CENRANA, TRIBUNBONEONLINE.COM–Upacara penaikan bendera Merah Putih di lapangan SMAN 27 Bone, Senin (12/10/2026), menjadi momentum penting bagi penguatan karakter dan kepemimpinan siswa. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan pelantikan pengurus intrakurikuler dan ekstrakurikuler yang dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMAN 27 Bone, Umar, S.Pd., Gr.
Pelantikan ini bukan sekadar seremoni pergantian atau pengukuhan kepengurusan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi penegasan bahwa organisasi sekolah harus menjadi ruang pembentukan karakter, penanaman kedisiplinan, serta pengembangan jiwa kepemimpinan generasi muda.
Kegiatan itu dihadiri Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Muh. Ridwan, S.Pd.I., M.Pd., Gr., seluruh pembina intrakurikuler dan ekstrakurikuler, serta guru dan tenaga kependidikan SMAN 27 Bone.
Dalam suasana upacara yang berlangsung khidmat, para pengurus yang dilantik diharapkan mampu mengemban amanah dengan penuh tanggung jawab. Mereka tidak hanya dituntut aktif menjalankan program organisasi, tetapi juga harus menunjukkan sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai positif di lingkungan sekolah.
Dalam arahannya, Plt. Kepala SMAN 27 Bone, Umar, menekankan pentingnya menjadikan keteladanan dan akhlak mulia sebagai fondasi utama kepemimpinan siswa.
“Pemimpin yang baik adalah mereka yang memberi teladan, bukan sekadar memberi perintah.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa jabatan dalam organisasi sekolah bukanlah sekadar kebanggaan, melainkan amanah yang harus dibuktikan melalui tindakan nyata.
Pengurus OSIS, MPK, dan organisasi ekstrakurikuler diharapkan menjadi garda terdepan dalam membangun budaya disiplin, kesopanan, kepatuhan terhadap tata tertib sekolah, serta sikap toleransi terhadap sesama.
Menurut harapan kepala sekolah, kepemimpinan siswa akan memiliki makna apabila mampu memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya. Keteladanan harus dimulai dari hal-hal sederhana, seperti hadir tepat waktu, menghormati guru, menjaga kebersihan, menaati aturan, dan membangun hubungan yang harmonis antarsiswa.
Selain karakter, sinergi dan kolaborasi menjadi perhatian penting dalam menjalankan roda organisasi sekolah.
OSIS, MPK, Pramuka, PMR, seni, olahraga, dan berbagai unit ekstrakurikuler lainnya diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri atau terjebak dalam persaingan yang tidak sehat.
Seluruh organisasi harus mampu membangun komunikasi, saling mendukung, dan menyatukan gagasan untuk melahirkan kegiatan yang bermanfaat bagi warga sekolah.
Semangat kebersamaan tersebut menjadi modal penting dalam membangun SMAN 27 Bone sebagai lingkungan pendidikan yang aktif, produktif, dan mampu memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi mereka.
Organisasi yang kuat bukanlah organisasi yang hanya menonjolkan kelompoknya sendiri, melainkan organisasi yang mampu bekerja sama dan memberikan kontribusi bagi kemajuan sekolah.
Umar juga menaruh harapan agar para pengurus mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas organisasi dan kewajiban akademik.
Berorganisasi merupakan sarana untuk mengasah keterampilan nonakademik atau soft skills, seperti kepemimpinan, komunikasi, kerja sama tim, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah.
Namun, kesibukan organisasi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kegiatan belajar.
Para pengurus diharapkan mampu membuktikan bahwa siswa yang aktif dalam organisasi juga dapat menunjukkan prestasi di ruang kelas. Kedisiplinan mengatur waktu, menentukan prioritas, dan menyelesaikan tanggung jawab menjadi bagian penting dari proses pembelajaran kepemimpinan.
Dengan demikian, keberhasilan pengurus tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, tetapi juga dari kemampuan menjaga prestasi, sikap, dan tanggung jawab sebagai pelajar.
Tantangan berikutnya adalah menghadirkan program kerja yang inovatif, relevan dengan kebutuhan peserta didik, serta memberikan manfaat nyata bagi sekolah.
Pengurus intrakurikuler dan ekstrakurikuler diharapkan tidak sekadar menjalankan agenda rutin, tetapi berani menghadirkan gagasan baru yang mampu mengembangkan bakat, minat, kreativitas, dan potensi siswa.
Program yang dirancang hendaknya memiliki tujuan yang jelas, dapat dilaksanakan secara realistis, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Melalui program yang terarah dan berkelanjutan, para siswa diharapkan mampu membawa nama SMAN 27 Bone semakin dikenal melalui prestasi dan kegiatan positif, baik di tingkat Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, maupun nasional.
Momentum pelantikan ini pun diharapkan menjadi titik awal bagi lahirnya kepengurusan yang lebih bertanggung jawab, inovatif, dan mampu bekerja secara kolektif.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pembacaan doa oleh Fatma sebagai bentuk harapan agar seluruh prosesi berjalan dengan baik dan para pengurus yang dilantik diberikan kelancaran dalam menjalankan amanah.
Melalui upacara penaikan bendera Merah Putih yang dirangkaikan dengan pelantikan tersebut, SMAN 27 Bone menegaskan pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.
Kini, tantangan sesungguhnya berada di tangan para pengurus yang telah dilantik. Mereka diharapkan mampu menerjemahkan amanah menjadi kerja nyata, menjadikan keteladanan sebagai budaya, kolaborasi sebagai kekuatan, serta prestasi sebagai tujuan bersama.
Sebab, kepemimpinan sejati di sekolah tidak berhenti pada pengucapan janji pelantikan, tetapi dibuktikan melalui tindakan, kedisiplinan, dan kontribusi nyata bagi kemajuan SMAN 27 Bone. (Tamzil)








