Oleh :
Prof. Haedar Akib, Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH), Anggota Senat Akademik Universitas Negeri Makassar (UNM)
Prof. Darman Manda, Ahli Filologi, Dosen Jurusan Sosiologi dan Antropologi FISH Universitas Negeri Makassar (UNM)
Judul opini ini mengingatkan tepuk-tangan meriah dan anggukan kepala sejumlah peserta Kolaborasi Seminar Northern Illinois University (NIU) & Universitas Negeri Makassar (UNM) di Kampus NIU DeKalb, Illinois, Amerika Serikat (2016). Ketika itu, penulis (Prof. Haedar Akib) “bercocologi” karena menyarankan kepada Dosen NIU agar mengganti istilah lama yang dikutip dalam paper yang telah dipresentasikan, “data reduction” (reduksi data) menjadi “data condensation” (kondensasi data). Penulis berargumen perubahan istilah reduksi data menjadi kondensasi data dalam “model interaktif” analisis data penelitian kualitatif (Miles, Huberman dan Saldana, 2014) dilakukan gara-gara terinspirasi sewaktu berwisata ke Indonesia dengan “tampilan ramput panjang Wanita yang rapih dan menarik” karena “dikonde” bukan dikikis atau direduksi. Secara etimologis (asal usul) kata “konde” itulah yang membentuk kata kondensasi (condensation) karena rambut terurai terlihat seperti “data”, apalagi jika tidak disisir atau dirapikan.
Dalam ujian tesis atau disertasi mahasiswa ada sebuah istilah penguji yang terdengar sederhana dan cenderung dianggap sebagai gurauan akademik, “cocologi.” Istilah ini dipakai penguji untuk menyindir kebiasaan peneliti atau seseorang yang terlalu mudah mencocok-cocokkan sesuatu, seperti data dengan teori, temuan dengan konsep, fenomena dengan istilah, bahkan nama suatu model temuan atau kebaruan (novelty) penelitian dengan akronim yang sengaja dibuat agar tampak menarik.
Dalam percakapan sehari-hari, “cocologi” seringkali berkonotasi negatif, seolah-olah mencocokkan sesuatu berarti memaksakan hubungan yang sesungguhnya tidak ada. Namun, benarkah demikian? Jika kita telaah secara filosofis, “cocologi” justru menyimpan pertanyaan epistemologis (keilmuan) yang menarik, kapan mencocokkan sesuatu merupakan kekeliruan dan atau kapan mencocokkan sesuatu justru merupakan cara kita menemukan, menjelaskan, membangun pengetahuan? “Cocologi” dapat ditempatkan bukan semata-mata sebagai olok-olok akademik, melainkan kritik konstruktif sekaligus khazanah pengetahuan yang selama ini kurang diperhatikan.
***
Secara terminologis, “cocologi” bukan istilah baku dalam filsafat ilmu atau metodologi penelitian, melainkan lebih tepat disebut sebagai istilah populer atau ungkapan kritis untuk menggambarkan tindakan kreatif mencocokkan, menemukenali kesesuaian, menghubungkan, menganalogikan, atau membangun padanan antara dua atau lebih hal. Dalam penelitian, seorang peneliti menemukan pola tertentu dari hasil observasi dan kemudian menyebutnya “model deskriptif”, salah satu jenis model menurut M. Syamsul Ma’arif dan Heri Tanjung (2003) dalam bukunya Manajemen Operasi, Penerbit PT Grasindo). Agar model itu mudah diingat, peneliti menyusun akronim dari beberapa unsur utama temuannya.
Pertanyaannya, jika elemen dalam akronim memang berasal dari hasil penelitian dan secara substantif menggambarkan karakteristik model, apakah itu “cocologi”? Jawabannya bisa jadi iya, jika akronim tersebut hanya dipaksakan agar terlihat ilmiah. Tetapi, bisa juga bukan “cocologi” dalam pengertian negatif apabila penamaannya merupakan representasi yang masuk akal terhadap struktur temuan penelitian. Dengan demikian, persoalannya bukan pada aktivitas “mencocokkan”, melainkan pada kualitas hubungan yang dicocokkan.
“Cocologi” menarik dipahami secara filosofis karena perdebatan tentang kebenaran pada dasarnya merupakan perbincangan serius tentang kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan sesuatu yang menjadi dasar pembenarannya. Dalam literatur filsafat kontemporer, setidaknya dikenal teori korespondensi, koherensi, dan pragmatis tentang kebenaran (Teori Kebenaran Ilmiah, menurut Abdulloh Faqih dan Ahmad Djuaini, dalam Jurnal Ar-Rasyid, Volume 2 No 8, 2026).
