Merajut Identitas Baru: Transformasi Sosial Wajo dari ”Warisan Sutera” ke ”Tradisi Santri”

oleh -333 x dibaca
Prof. Dr. Haedar Akib - Teguh Ahmad Asparill, S.Tr., CBEc

Oleh: 

Prof. Dr. Haedar Akib, Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM), Dosen Program Pascasarjana Universitas Puangrimaggalatung (UNIPRIMA) Sengkang.

 Teguh Ahmad Asparill, S.Tr., CBEc., Mahasiswa Program Magister Ilmu Administrasi Publik UNIPRIMA Sengkang, ASN pada Disdukcapil Kabupaten Wajo.

Tema merajut identitas baru ini dengan fokus transformasi sosial pada lokus masyarakat Wajo merupakan refleksi hasil diskusi penulis bersama mahasiswa Program Magister Ilmu Administrasi Publik Univeristas Puangimaggalatung (UNIPRIMA) Sengkang. Transformasi sosial dipahami bukan sekadar perubahan struktur ekonomi atau pergeseran budaya, melainkan proses panjang yang menyentuh identitas kolektif suatu masyarakat. Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan merupakan contoh menarik suatu daerah yang merekonstruksi identitasnya dari basis ekonomi tradisional menuju orientasi sosial-religius yang lebih kuat.

***

Selama berabad-abad, Wajo dikenal sebagai “Tanah Sutera”, pusat produksi kain sutera yang tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga mengandung simbol budaya dan status sosial. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, muncul fenomena baru menguatnya tradisi santri sebagai wajah alternatif identitas masyarakat Wajo. Perubahan ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor ekonomi, pendidikan, religiusitas, dan dinamika global.

Warisan sutera di Wajo bukan sekadar produk kerajinan, tetapi bagian dari sistem sosial yang terintegrasi. Produksi sutera melibatkan relasi keluarga, jaringan ekonomi lokal, serta nilai-nilai kerja keras dan ketekunan. Dalam perspektif sosiologi ekonomi, aktivitas tersebut membentuk apa yang disebut sebagai ”embedded economy”, konsep yang dikenalkan pertama kali oleh Karl Polanyi dalam karyanya Origins of Our Time: The Great Transformation (1944) di mana praktik ekonomi melekat pada struktur sosial dan budaya masyarakat. Dengan kata lain, kegiatan ekonomi tidak hanya dipengaruhi oleh kekuatan pasar murni, tetapi juga oleh norma, nilai, dan relasi sosial-budaya yang ada di dalam masyarakat dimana beroperasi. Dalam hal ini, sutera menjadi simbol status, alat pertukaran sosial, sekaligus identitas kultural yang diwariskan lintas generasi. Namun, globalisasi dan industrialisasi membawa tantangan serius seiring masuknya produk tekstil massal dengan harga lebih murah sehingga menyebabkan penurunan daya saing sutera lokal. Selain itu, perubahan preferensi generasi muda yang lebih tertarik pada sektor formal dan digital turut mempercepat erosi praktik tradisional ini.

Dalam konteks tersebut, Wajo mengalami dislokasi identitas ekonomi dimana ketika basis ekonomi tradisional melemah, maka masyarakat mencari sumber legitimasi baru untuk mempertahankan kohesi sosial dimana peran institusi pendidikan agama semakin signifikan. Pesantren dan lembaga pendidikan Islam mulai berkembang pesat, tidak hanya sebagai pusat pembelajaran agama, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan jaringan sosial baru. Tradisi santri yang sebelumnya lebih identik dengan wilayah tertentu di Jawa, kini menemukan ruang artikulasinya di Wajo.

