Tim Mannennungeng Serahkan Policy Brief ke Pemda Bone dan Tandatangani BAST di Lokakarya Hasil

oleh -23 x dibaca

BONE, TRIBUNBONEONLINE.COM–Lokakarya yang dirangkaikan dengan salah satu agenda Gau’ Maraja 2026, yaitu Passompe Mattana Bone, sukses dilaksanakan di Baruga La Tea Ri Duni, Kompleks Rumah Jabatan Bupati Bone, pada Senin (28/9/2026). Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. , beserta jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Turut hadir pula perwakilan dari berbagai mitra program, baik dari instansi vertikal pemerintah seperti Badan Pusat Statistik (BPS) maupun pihak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Perum Bulog. Kehadiran para tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan Passompe (perantau) Bone yang datang dari berbagai wilayah turut meramaikan dan menyemarakkan jalannya kegiatan silaturahmi sakral ini.

Lokakarya ini menjadi puncak dari rangkaian Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Unit Kegiatan Mahasiswa Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (UKM KPI) Universitas Hasanuddin melalui Program Mannennungeng yang telah berjalan sejak Juni lalu. Momen utama dalam kegiatan ini adalah serah terima Policy Brief kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bone sebagai bentuk rekomendasi kebijakan berbasis hasil pelaksanaan program. Selain itu, dilakukan pula penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) antara Tim Pelaksana PPK Ormawa UKM KPI Unhas dengan kelompok sasaran, yaitu Gapoktan Sipurio Sipurennu dan P4S Lamellong, sebagai tanda resmi bahwa seluruh perangkat dan hasil program telah diserahkan dan menjadi tanggung jawab masyarakat untuk dikelola secara berkelanjutan.

Dalam arahannya, Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. , menekankan pentingnya peran para Passompe (perantau) Bone dalam membangun daerah. Menurutnya, para perantau yang telah meraih kesuksesan di berbagai wilayah memiliki tanggung jawab moral untuk turut berkontribusi bagi kemajuan kampung halaman, baik melalui investasi, transfer pengetahuan, maupun pemberdayaan masyarakat. “Para Passompe adalah duta-duta Bone di perantauan. Kami berharap mereka tidak hanya sukses di tanah rantau, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perantau adalah kunci percepatan pembangunan di Kabupaten Bone,” katanya.

BACA JUGA:  THR ASN Segera Cair, Bupati Bone Teken Perbup, Ekonomi Daerah Diharapkan Bergeliat

Semangat kolaborasi dan kontribusi bagi kampung halaman ini sejalan dengan filosofi Bugis “Lao Sapa Deceng, Lesu Mappadeceng” yang berarti pergi mencari kebaikan, pulang berbuat kebaikan. Filosofi inilah yang menjadi landasan Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas dalam menjalankan Program Mannennungeng di Desa Kajaolaliddong. Tim yang terdiri dari mahasiswa lintas disiplin ilmu ini telah menempuh pendidikan di Kota Makassar, menimba ilmu, lalu kembali ke tanah Bone untuk mengabdi dan berbuat kebaikan bagi masyarakat desa. Mereka bukan sekadar datang untuk menjalankan program, tetapi hadir untuk memberdayakan, mendampingi, dan memastikan keberlanjutan manfaat bagi petani.

Dosen Pendamping Program Mannennungeng, Muh. Adnan Kasogi, S.Sos., M.Si. , menekankan bahwa keberhasilan program ini adalah buah dari kolaborasi yang kuat antara berbagai pihak. “Program Mannennungeng bukanlah kerja satu pihak saja. Ini adalah hasil gotong royong antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah daerah, instansi vertikal, dan seluruh pemangku kepentingan. Kami bersyukur karena proses pendampingan yang kami lakukan sejak awal telah membuahkan hasil nyata, tidak hanya dalam bentuk teknologi, tetapi juga dalam penguatan kelembagaan dan kapasitas petani. Namun, lokakarya ini bukanlah akhir. Justru di sinilah ujian sesungguhnya dimulai—yaitu memastikan bahwa apa yang telah kita bangun bersama terus hidup dan berkembang. Kami dari Universitas Hasanuddin akan terus hadir mendampingi, meskipun dengan peran yang semakin kecil, karena tujuan akhir kita adalah kemandirian masyarakat,” ujarnya.

BACA JUGA:  Transformasi Pertanian di Tangan BerAmal, Peresmian Sumur Bor Tandai Kebangkitan Lahan Tadah Hujan di Bone

Tokoh adat Bone, Andi Irwansyah, S.Sos., M.M. , turut menyampaikan apresiasi dan harapannya terhadap keberlanjutan program. “Sebagai bagian dari masyarakat Bone yang mencintai tanah leluhurnya, kami sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan adik-adik mahasiswa Universitas Hasanuddin. Program Mannennungeng telah mengingatkan kami bahwa pertanian bukan hanya soal bercocok tanam, tetapi juga soal menjaga warisan dan menjaga generasi. Filosofi Mannennungeng yang berarti berkelanjutan sejalan dengan nilai-nilai adat dan budaya kami yang selalu menjunjung tinggi keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Kami berharap semangat ini terus dijaga, tidak hanya di Desa Kajaolaliddong, tetapi juga menyebar ke seluruh penjuru Bone. Kami sebagai tokoh adat siap bersinergi untuk memastikan warisan ini tetap hidup,” ungkapnya.

Ketua Umum UKM KPI Unhas, Aydil Fitra Mulya, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh seluruh pihak. “Lokakarya ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang. Policy brief yang kami serahkan hari ini adalah hasil dari kerja keras bersama antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah daerah. Kami berharap rekomendasi ini dapat menjadi acuan bagi kebijakan pertanian di Kabupaten Bone. Terima kasih kepada Bapak Bupati, seluruh OPD, instansi vertikal, tokoh masyarakat, dan tentu saja warga Desa Kajaolaliddong yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini,” ujarnya.

BACA JUGA:  Investasi Migas Miliar Mengarah ke Bone

Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026, Fadel Muhammad S. , menambahkan bahwa penandatanganan BAST menandai penyerahan tanggung jawab pengelolaan kepada kelompok sasaran. “Hari ini kami resmi menyerahkan seluruh hasil program, termasuk perangkat teknologi, modul pelatihan, dan kurikulum P4S, kepada Gapoktan Sipurio Sipurennu dan P4S Lamellong. BAST ini bukan sekadar dokumen, tetapi simbol kepercayaan bahwa masyarakat mampu mengelola dan mengembangkan program ini secara mandiri. Kami akan terus mendampingi hingga mereka benar-benar mandiri,” ujarnya.

Lokakarya hasil ini juga menjadi ajang diseminasi capaian program, termasuk peningkatan produktivitas padi dari 3 ton menjadi 5,3 ton per hektare, efisiensi penggunaan air hingga 25 persen, serta pengurangan penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen. Capaian-capaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa integrasi teknologi Uwai Tuo, Pabbura, Warani, dan Garisi’ dalam program Mannennungeng mampu memberikan dampak positif bagi pertanian di Kabupaten Bone.

Melalui kegiatan ini, Tim Mannennungeng berharap Program Mannennungeng dapat menjadi model pertanian cerdas yang direplikasi di berbagai daerah, serta memberikan kontribusi nyata bagi terwujudnya swasembada pangan yang berkelanjutan di Indonesia. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.