“Kunci Gerbang” Universitas Kehidupan: Oleh-oleh dari Lokasi KKN (2/3)

oleh -447 x dibaca
Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum - Prof. Dr. Haedar Akib

Oleh:

Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum., Plt. Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM)

Prof. Dr. Haedar Akib, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) di Kabupaten Bone & Anggota Senat Akademik UNM.

Ada saatnya mahasiswa harus meninggalkan ruang kuliah untuk menemukan pelajaran yang tidak sepenuhnya tersedia di dalam buku, karena mereka berangkat ke lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) membawa teori, idealisme, dan program kerja. Mereka lalu berhadapan dengan masyarakat yang memiliki pengalaman, persoalan, kebutuhan, dan harapan yang tidak selalu sama dengan asumsinya. Bersama masyarakat, mahasiswa kemudian menemukenali esensi dan orientasi ”empat pilar pendidikan dunia” (belajar untuk tahu, belajar untuk bekerja, belajar untuk menjadi, belajar untuk hidup bersama) dan makna tugas utamanya di lokasi KKN sebagai ”kunci gerbang” untuk memasuki Universitas Kehidupan.

Di kampus, mahasiswa mempelajari teori pemberdayaan masyarakat, di desa/ kelurahan mereka menyaksikan cara warga berjuang mengembangkan usaha dengan modal terbatas. Di kelas, mahasiswa memahami konsep pelayanan publik, di lokasi KKN mereka melihat cara sejumlah warga menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh layanan administrasi. Di ruang kuliah, transformasi digital dibicarakan sebagai kemajuan, sementara di tengah masyarakat mereka menemukan realitas dimana tidak semua orang mampu menggunakan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (Ipteks) bukan sekadar sesuatu yang dikuasai untuk memperoleh nilai akademik, melainkan bekal untuk memahami kenyataan hidup, menemukan solusi, dan menciptakan manfaat bagi diri dan orang lain. Oleh karena itu, oleh-oleh terbaik dari lokasi KKN bukan sekadar dokumentasi kegiatan, laporan akhir, dan kenangan kebersamaan, atau ”Cilo” (cinta lokasi), melainkan kesaksian tentang perubahan yang dialami mahasiswa dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

***

Kuliah Kerja Nyata (KKN) dianggap sebagai ”kunci gerbang” memasuki universitas kehidupan karena merupakan salah satu ruang penting untuk menghubungkan pendidikan tinggi dengan realitas sosial (Haedar Akib & Rifdan, Universitas Kehidupan bagi Pembelajar Sepanjang Hayat, https://tribunboneonline.com/2026/02/02/). Semangat ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, yang menempatkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai kewajiban perguruan tinggi. Namun, KKN akan kehilangan maknanya apabila hanya dipahami sebagai kewajiban menyelesaikan satuan kredit semester (SKS), memenuhi jumlah kegiatan, atau menghasilkan laporan yang rapi, karena ukuran keberhasilan pengabdian bukan hanya apa yang dikerjakan mahasiswa selama berada di lokasi, melainkan pula apa yang berubah, dipelajari, dan dilanjutkan oleh masyarakat setelah mereka kembali ke kampus.

BACA JUGA:  Menembus Batas: Tantangan dan Hambatan Jurusan ATPH SMKN 5 Bone dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0"

Paulo Freire melalui artikelnya Pedagogy of the Oppressed dalam buku berjudul Toward a Sociology of Education (1978), mengingatkan pentingnya ”dialog dalam pendidikan yang membebaskan atau memerdekakan,” karena pengetahuan tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang hanya dimiliki pihak yang mengajar dan diterima secara pasif oleh pihak yang belajar. Dengan demikian, pada konteks KKN, mahasiswa bersama masyarakat merupakan mitra yang saling belajar. Mahasiswa membawa ilmu pengetahuan akademik, keterampilan teknologi, dan energi seni perubahan, sementara masyarakat membawa pengalaman hidup, pengetahuan lokal, pemahaman terhadap lingkungan, dan kearifan yang tumbuh dari praktik sehari-hari. Keduanya bertemu dalam dialog (Tudang Sipulung/ Bugis, Empo Sipitangarri/ Makassar) yang setara sehingga melalui KKN dapat melahirkan solusi yang lebih realistis dan berkelanjutan.