BACA JUGA:  PASAR MODAL SYARIAH: INVESTASI HALAL DI TENGAH GEJOLAK EKONOMI GLOBAL

Transformasi menuju tradisi santri ini jika dipahami melalui perspektif teori modernisasi refleksif – seperti digagas oleh Tajfel, H., Turner, J. C., Austin, W. G., & Worchel, S., dalam tulisannya berjudul An integrative theory of intergroup conflict Organizational Identity (1979) – berarti bahwa masyarakat tidak lagi sekadar menerima perubahan dan inovasi secara pasif, tetapi secara aktif memilih nilai-nilai yang dianggap relevan untuk menjawab tantangan zaman. Tradisi religiusitas menjadi sumber makna baru yang memberikan orientasi hidup, stabilitas moral, dan legitimasi sosial. Tradisi santri tidak hanya mencerminkan peningkatan kesalehan individual, tetapi juga pembentukan habitus baru dalam kehidupan sosial, seperti penguatan etika kolektif, solidaritas berbasis keagamaan, serta peningkatan partisipasi dalam kegiatan sosial-keagamaan.

Fenomena tersebut juga berkaitan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan sebagai instrumen mobilitas sosial. Pesantren atau ”institusi pendidikan terpadu” tidak lagi dianggap sebagai lembaga pendidikan alternatif, melainkan sebagai pilihan strategis yang mampu menghasilkan sumber daya manusia dengan kombinasi pengetahuan agama dan keterampilan sosial. Banyak keluarga di Wajo kini menjadikan pendidikan terpadu atau pesantren sebagai investasi jangka panjang bagi anak-anak mereka. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi nilai dari ekonomi berbasis produksi menuju ekonomi berbasis pengetahuan dan moralitas.

Namun, transformasi ini tidak berarti menghapus sepenuhnya identitas lama. Sebaliknya, yang terjadi adalah proses ”hibridisasi identitas.” Warisan sutera tetap menjadi simbol budaya yang memiliki nilai historis dan estetis, sementara tradisi santri menjadi representasi identitas baru yang lebih adaptif terhadap perubahan sosial. Dalam kerangka teori identitas sosial, kondisi ini mencerminkan adanya multiple-identities karena individu dan kelompok mengintegrasikan berbagai identitas sekaligus tanpa harus mengalami konflik yang tajam.

***

Transformasi sosial di Wajo tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipicu oleh berbagai faktor struktural dan kultural. Salah satunya adalah tekanan globalisasi yang memengaruhi keberlanjutan industri sutera lokal. Masuknya produk tekstil massal dengan harga lebih murah menyebabkan penurunan daya saing sutera tradisional. Selain itu, perubahan preferensi pasar dan pola konsumsi masyarakat turut mempercepat penurunan minat terhadap produk sutera lokal. Di sisi lain, generasi muda Wajo mulai beralih dari sektor tradisional menuju sektor formal dan digital yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. Hal ini menyebabkan terjadinya disrupsi dalam sistem pewarisan keterampilan menenun. Ketika aktivitas ekonomi tradisional melemah, masyarakat menghadapi krisis identitas, yaitu kondisi di mana simbol-simbol lama tidak lagi mampu memberikan makna dan legitimasi sosial.

BACA JUGA:  MENGUATKAN IDENTITAS GENERASI MUDA MELALUI LITERASI KEARIFAN LOKAL

Pada konteks tersebut, religiusitas muncul sebagai alternatif sumber makna yang baru. Menguatnya tradisi santri dipahami sebagai respons terhadap kebutuhan akan stabilitas moral dan orientasi hidup di tengah ketidakpastian sosial. Pendidikan pesantren menawarkan tidak hanya pengetahuan agama, tetapi juga pembentukan karakter multi-kewirausahaan, disiplin, dan jaringan sosial yang kuat. Hal ini menjadikan pesantren sebagai institusi strategis dalam membangun kembali kohesi sosial masyarakat. Selain itu, fenomena ini juga berkaitan dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai instrumen mobilitas sosial. Banyak keluarga di Wajo melihat pendidikan agama sebagai investasi jangka panjang yang tidak hanya memberikan nilai spiritual, tetapi juga peluang sosial dan ekonomi. Dalam perspektif teori modernisasi refleksif, menurut Walt Whitman Rostow dalam bukunya berjudul The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto (1960), masyarakat tidak lagi sekadar mengikuti arus perubahan, tetapi secara aktif memilih nilai-nilai yang dianggap relevan dengan kebutuhan mereka. Teori modernisasi refleksif adalah pendekatan modernisasi yang menekankan analisis kritis terhadap proses modernisasi, mempertimbangkan konteks lokal, faktor eksternal, dan interaksi antara nilai tradisional dan modern.

