Refleksi Adaptive Governance Berbasis “Karakter Kucing”

oleh -133 x dibaca
Syafiq Dhamiri bin Ayop, MBA - Prof. Haedar Akib

Oleh: 

  Syafiq Dhamiri bin Ayop, MBA., Pensyarah dan Timbalan Pengarah Akademik Pengantarbangsaan, University Poly-Tech Malaysia (UPTM). 

 Prof. Haedar Akib, Ketua Jurusan Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H), Anggota Senat Akademik Universitas Negeri Makassar (UNM). 

Opini ini mengingatkan penulis (Haedar Akib) ketika sedang dijamu makan oleh dosen, Helen Edward, M.Sc., bersama suaminya, Ian Edward, M.Sc., di Kota Kecil Bendigo, Australia (1998). Saat itu, bu’ Helen menyampaikan kepada kami, 14 peserta “Intensive English Course” di LaTrobe University, bahwa “kucing tua peliharaannya mampu mendengar 16 perintah dalam Bahasa Inggris.” Ketika itu pula, teman berbisik kepada penulis, ”kalah taat kita dengan kucing peliharaan bu’ Edward. Penulis hanya merespon, kucing memang merupakan “simbol binatang adaptif” yang belajar dari pengalaman naluriahnya sehingga mampu bertahan hidup sejak lama. Ungkapan yang kemudian sering dikaitkan dengan Charles Darwin, bahwa “bukan yang paling kuat yang dapat bertahan hidup melainkan yang mampu belajar dan beradaptasi terhadap perubahan”, sesungguhnya menggambarkan perkembangan kehidupan saat ini yang menuntut kita untuk belajar sepanjang hayat dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

***

Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI), perubahan iklim, krisis ekonomi-politik global, pandemi, transformasi digital hingga dinamika geopolitik mengubah cara manusia hidup, bekerja, dan mengambil keputusan. Dalam situasi seperti ini, keberhasilan suatu negara, organisasi, atau individu, termasuk pembaca! tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki (dikuasai), tetapi juga kemampuan membaca perubahan dan menyesuaikan diri secara cepat dan tepat. Kesadaran ini menguatkan konsep “Adaptive Governance” yang telah berkembang sejak awal tahun 2000-an sebagai salah satu paradigma mainstream dalam ilmu tata kelola modern. Carl Folke dkk. (2005) dalam artikelnya Adaptive Governance of Social-Ecological Systems, Annual Review of Environment Resource, (30), h. 441-473, menjelaskan bahwa adaptive governance merupakan tata kelola yang mampu belajar secara berkelanjutan, membangun kolaborasi, menyesuaikan kebijakan berdasarkan dinamika lingkungan yang berubah. Dengan kata lain, tata kelola merupakan ekosistem yang hidup, terus belajar, beradaptasi, dan berkembang sesuai konteksnya.

Menariknya, nilai-nilai tersebut ditemukan pada makhluk yang dekat dengan kehidupan kita, kucing. Hewan peliharaan rumahan ini menyimpan banyak pelajaran tentang kemampuan beradaptasi, bahkan dalam tradisi Islam, kucing memiliki tempat istimewa melalui kisah sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan nama “Abu Hurairah” berarti “ayah dari anak kucing”. Julukan itu diberikan karena kecintaan beliau kepada seekor anak kucing yang selalu dibawanya. Kisah ini menunjukkan, perhatian kita terhadap makhluk hidup merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan dalam agama Islam.

***

Kaitan antara “karakter perilaku kucing” dengan konsep adaptive governance terletak pada kemampuan beradaptasi. Secara biologis, keluarga “Felidae” (kucing) merupakan salah satu kelompok mamalia yang mampu bertahan hidup melewati berbagai perubahan lingkungan selama jutaan tahun. Para ahli evolusi menjelaskan, keberhasilan kelompok ini bukan karena ukuran tubuhnya paling besar atau kekuatan fisiknya, melainkan kemampuannya beradaptasi dengan pola berburu dan mempertahankan habitat, hingga strategi bertahan hidup menghadapi perubahan kondisi alam. Sejarah kehidupan makhluk Tuhan juga menunjukkan, banyak spesies purba, seperti Dinosaurus, tidak mampu melewati perubahan lingkungan yang sangat drastis sehingga akhirnya menghilang dari muka bumi. Realitas sejarah tersebut menunjukkan, prinsip “keberlangsungan hidup lebih banyak ditentukan oleh kapasitas adaptasi dibandingkan dominasi, apalagi mendominasi orang atau pihak lain.” Prinsip ini menjadi inti dari konsep tata kelola yang adaptif diterapkan.