Esensi dan orientasi pendekatan pembelajaran kontekstual tersebut, sebagaimana digagas pertama kali oleh John Dewey dalam bukunya Democracy and Education (1916) mengenai hubungan pendidikan dengan pengalaman, aktivitas sosial, dan kehidupan demokratis, semakin penting saat ini karena masyarakat menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Persoalan sosial ekonomi politik, pendidikan, kesehatan, lingkungan, administrasi pemerintahan, dan akses informasi saling berhubungan. Dengan demikian, mahasiswa yang ber-KKN tidak cukup hanya pintar menyusun program, melainkan pula mampu mengenali prioritas, bekerja lintas disiplin, membangun kepercayaan, dan menyesuaikan solusi dengan kemampuan masyarakat.

***

Menghadirkan KKN yang relevan saat ini dilakukan melalui beberapa hal baik berikut, antara lain, transformasi digital yang membuka peluang sekaligus tantangan. Pada kondisi ini masyarakat memasarkan produk (barang) melalui media sosial, menggunakan pembayaran digital, mengakses layanan pemerintahan, dan memperoleh informasi secara cepat, meskipun ketersediaan teknologi tidak otomatis menghasilkan produktivitas atau kesejahteraan. Dengan kata lain, basis pembangunan masyarakat digital tidak hanya bertumpu pada ketersediaan infrastruktur, melainkan pula pada optimalisasi pemanfaatan Ipteks untuk kegiatan produktif dan pemberdayaan masyarakat.

Realita tersebut menjadi bahan refleksi bagi perguruan tinggi (PT) dimana program KKN digital tidak berhenti pada pembuatan akun media sosial, situs web, atau video profil (peta) desa, karena pertanyaan retorisnya yang lebih penting adalah apakah Ipteks tersebut membantu warga memecahkan persoalan dan meningkatkan kapasitasnya. Jawabannya, literasi digital memberdayakan masyarajat dimana mahasiswa mendampingi warga menemukenali hoaks, memeriksa kredibilitas sumber informasi, menjaga keamanan akun, melindungi data pribadi, atau memahami etika komunikasi digital.

BACA JUGA:  SUKSESI KEPALA DAERAH DALAM PERSPEKTIF AKADEMISI DAN AGAMA

Digitalisasi usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang berorientasi pada hasil, dimana mahasiswa membantu pelaku usaha menyusun katalog produk, mengambil foto yang menarik, membuat konten promosi, menampilkan lokasi usaha di Google Maps, dan memahami penggunaan pembayaran digital seperti ”Kris” atau Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Pendampingan juga mencakup pencatatan transaksi sederhana dan pengelolaan pesanan. Praktik semacam ini bukan sekadar gagasan karena dikerjakan oleh mahasiswa, seperti di Kecamatan Kajuara Kabupaten Bone dan dokumentasinya dalam artikel pengabdian masyarakat pada Journal Lepa-lepa Open UNM. Programnya meliputi sosialisasi ”Kris”/ QRIS, pendampingan konten promosi media sosial, dan penandaan lokasi usaha pada Google Maps. Hasilnya, peningkatan pemahaman mitra mengenai transaksi digital, pembuatan konten promosi, dan visibilitas usaha.

Pelajaran penting dari praktik baik tersebut adalah Ipteks bermakna karena dipadukan dengan pendampingan sesuai kebutuhan pelaku usaha. Dalam hal ini mahasiswa tidak hanya membuatkan akun lalu meninggalkan pemilik usaha tanpa kemampuan mengelola, melainkan menjamin mitranya mampu memperbarui informasi, melayani pelanggan, menjaga keamanan transaksi secara mandiri, dan berkelanjutan.

Pelayanan dan informasi desa yang lebih mudah diakses dimana mahasiswa membantu pemerintah desa menyusun profil potensi wilayah, menata informasi layanan, membuat materi informasi publik, atau mengembangkan pengarsipan digital sederhana. Setiap inovasinya tetap mempertimbangkan kesiapan perangkat desa, keterbatasan jaringan internet, perlindungan data pribadi, dan kemampuan pemeliharaan setelah KKN berakhir.