Faktor lain yang turut memperkuat transformasi tersebut adalah peran aktor lokal, seperti tokoh agama, pendidik, dan pemerintah daerah, dalam mendorong pengembangan lembaga pendidikan terpadu (Islam). Dukungan ini mempercepat proses institusionalisasi tradisi santri dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, transformasi sosial Wajo merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor ekonomi, pendidikan, religiusitas, dan kebijakan lokal.

***

Tantangan utama dalam proses tersebut adalah menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan adaptasi terhadap perubahan. Jika tidak dikelola dengan baik, transformasi ini berpotensi menimbulkan disintegrasi sosial, terutama ketika terjadi marginalisasi terhadap kelompok yang masih bergantung pada ekonomi tradisional sutera. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang mampu mengintegrasikan kedua aspek tersebut secara harmonis. Misalnya, pengembangan industri kreatif berbasis sutera yang dikombinasikan dengan nilai-nilai keislaman sebagai strategi inovatif untuk memperkuat identitas lokal sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi. Selain itu, merevitaslisasi fungsi dan peran pemerintah daerah dan aktor lokal dalam mengarahkan transformasi ini agar tidak berjalan secara sporadis. Pendekatan penta-helix collaborative governance dapat menjadi solusi, di mana pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, lembaga pendidikan, dan pers bekerja sama dalam merancang arah pembangunan multidimensi yang inklusif dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, pesantren berfungsi sebagai agen perubahan sosial (agent of change) yang tidak hanya berperan dalam pendidikan, tetapi juga dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.

BACA JUGA:  Check and Balance dalam Implementasi Kebijakan Publik: Saran untuk Pemangku Kepentingan Daerah

Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, transformasi sosial Wajo memiliki relevansi yang kuat dengan tujuan pembangunan global, khususnya dalam aspek pendidikan berkualitas, pekerjaan layak, dan pengurangan ketimpangan. Integrasi antara warisan budaya dan nilai religius menciptakan model pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penguatan identitas dan kesejahteraan sosial. Dengan kata lain, Wajo memiliki prospek sebagai contoh pengembangan kompetensi lokal dalam membangun identitas baru tanpa kehilangan akar budayanya, karena identitas dimaksud bukan sesuatu yang statis, melainkan terus mengalami negosiasi dan redefinisi.

***

Perubahan tagline Wajo dari “Tanah Sutera” menuju “Tradisi Santri” bukanlah sekadar pergeseran simbolik, tetapi refleksi dari kemampuan masyarakatnya berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Fenomena ini merupakan kisah tentang ketahanan sosial, kreativitas kultural, dan pencarian makna baru dalam menghadapi ketidakpastian global. Identitas baru yang dirajut bukanlah pengganti identitas lama, melainkan hasil sintesis yang memperkaya karakter masyarakat Wajo. Proses “merajut identitas baru” ini berlangsung dan akan terus dipengaruhi oleh dinamika internal maupun eksternal. Dengan demikian, transformasi sosial Wajo memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang pembangunan multidimensional yang tidak hanya menyangkut infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi semata, melainkan pula meliputi upaya masyarakat membangun kembali narasi dirinya. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menjaganya agar transformasi ini tetap berada dalam koridor yang konstruktif, inklusif, dan berkeadilan. Semoga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.