BUKAN SEKADAR JUAL BELI: PERAN STRATEGIS AKAD SALAM DALAM MANAJEMEN RISIKO

oleh -372 x dibaca

Oleh : Nurkhadijah N

Mahasiswi Pascasarjana IAIN Bone

Pandangan umum sering kali menyederhanakan Akad Salam hanya sebagai transaksi jual beli pesanan biasa sebuah mekanisme dagang sederhana antara bank dan petani. Pandangan ini melupakan satu aspek krusial: potensi tersembunyi Akad Salam sebagai benteng pertahanan finansial sekaligus jaring pengaman sosial. Riset terbaru menunjukkan bahwa akad ini sejatinya bukan sekadar jual beli; ia memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan volatilitas pasar sekaligus memberdayakan sektor riil.

Industri keuangan syariah di Indonesia tumbuh pesat dalam beberapa dekade terakhir. Pertumbuhan ini dibarengi dengan tantangan besar, terutama risiko pasar akibat fluktuasi harga komoditas dan ketidakpastian ekonomi global (Sukardi, 2023). Perbankan konvensional memiliki instrumen derivatif seperti futures atau options untuk lindung nilai (hedging), sedangkan perbankan syariah menghadapi batasan ketat. Instrumen konvensional tersebut sering kali mengandung unsur spekulasi (gharar) dan ketidakjelasan yang bertentangan dengan prinsip Islam (Adi, 2025).

BACA JUGA:  ZAKAT EMAS DAN PERAK: INVESTASI SPIRITUAL DI TENGAH KEKAYAAN DUNIAWI

Kondisi inilah yang memunculkan urgensi “menghidupkan kembali” Akad Salam. Akad Salam adalah jual beli di mana pembayaran dilakukan di muka secara penuh, sedangkan barang diserahkan di kemudian hari. Konsep ini unik karena tidak hanya memberikan kepastian harga bagi kedua belah pihak, tetapi juga membuka ruang bagi bank syariah untuk mengelola risiko harga di masa depan (Firdausy, 2021). Rahmawati (2021) dalam penelitiannya juga menegaskan bahwa Akad Salam dapat berfungsi sebagai hedging tool yang efektif untuk meminimalisir potensi kerugian akibat volatilitas pasar.

Pembuktian teori ini dilakukan melalui sebuah studi kasus terhadap pembiayaan petani beras di Bone. Bank melakukan pembelian beras di muka untuk panen enam bulan ke depan dalam skema tersebut. Hasil analisis menggunakan model matematis lindung nilai menunjukkan angka yang menarik. Ditemukan nilai Hedging Ratio sebesar 0,5 dan tingkat efektivitas lindung nilai sebesar 49%. Artinya, penerapan Akad Salam mampu melindungi bank dari hampir separuh risiko fluktuasi harga pasar yang mungkin terjadi selama periode tanam hingga panen. Angka 49% ini adalah bukti nyata efektivitas. Instrumen ini memberikan bantalan yang cukup tebal bagi stabilitas keuangan bank, kendati tidak menghilangkan risiko 100% karena dalam Islam risiko tidak boleh dihilangkan sama sekali tetapi harus dibagi (shared risk). Fadilah dan Kurnia (2022) menambahkan bahwa mekanisme ini menjaga keseimbangan antara kepatuhan syariah dan kebutuhan bisnis, selama transparansi spesifikasi barang dijaga ketat.

BACA JUGA:  KETAHANAN PANGAN DALAM ISLAM (SERI 10, TERAKHIR) : MEMBANGUN EKOSISTEM PANGAN ISLAM DARI KESADARAN KONSUMEN HINGGA KEBIJAKAN PUBLIK

Penerapan Akad Salam sebagai instrumen hedging menawarkan solusi ganda yang saling menguntungkan. Pertama, bagi sektor riil (petani), instrumen ini memberikan kepastian modal kerja di awal masa tanam dan kepastian pasar. Pelaku usaha tidak lagi pusing memikirkan ke mana harus menjual hasil panen atau takut harga anjlok saat panen raya, karena harga sudah “dikunci” di awal. Rantai ketergantungan pada tengkulak pun dapat terputus. Kedua, bagi bank, skema ini adalah antitesis dari derivatif spekulatif. Bank mendapatkan pasokan aset riil dengan harga yang terukur serta mengamankan aset dari lonjakan inflasi harga pangan. Sebagaimana dicatat oleh Melani (2024), Akad Salam menempatkan dirinya sebagai instrumen yang memberikan manfaat ekonomi nyata sekaligus patuh pada prinsip syariah.

BACA JUGA:  RUMAH TANPA SAKINAH, TRAGEDI KELUARGA BUNUH DIRI YANG MENELANJANGI SEKULARISME

Industri perbankan syariah sudah saatnya berhenti sekadar mengekor produk konvensional dan mulai menggali kekayaan khazanah fikih muamalahnya sendiri. Akad Salam telah membuktikan diri: ia bukan sekadar jual beli pesanan, melainkan strategi manajemen risiko yang ampuh, adil, dan menentramkan. Dukungan regulasi yang tepat dan peningkatan kompetensi praktisi akan menjadikan Akad Salam sebagai “perisai” utama perbankan syariah dalam menghadapi gelombang ketidakpastian ekonomi global, sekaligus menjadi mitra sejati bagi kesejahteraan ekonomi umat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.