BACA JUGA:  AKHIRI KEGELAPAN, JEMPUT FAJAR KHILAFAH RASYIDAH

Carl Folke dkk (2005) menyatakan, tata kelola adaptif dibangun di atas kemampuan sistem untuk belajar, menyesuaikan diri, berkolaborasi, dan mengembangkan inovasi ketika menghadapi ketidakpastian. Pemikiran itu sesuai dengan penjelasan Vincent Ostrom, Charles M. Tiebout and Robert Warren dalam tulisannya berjudul The Organization of Government in Metropolitan Areas (The American Political Science Review, Vol. 55, No. 4, Dec., 1961). Kemudian, diperkuat oleh Thomas Dietz, Elinor Ostrom, dan Paul C. Stern (2008) dalam artikelnya The Struggle to Govern the Commons, mengenai konsep “polycentric governance”, model tata kelola yang melibatkan banyak aktor dalam proses pengambilan keputusan. Mereka sepaham, persoalan publik yang kompleks tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah tanpa melibatkan perguruan tinggi, masyarakat, dunia usaha dan industri, media, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lain sebagai bagian dari solusinya.

Jika dicermati lebih jauh, karakter perilaku kucing mencerminkan prinsip-prinsip generik tata kelola tersebut. Kucing sebagai “pengamat yang baik”, sebelum melompat hampir selalu memperhatikan arah, jarak, posisi, bahkan potensi ancaman di sekitarnya, dan tidak bertindak tergesa-gesa seperti terlihat pada penumpang pesawat baru mendarat yang sangat terburu-buru mengaktifkan ponselnya sementara instruksinya belum dibolehkan. Dalam konteks tata kelola, karakter perilaku kucing mengajarkan pentingnya evidence-based policy (EBP), seperti pendekatan yang dikembangkan oleh Ray Pawson (2002), dalam artikelnya berjudul “Evidence and Policy and Naming and Shaming” pada jurnal Policy Studies, Volume 23 no 3. Kebijakan lahir bukan dari asumsi atau kepentingan sesaat, melainkan dari kemampuan aktor membaca data, memahami perubahan lingkungan, dan mendengarkan berbagai perspektif. Realitasnya, banyak organisasi, termasuk daerah gagal bukan karena kekurangan sumber daya tetapi gagal membaca perubahan karena merasa nyaman dengan sukses masa lalu sehingga kehilangan sensitivitas terhadap lingkungan dan tantangan baru yang dihadapi. Akibatnya, keputusan-kebijakannya usang sebelum sempat dijalankan secara optimal.

Kucing memiliki fleksibilitas yang luar biasa, dapat hidup di berbagai lingkungan, mulai dari kawasan pegunungan, padang pasir, hingga perkotaan yang padat, termasuk di kantor dan di rumah pembaca! Kemampuan tersebut bukan berarti mengubah identitasnya, melainkan mengubah strategi hidupnya sesuai situasi yang dihadapi, sebagai bentuk daya adaptasi yang sesungguhnya. Dalam konteks pemerintahan modern, adaptasi bukan berarti mengubah aturan atau rencana strategis pembangunan setiap saat, seperti ketika terjadi pergantian tampuk kepemimpinan di negeri ini! Adaptasi berarti mengubah tata cara mencapai tujuan ketika lingkungan mengalami perubahan, tetapi tidak perlu mengubah regulasi demi interest diri atau kelompok, seperti analogi “kalau rumah kemasukan tikus, tikusnya yang dibasmi bukan rumahnya dibakar. Regulasi yang terlalu kaku berpotensi memperlambat pelayanan publik dan sebaliknya tata kelola yang adaptif relatif mampu melakukan perbaikan tanpa kehilangan arah kebijakan.

BACA JUGA:  Menguatkan Kemandirian Pangan Perkotaan Watampone melalui Urban Farmin

Kucing sebagai ”pembelajar yang cepat”, sebagaimana realitas anak kucing peliharaan pembaca!, yang belajar mengenali lingkungan, berburu tikus, menghindari bahaya, hingga membangun kepercayaan tuannya melalui pengalaman. Analoginya, belajar melalui proses dan pengalaman naluriah. Jika dipersonifikasi, bersesuaian dengan penjelasan Ronald Heifetz dalam bukunya berjudul The Practice of Adaptive Leadership yang menyebut kemampuan seperti ini sebagai model ”Kepemimpinan Adaptif.” Menurut Heifetz, tantangan terbesar kita dan organisasi modern bukan persoalan teknis semata, melainkan persoalan kapabilitas adaptif yang mensyaratkan perubahan cara berpikir dan bersikap, serta “cara berzikir” menurut penulis. Setiap pemimpin tidak cukup sebagai pemberi instruksi, tetapi juga fasilitator dan akselerator pembelajaran multilevel (individu, kelompok, organisasi). Dalam dunia pendidikan misalnya, perguruan tinggi dituntut membangun budaya belajar yang adaptif. Sifat dinamis kurikulum tidak hanya mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan seni (Ipteks), tetapi juga mampu mengantisipasi kebutuhan masa depan. Demikian pula, mahasiswa dan alumni tidak cukup dibekali pengetahuan, melainkan pula kemampuan belajar sepanjang hayat, berpikir kritis, berkolaborasi dan menyesuaikan diri dalam menghadapi masalah yang belum pernah dialami sebelumnya (Haedar Akib dan Rifdan, “Universitas Kehidupan” bagi Pembelajar Sepanjang Hayat, https://tribunboneonline.com/2026/02/02/universitas-kehidupan-bagi-pembelajar-sepanjang-hayat/).