Menurut teori korespondensi, suatu pernyataan benar apabila terdapat kesesuaian antara pernyataan dengan kenyataan atau faktanya. Idenya sederhana, apa yang dikatakan benar apabila memang demikian keadaannya. Stanford Encyclopedia of Philosophy menjelaskan, inti teori korespondensi adalah hubungan antara keyakinan atau proposisi dengan bagaimana sesuatu sebenarnya terjadi dalam realitas. Dalam perspektif ini, “cocologi” tidak otomatis salah. Seorang peneliti atau pembaca! mengamati bahwa pelayanan publik yang berkualitas memiliki lima karakteristik (cepat, akurat, mudah, transparan, dan responsif). Kemudian merumuskan sebuah model deskriptif dan memberinya nama berdasarkan lima unsur tersebut. Penamaan itu disebut sebagai “cocologi” apabila hanya mengejar akronim, namun apabila kelima unsurnya ditemukan secara konsisten dalam data lapangan dan nama model tersebut benar-benar merepresentasikan struktur temuan, maka terjadi korespondensi antara konsep, temuan, dan realitas empiris sebagai nilai ilmiahnya.
Kebenaran tidak hanya berkaitan dengan kecocokan terhadap fakta, tetapi juga dengan keterpaduan proposisi dengan sistem pengetahuan yang relevan. Teori koherensi memandang proposisi benar apabila koheren dengan seperangkat proposisi tertentu. Namun koherensi tidak direduksi sekadar menjadi “tidak bertentangan”, karena hubungan yang lebih kuat dapat berupa “keterikatan logis”. Contoh, sebuah model penelitian dinamakan MODEL “CERIA” – misalnya terdiri atas Cepat, Efektif, Responsif, Inklusif, Akuntabel. Nama tersebut memang “dicocokkan” dengan huruf awal konsep-konsepnya. Tetapi, secara ilmiah bermakna karena kelima unsur itu koheren dengan teori pelayanan publik, data hasil penelitian, indikator yang digunakan, dan kesimpulan yang dihasilkan. Dengan demikian, cocologi yang koheren dapat berubah menjadi konstruksi konseptual yang sahih.
Kaum pragmatis memberi perhatian pada konsekuensi praktis dari suatu keyakinan dan proses penyelidikan. Dalam pembacaan kontemporer terhadap Peirce, kebenaran dikaitkan dengan arah akhir penyelidikan, sementara James menekankan nilai praktis dari keyakinan yang benar. Artinya, sebuah istilah atau model tidak cukup hanya terdengar indah, melainkan pula berguna untuk menjelaskan, memprediksi, memahami, atau memecahkan persoalan. Jika akronim yang “dicocokkan” membantu kita memahami model, peneliti lain dapat mengingat dimensinya, dan praktisi menerapkannya, maka “cocologi” memperoleh legitimasi pragmatis dan sekaligus menemukan sebuah paradoks dimana sesuatu yang awalnya dianggap sebagai “cocoklogi” dapat menjadi pengetahuan karena kecocokannya terbukti bermakna.
Menariknya, fenomena mencocokkan tidak hanya dilakukan manusia, alam semesta sendiri menunjukkan keteraturan yang memungkinkan manusia menemukan hukum-hukum alam (Tuhan). Benda jatuh karena gravitasi, planet bergerak mengikuti keteraturan tertentu, air mendidih pada kondisi tertentu, siang dan malam terjadi karena rotasi bumi, dan berbagai fenomena alam menunjukkan pola yang dapat diamati, dirumuskan, diuji, dan dijelaskan. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan berkembang karena manusia menemukan kesesuaian antara pola pikir, pola zikir, dan pola perilaku (kenyataan).
Newton tidak menciptakan gravitasi, melainkan merumuskan hubungan matematis untuk menjelaskan keteraturan yang telah berlangsung dalam alam. Kepler tidak menciptakan orbit planet melainkan menemukan pola keteraturan gerak planet berdasarkan observasi. Einstein pun tidak membuat ruang-waktu menjadi relatif hanya karena teorinya mengatakan demikian, melainkan membangun teori yang berusaha menjelaskan struktur realitas berdasarkan bukti dan konsekuensi matematisnya. Demikian pula penulis (Prof. Haedar Akib) tidak mengikuti Karl Marx sebagai penggagas paradigma konflik melaikan mengabstraksikan realitas dengan judul opini, “Konflik sebagai Fenomena Organisasi Sepanjang Masa” (Tribun Timur, 2016), karena mulai dari Nabi Adam (manusia pertama), Adam Smith (penggagas teori pasar), Adam Malik (mantan Wakil presiden Republik Indonesia), hingga anak-cucu Adam-Adam yang akan lahir tidak terbebas dari konflik. Dengan kata lain, alam tidak “cocoklogi”, manusialah yang berusaha menemukan kecocokan antara representasi ilmiahnya dengan realitas.
