Bahasa dapat dikaitkan dengan menulis opini seperti prinsip penulis ”saya menulis maka saya ada”, membuat laporan yang valid dan sahih atau ”aktual-tajam-terpercaya”, atau berbicara di depan umum tetapi bukan seperti ala demonstrasi destruktif yang merusak. Ilmu sosial humaniora selalu dikaitkan dengan pengamatan lingkungan masyarakat demikian pula teknologi dikaitkan dengan pembuatan produk digital sederhana.

Pendidikan yang memperkuat pembelajaran berbasis proyek karena melalui proyek, peserta didik belajar merencanakan, membagi tugas, mengelola waktu, menghadapi kendala, berkolaborasi, dan menghasilkan karya. Proyek membuat belajar menjadi lebih hidup karena peserta didik tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi memproduksi sesuatu. Mereka belajar tentang pengetahuan yang memiliki fungsi, ide yang diuji, dan hasil kerja yang memerlukan proses. Sekolah dan kampus membangun hubungan yang lebih dekat dengan dunia nyata, dunia industri, masyarakat, desa, komunitas, lembaga sosial, kantor pemerintahan, usaha mikro-kecil, lingkungan hidup, dan ruang publik agar peserta didik dikenalkan pada masalah nyata, bukan hanya contoh buatan di buku teks. Anak didik belajar IPTEKS yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA:  Reaktualisasi Hubungan Industrial Pancasila di Era Regulasi Cipta Kerja

Asesmen |yang dilakukan menghargai proses dan hasil (produk), karena penilaian tidak hanya berpusat pada ujian tertulis, melainkan pula karya nyata, praktik, portofolio, presentasi, simulasi, proyek kelompok, dan laporan lapangan. Refleksi pengalamannya merupakan bagian penting dari evaluasi pendidikan. Pada konteks ini, guru dan dosen berperan sebagai fasilitator pengalaman belajar karena menurut paradigma L2D pendidik bukan sekadar penyampai materi melainkan pula perancang pengalaman dalam mengkreasi situasi belajar yang menantang, relevan dan PAIKEMHUB. Sementara itu pendidikan vokasi dijadikan sebagai bagian strategis pembangunan multidimesional karena menekankan keterampilan, praktik, produktivitas, dan kesiapan kerja berbasis penguasaan teknologi digital. Tujuannya untuk menciptakan manusia yang produktif, mandiri, kreatif, berguna bagi kehidupan dengan menggunakan kepintarannya untuk kebaikan (kemaslahatan umat) karena pengetahuan yang baik melahirkan tindakan yang baik. Ilmu yang benar melahirkan karya yang bermanfaat, atau istilah populernya “berilmu amaliah dan beramal ilmiah”.

Pilar L2D juga penting untuk membentengi pendidikan dari jebakan verbalistik karena banyak bicara tetapi miskin tindakan akan kehilangan daya ubahnya. Banyak konsep besar hanya seringkali diucapkan, seperti inovasi, kreativitas, karakter, kewirausahaan, digitalisasi, kolaborasi, namun semuanya itu omong kosong jika tidak diterjemahkan ke dalam praktik pendidikan yang nyata. L2D mengingatkan kita tentang pendidikan yang menghasilkan jejak untuk diteladani dan dinapaktilasi oleh generasi muda, seperti halnya kita dan generasi muda Muslim yang menapaktilasi jalan yang pernah dilalui oleh Rasulullah Muhammad SAW.

***

Pada peringatan Hardiknas ini L2D merupakan panggilan hati nurani untuk memperbaiki cara mendidik diri sendiri dan orang lain, dimana anak-anak Indonesia tidak cukup diajarkan mengetahui sesuatu, melainkan pula perlu dilatih melakukan sesuatu dengan benar, etis, estetis, kinestetis, kreatif, inovatif, bertanggung jawab sebagai mahluk individu, mahluk sosial, dan mahluk Tuhan. L2D menjadi jembatan antara pengetahuan dan kehidupan, menghubungkan apa yang ada di kepala (Head) dengan apa yang dikerjakan oleh tangan (Hand) dan diarahkan oleh hati (Heart) nurani, yang disingkat 3H, dengan mengubah gagasan menjadi karya, serta menjadikan pendidikan lebih membumi, lebih produktif, dan lebih terasa manfaatnya bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.