Kucing memiliki keseimbangan yang luar biasa. Kemampuannya menjaga keseimbangan tubuh bahkan ketika menghadapi situasi sulit telah lama menjadi objek penelitian para ilmuwan. Filosofi ini mengingatkan bahwa organisasi juga membutuhkan keseimbangan antara stabilitas dan perubahan. Terlalu mempertahankan status quo akan membuat organisasi tertinggal jauh, tetapi perubahan yang dilakukan tanpa arah juga menimbulkan ketidakpastian tujuan, apalagi di era Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA) saat ini. Adaptive governance tidak mengajarkan perubahan demi perubahan, melainkan sebaliknya tata cara beradaptasi pada perubahan secara bertanggung jawab melalui pembelajaran, hasil evaluasi, dan kolaborasi.

Kucing tidak mudah panik ketika menghadapi lingkungan baru, melainkan mengamati, mengenali, kemudian perlahan menyesuaikan perilakunya. Sikap ini sangat relevan dengan konsep ”resilience”, sebagai kemampuan suatu sistem untuk bangkit, belajar, dan menjadi lebih baik setelah menghadapi gangguan. Resiliensi tidak berarti kebal terhadap krisis, melainkan mampu mengubah krisis menjadi kesempatan untuk bertransformasi, sebagaimana jawaban Dr. Rudi Salam dalam disertasinya yang penulis uji (Haedar Akib) di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang. Organisasi yang resilien bukan berarti tidak pernah mengalami masalah tetapi mampu belajar dari setiap masalah. Di sinilah refleksi terhadap ”Abu Hurairah” menarik dicermati. Julukannya sebagai ayah dari anak kucing bukan hanya menggambarkan kecintaan kepada seekor hewan tetapi juga menunjukkan arti kepemimpinan yang baik selalu dimulai dari empati, kasih sayang, dan kepedulian terhadap kehidupan. Nilai intrinsik tersebut sejalan dengan semangat adaptive governance yang menempatkan manusia sebagai pusat dari proses tata kelola.

BACA JUGA:  Reinterpretasi Alquran Sebagai Kitab Sosial; Meneguhkan Spirit Keislaman dalam Kehidupan Berbangsa

Dalam konteks ”Indonesia Madani”, konsep adaptive governance ini penting diwujudkan seiring dengan tantangan pembangunan multidimensional yang semakin kompleks. Persoalan perubahan iklim, transformasi digital, ketahanan pangan, kualitas pendidikan dan kesehatan, keamanan siber, hingga perkembangan kecerdasan buatan menuntut tata kelola yang mampu bergerak lebih cepat daripada perubahan itu sendiri. Pemerintah tidak cukup hanya membuat regulasi, tetapi juga membangun budaya belajar, memperkuat kolaborasi lintas-sektor dan lini, serta membuka ruang inovasi bagi publik. Perguruan tinggi pun menghadapi tantangan serupa dimana kampus tidak lagi cukup sebagai pusat membangun peradaban dan transfer Ipteks yang berdampak, tetapi juga secara internal sebagai bagian dari penciptaan ekosistem pembelajaran yang Produktif, Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Humanis, Bermakna, (ber)Kasih Sayang, yang disingkat PAIKEMHUBKAN menurut Hasmiyati dan Haedar Akib, https://tribunboneonline.com/2026/07/03/makna-perjalanan-hidup-dari-rumah-persahabatan-ke-rumah-tuhan). Sivitas akademika (Dosen, mahasiswa) dituntut selalu aktif memperbarui kompetensinya dan menjadi pembelajar mandiri, serta tata kelola akademiknya merespons perkembangan Ipteks dan kebutuhan dunia kerja yang berubah sangat cepat.

***

Refleksi karakter perilaku kucing mengajarkan kepada kita bahwa kemampuan bertahan bukan hanya milik orang yang paling kuat, melainkan pula orang-orang yang siap menghadapi perubahan. Kucing mengamati sebelum bertindak, belajar dari pengalaman naluriah, menjaga keseimbangan, mampu menyesuaikan diri, mempertahankan identitasnya di tengah perubahan lingkungan. Nilai-nilai intrinsik ini merupakan refleksi dari esensi adaptive governance, seperti dinyatakan oleh pakarnya dan yang kita baca saat ini. Kucing begitu dekat dengan kehidupan manusia sejak ribuan tahun lalu karena bukan sekadar hewan peliharaan yang menghibur, tetapi juga sebagai simbol ketahanan, pembelajaran, dan kemampuan beradaptasi. Oleh karena itu, dalam era VUCA ini, kita perlu belajar dari karakter perilaku kucing yang tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, peka membaca perubahan, terus belajar, dan tetap tenang menghadapi berbagai kemungkinan, karena masa depan bukan hanya milik orang yang cerdas atau berkuasa, melainkan pula milik kita dan orang-orang yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai baik yang melekat sebagai jati dirinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.