Ada perbedaan mendasar antara cocologi yang asal cocok dan cocologi yang ilmiah, dimana yang pertama memulai dari nama lalu mencari pembenaran dan yang kedua memulai dari realitas, menemukan pola, menguji hubungan, lalu memberikan nama terhadap pola tersebut. Urutannya sangat berbeda. “Cocologi” menjadi problematis ketika minimal terdapat empat keadaan. Pertama, nama dibuat terlebih dahulu, kemudian data dipaksa masuk ke dalam nama tersebut. Kedua, analogi diperlakukan sebagai bukti. Kesamaan dua hal tidak otomatis membuktikan bahwa keduanya mempunyai hubungan kausal (sebab-akibat). Ketiga, akronim lebih penting daripada substansi. Peneliti sibuk mencari kata yang terdengar bagus tetapi lupa menjamin validitas konstruknya. Keempat, kecocokan hanya bersifat retoris bukan metodologis. Istilah tampak meyakinkan karena permainan kata, bukan karena didukung data, teori, dan proses pengujian. Dalam keadaan seperti ini, “cocologi” layak dikritik, namun jika pencocokan didasarkan pada data, teori, logika, bukti, validasi, dan kegunaan, maka upaya mencocokkan bukan lagi tindakan sembarangan, melainkan merupakan bagian dari proses ilmiah. Oleh karena itu, agar ”cocologi” menjadi khazanah pengetahuan ditawarkan formula sederhana:
Cocologi Ilmiah = Kesesuaian + Konsistensi + Korespondensi + Verifikasi + Kegunaan.
Atau secara konseptual:
CI = K + Ko + Kr + V + P
Keterangan:
K = Kesesuaian antara konsep dan objek;
Ko = Koherensi dengan teori dan pengetahuan yang telah ada;
Kr = Korespondensi dengan realitas empiris;
V = Verifikasi atau pengujian;
P = Pragmatisme atau kegunaan.
Semakin kuat kelima unsur tersebut, semakin kecil kemungkinan “cocologi” berubah menjadi sekadar permainan kata. Sebaliknya, apabila sebuah istilah hanya mempunyai kesesuaian bunyi atau akronim tetapi tidak mempunyai dasar empiris, teoritis, logis, dan pragmatis, maka itu hanyalah “cocok-cocokan.” Dengan demikian, perlu dipahami perbedaan antara “analogi” dengan “identitas.” Dua fenomena dapat dianalogikan karena mempunyai struktur tertentu yang serupa, tetapi bukan berarti keduanya identik. Demikian pula sebuah model penelitian menggunakan nama metaforis atau akronim, tetapi nama tersebut tidak otomatis membuktikan kebenaran model.
Ilmu pengetahuan berkembang melalui kemampuan manusia menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Konsep, teori, model, tipologi, klasifikasi, indikator, paradigma (pandangan dunia) semuanya lahir dari upaya menemukan pola hubungan. Bahkan proses kategorisasi merupakan tindakan mencocokkan karakteristik objek dengan kategori tertentu. Oleh karena itu, terlalu cepat menertawakan “cocologi” justru dapat membuat kita kehilangan satu khazanah penting dalam perkembangan pengetahuan berupa kemampuan menemukan pola kesesuaian. Peneliti boleh kreatif memberi nama model, membuat akronim, menggunakan analogi, atau menemukan istilah baru sepanjang tunduk pada satu prinsip ”nama tidak boleh mendahului kenyataan dan teori tidak boleh mengalahkan fakta.”
***
“Cocologi” mengajarkan satu pelajaran penting, dimana kebenaran bukanlah sekadar sesuatu yang terlihat cocok, tetapi sesuatu yang kecocokannya dapat dipertanggungjawabkan. “Cocologi” sebagai khazanah pengetahuan terabaikan karena mengandung dua wajah. Wajah pertama, kritik terhadap kecenderungan mencocok-cocokkan sesuatu secara serampangan. Wajah kedua, pengakuan bahwa pengetahuan manusia tumbuh dari kemampuan menemukan keteraturan, kesesuaian, koherensi, korespondensi, dan manfaat. Alam semesta memperlihatkan keteraturan itu jauh sebelum manusia mampu menamainya sebagai hukum alam (Sunnatullah). Manusialah yang kemudian mengamati, mencocokkan, menguji, merumuskan, dan akhirnya menyebutnya sebagai teori atau hukum. Dengan demikian, “cocologi” bukan sekadar cocoklogi, melainkan seni menemukan keteraturan yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai pengetahuan.









