Oleh : Andi Asdar, S.Pd.
Kepala MIN 4 Bone
Setiap bangsa atau negara bisa dipastikan punya problem masing masing.
Problem dan tantangan suatu negara bisa saja sama dengan bangsa lainnya. Akan tetapi setiap negara atau bangsa punya keunikan, juga punya potensi dan punya sumber daya.
Mereka yang dipercayakan menjadi penyelenggara negara pastinya tidak
menginginkan problem dan tantangan ini dibiarkan berlaru-larut tanpa mencari solusi atas masalahnya. Karena hal ini dapat menyebabkan masalah yang berdampak pada kemunduran, dan sering kali penyebabnya saling terkait. Oleh karena itu, penting untuk memahami dinamika yang kompleks dewasa ini agar kita dapat menemukan solusi yang efektif dan berkelanjutan.
Dalam menghadapi berbagai tantangan sebuah negara, umumnya kolaborasi
antar negara menjadi alternatif sebagai contoh solidnya negara-negara eropa yang membangun aliansi ekonomi dan kemanan. Sayangnya negara-negara ASEAN kurang bisa diajak berkolaborasi membangun koalisi. Pada hal melalui pertukaran pengetahuan dan sumber dayanya negara-negara ASEAN bisa juga membentuk kekuatan ekonomi dan keamana regional yang kuat, dapat belajar dari pengalaman satu sama lain dan mengembangkan strategi yang lebih baik.
Selain itu, keterlibatan masyarakat sipil dan sektor swasta juga sangat penting
untuk menciptakan inovasi dan mendukung implementasi solusi yang telah dirumuskan. Pembangunan SDM memainkan peran vital dalam mengatasi tantangan ini. Dengan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang isu-isu yang dihadapi, kita dapat mendorong partisipasi aktif dalam proses pengambilan keputusan dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk perubahan positif. Kunci utama adalah kualitas pendidikan bangsa itu sendiri.
Penting untuk mengukur dan mengevaluasi dampak dari berbagai studi yang
diterapkan bangsa itu. Dengan melakukan analisis yang mendalam, setiap bangsa dapat mengidentifikasi apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki, sehingga mereka dapat terus beradaptasi dan berinovasi dalam menghadapi tantangan yang ada. Dalam kenyataanya, negara yang memiliki pengangguran tertinggi pada waktu 2008-2022 adalah Indonesia dengan pengangguran total mencapai 7.2 persen”. Sangatlah ironi dimana negeri
kita yang kaya dengan sumber daya alam melimpah,
tanahnya yang subur, wilayahnya tropis dengan suhunya yang teratur, lautnya luas dengan keanekaragaman hayati. Belum lagi industri tambang melimpah, manufaktur, dan pangsa pasar yang besar. Sesungguhnya berbanding terbalik dengan potensi yang dimiliki dengan predikat memiliki pengangangguran tertinggi di ASEAN.
Apa yang salah dengan negeri ini? Tentu pertanyaan ini perlu dianalisis mendalam.Arah Pendidikan
Pendidikan yang salah arah atau salah kaprah mengakibatkan masalah yang
sangat serius terhadap Pembangunan SDM, yang pada akhirnya berdampak pada
hambatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Konsep pendidikan yang tidak
sesuai dengan tujuan atau prinsip yang seharusnya. Kurikulum yang diterapkan tidak
mencerminkan kebutuhan kondisi masyarakat, sehingga SDM siswa tidak siap
menghadapi tantangan dunia yang sebenarnya.
Demikian pula, masih banyak pendidik menerapkan metode pengajaran yang
tidak efektif, seperti menghafal saja tanpa pemahaman yang dalam, sehingga
menghambat kreativitas peserta didik. Mereka kurang dilatih untuk berfikir kritis, dan
terlalu menekankan pada pencapaian nilai akademis dan ujian, yang dapat
mengabaikan pengembangan Lifeskill dan pengembangan EQ.
Dilain pihak kita banyak dipertontonkan diskriminasi dunia pendidikan yang tidak
adil, di mana akses terhadap pendidikan berkualitas tidak merata, sering kali
berladaskan pada latar belakang strata ekonomi atau sosial. Ini juga hal yang terus
bermunculan di berbagai daerah di negeri ini. Elitisme diberlakukan bahkan sampai di
tingkat pembagian rombel dalam suatu satuan pendidikan.
Bicara soal keberhasilan, sangat jarang satuan pendidikan memaparkan
capaian output mereka. Tidak melibatkan orang tua dan masyarakat dalam proses
belajar mengajar, sehingga mengurangi dukungan dan partisipasi mereka. Padahal di
lain pihak partisipasi dan dukungan Masyarakat sangat penting. Tentunya masih
banyak permasalahan dunia pendidikan di negeri ini yang masih salah arah dan salah
kaprah. Pada hal pendidikan dapat menjadi pendorong inovasi dan perubahan positif
yang akan membawa dampak jangka panjang bagi kemajuan negara.
Selain itu ada doktrin yang merebak di kalangan masyarakat tingkat bawah,
yang menyebabkan pendidikan di negeri kita seolah tidak berhasil membangun
SDMnya. Doktrin ini menyebabkan masyarakat kita punya mindset yang salah dengan
dunia Pendidikan kita. Masyarakat kita pada umumnya berasumsi bahwa memiliki
pekerjaaan di sektor formal sangat Istimewa dan barulah dianggap berhasil dengan
pendidikannya. Mereka sekolah dan kuliah dengan harapan harus jadi ASN atau
sektor
formal lainnya.
Umumnya masyarakat kita menilai pekerjaan di luar sektor formal bukanlah
suatu yang butuh pendidikan dan belum dianggap suatu keberhasilan. Inilah mindset
yang keliru dan sangat perlu untuk diluruskan.
Coba kita ambil perumpamaan, jika seorang guru atau pendidik memberikan doktrin
pada peserta didiknya bahwa mereka baru bisa dikatakan sukses jika telah
menjadi ASN.Dengan doktrin yang keliru ini, hanya akan membantu dikisaran 4% siswa,
sementara 96% lainnya tidak diberikan inspirasi untuk sukses di sektor lain. Dan inilah yang sering kita amati terjadi hampir di semua satuan pendidikan yang ada di negeri kita. Akan jadi apa masa depan generasi kita. Pantaslah jika angka pengangguran terus menjadi isu nasional yang sulit diatasi.
Pendidikan yang salah arah akan menciptakan barisan pengangguran, yang pada akhirnya menjadi beban pemerintah, membuat perekonomian negara terhambat dan bahkan berpotensi besar timbul masalah-masalah sosial yang lebih kompleks. Tindakan kriminal bisa menjamur di mana saja. Potensi mereka terbengkalai yang seharusnya memberikan kontribusi untuk pembangunan bangsa.
JUTAAN ANAK MUDA INDONESIA, JIKA DIABAIKAN BERPOTENSI MENJADIKAN NEGERI INI, NEGARA YANG KITA CINTAI BISA TERPURUK.