Pendidikan dan literasi lintas generasi yang bermanfaat melalui pendampingan membaca, “mengaji”, berhitung, bimbingan belajar, pengenalan teknologi yang aman, dan pelatihan pencarian informasi. Dalam hal ini mahasiswa bekerja sama dengan guru, ustadz, orang tua, karang taruna, dan perpustakaan desa dalam membangun kegiatan belajar yang tetap berjalan setelah mereka pulang. Sementara itu, pemberdayaan kesehatan dan lingkungan sebagai bagian dari program KKN dilakukan melalui edukasi gizi, pencegahan stunting, sanitasi, pengelolaan sampah dan lingkungan, serta penghijauan yang disesuaikan dengan persoalan setempat. Media digital kemudian membantu penyebaran informasi dengan menjadikan perubahan perilaku dan keterlibatan warga sebagai ukuran keberhasilannya.

Semua program tersebut dimulai dari pemetaan kebutuhan daerah yang disampaikan pada seminar awal dimana mahasiswa mendengarkan aparat desa, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, guru, ustadz, kelompok pemuda, dan warga sebelum menetapkan prioritas. Misalnya, desa pertanian membutuhkan pendampingan pemasaran hasil panen, sedangkan desa wisata memerlukan penguatan promosi dan kualitas layanan. Wilayah dengan akses internet terbatas membutuhkan bahan belajar luring dan teknologi sederhana. Dengan kata lain, program kerja KKN yang baik bukan yang paling canggih, melainkan yang paling sesuai dengan kebutuhan, dapat dilaksanakan, dan berpeluang dilanjutkan oleh masyarakat.

BACA JUGA:  RUMAH TANPA SAKINAH, TRAGEDI KELUARGA BUNUH DIRI YANG MENELANJANGI SEKULARISME

***

Pertanyaan retoris berikutnya bukan hanya apa saja yang telah dilakukan mahasiswa, tetapi untuk apa pengalaman dibawa pulang. Jawabannya, bagi mahasiswa KKN memperkaya kompetensi akademik sekaligus membentuk empati, kedisiplinan, kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, dan tanggung jawab sosial. Bagi masyarakat, manfaatnya berupa pengetahuan, keterampilan, jejaring, dan solusi yang digunakan untuk menghadapi persoalan sehari-hari. Bagi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan bagi PT, pengalaman lapangan menjadi umpan-balik untuk memperbaiki kurikulum, mengembangkan penelitian terapan, dan memperkuat kemitraan-kolaborasi dengan pemerintah serta komunitas. Dengan demikian, setiap program memiliki strategi keberlanjutan, baik dalam mengelola media informasi desa dan membantu UMKM memperbarui katalog digitalnya setelah mahasiswa pulang, maupun kader-kader lokal yang mampu melanjutkan pelatihan literasi dan pemerintah desa yang tahu cara memelihara sistemnya.

Evaluasi KKN tidak hanya menghitung jumlah kegiatan dan peserta, melainkan pula PT menilai perubahan kemampuan warga, penggunaan hasil program, kepuasan mitra, dan keberlanjutan manfaat. Indikatornya sederhana, tetapi jelas dan dapat diperiksa. Pada akhirnya, Universitas Kehidupan mengajarkan tentang “multi-talenta-kecerdasan” yang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjawab soal ujian, melainkan pula tampak dalam kesanggupan memahami persoalan orang lain, mendengarkan “tanpa merasa paling tahu”, dan mengubah pengetahuan menjadi tindakan yang bermanfaat. Mahasiswa yang kembali dari KKN dapat membawa cerita tentang warga yang mengajarkan ketekunan, pelaku usaha yang menginspirasi kemandirian, aparat desa yang memperlihatkan kompleksitas pelayanan, dan komunitas yang membuktikan perubahan yang didasarkan pada kerja bersama. Demikian pula mahasiswa membawa kesadaran tentang Ipteks sebagai sarana, sementara manusia dan kesejahteraannya menjadi tujuan.

***

Kunci gerbang memasuki Universitas Kehidupan ini bukan sekadar metafora perjalanan mahasiswa menuju desa, melainkan pula jalur undangan untuk memperluas makna pendidikan tinggi. Dari menguasai menjadi menggunakan Ipteks, dari mengejar prestasi pribadi menjadi menciptakan manfaat sosial, dari menyelesaikan program menjadi menumbuhkan perubahan. Dengan kata lain, oleh-oleh khas dari lokasi KKN yang paling berharga bukanlah sekedar apa yang dibawa mahasiswa dari desa, melainkan apa yang tetap “hidup” di desa setelah mahasiswa kembali ke kampus karena di situlah pengabdian menemukan maknanya dan pendidikan atau pembelajaran memperoleh relevansi sebagai kunci gerbang memasuki Universitas Kehidupan terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.