Habib dan Teresa: Menjawab Kelaparan dan Keterbelakangan dengan Cinta

oleh -93 x dibaca
Hafid Abbas

Oleh : Hafid Abbas

Professor Tamu di Asia Center Harvard University, 2006

 

Di tengah dunia yang kerap gaduh oleh perbedaan identitas, kepentingan politik, dan batas-batas sosial, kita sering lupa bahwa fondasi terdalam peradaban suatu bangsa bukanlah kekuasaan, melainkan kemanusiaan. Agama, pada titik paling sunyi dan jernih, sesungguhnya berbicara tentang cinta yang bekerja—cinta yang menjelma menjadi tindakan nyata. Cinta yang tidak berhenti pada wacana, tetapi turun ke jalan-jalan sunyi tempat orang lapar menunggu uluran tangan, atau di ruang-ruang pengap tempat mereka yang sakit berharap diperlakukan sebagai manusia.

Dalam ruang inilah pengabdian Habib Abubakar bin Hasan Alatas Azzabidi menemukan makna hidupnya. Sebagai Mufti Besar Kesultanan Moloku Kieraha di Maluku Utara, perannya tidak berhenti pada otoritas keilmuan atau mimbar ceramah. Dakwah baginya bukan semata bil lisan (melalui kata) atau bil qalam (melalui tulisan), melainkan terutama bil hal—melalui tindakan nyata. Agama, dalam praksisnya, harus menyentuh luka paling nyata dalam kehidupan umat manusia.

Keberpihakan Habib kepada para penderita kusta di Maluku Utara memperlihatkan bagaimana dakwah dapat menjadi jalan pemulihan martabat. Penyakit kusta bukan hanya persoalan medis; ia membawa stigma sosial yang kerap lebih menyakitkan daripada gejala dan penyakinya itu sendiri. Mereka yang mengalaminya sering terasing, dipandang dengan curiga, bahkan diisolasi oleh keluarganya sendiri, dan dijauhkan dari kehidupan sosialnya. Dalam situasi seperti itu, bantuan finansial saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah sentuhan empati yang mengakui mereka sebagai manusia utuh—bukan sekadar objek belas kasihan.

Melalui penyaluran zakat dan dukungan sosial bernilai besar, Habib berupaya menghapus bukan hanya penderitaan material, tetapi juga rasa malu dan keterasingan. Di sini, dakwah berubah menjadi rekonstruksi martabat. Manusia tidak lagi dilihat dari cacat fisiknya, melainkan dari hakikatnya sebagai pribadi bermakna. Cinta bekerja dengan cara memulihkan harga diri yang nyaris runtuh.

Upaya lain yang tak kalah penting adalah distribusi pangan dalam skala besar dan berkelanjutan. Puluhan ton beras dibagikan setiap bulan kepada keluarga kurang mampu. Di kediamannya di Depok, gudang beras selalu terisi, seolah menjadi simbol bahwa kepedulian tak boleh mengenal kata kosong. Pada Ramadhan 2026, di kediamannya di Tetrnate, ribuan orang setiap hari memperoleh makanan berbuka, makan malam, hingga sahur. Aktivitas ini bukan sekadar program sosial musiman, melainkan komitmen yang selalu terjaga ritmenya.

BACA JUGA:  TRANSFORMASI PEREKONOMIAN SULSEL DI TENGAH KETIDAKPASTIAN GLOBAL

Habib memberi makan yang lapar tampak sederhana, tetapi sesungguhnya ia menyentuh akar stabilitas sosial. Kelaparan dan kemiskinan ekstrem kerap menjadi bara dalam sekam konflik. Perut yang kosong mudah tersulut amarah, sementara kebutuhan dasar yang terabaikan menciptakan jurang kecemburuan sosial. Dengan memastikan kebutuhan pangan terpenuhi, sesungguhnya sedang dibangun tembok tak kasatmata yang menahan masyarakat dari potensi ketegangan. Pangan di sini bukan sekadar beras; ia adalah jembatan persaudaraan.

Perhatian pada pendidikan melalui beasiswa bagi anak-anak dari keluarga marginal menunjukkan visi jangka panjang. Jika bantuan pangan menjawab hari ini, pendidikan menjawab hari esok. Kemiskinan sering kali bersifat struktural dan turun-temurun. Tanpa intervensi, ia mereproduksi dirinya sendiri dari generasi ke generasi. Anak-anak yang tumbuh tanpa akses pendidikan berkualitas akan menghadapi peluang hidup yang sempit, dan terus terbelenggu dalam lingkaran keterbatasan yang terus berputar. Oleh Oscar Lewis, seorang Antropolog America pada abad ke-20 menyebut hal seperti ini sebagai “a culture of poverty”, hidup dalam belenggu kemiskinan.

Habib melihat dukungan biaya pendidikan membuka kemungkinan mobilitas sosial. Anak-anak yang semula terkungkung keterbatasan memperoleh peluang untuk menata masa depan berbeda. Dakwah dalam bentuk ini tidak sekadar karitatif, tetapi transformatif. Ia menggeser orientasi dari belas kasihan menuju pemberdayaan. Pendidikan menjadi jalan sunyi untuk membongkar tembok ketidakadilan yang selama ini terasa kokoh.

Di bidang kesehatan dan kemanusiaan darurat, Habib sebatas kemampuan yang dimiliki turun ke bawah atau mendorong murid-muridnya yang tersebar di seluruh pesosok negeri dan mancanegara melakukan respons cepat terhadap bencana—banjir, longsor, kebakaran, hingga letusan gunung berapi—menunjukkan kepekaan moral yang sigap. Bantuan pengobatan bagi masyarakat tidak mampu, serta inisiasi kegiatan donor darah lintas daerah, memperlihatkan bahwa kemanusiaan tidak boleh dibatasi geografi. Penderitaan di mana pun adalah panggilan yang sama. Solidaritas tidak mengenal jarak; ia hanya mengenal kebutuhan.

BACA JUGA:  Hari Ibu: Refleksi Feminisme di Tengah Realitas Ketidakadilan

Dalam konteks global, orientasi semacam ini mengingatkan kita pada pengabdian Mother Teresa di Kolkata, India. Melalui Missionaries of Charity, ia merawat mereka yang sekarat, memberi makan yang kelaparan, dan mendampingi mereka yang tersisih dari masyarakat. Pelayanannya melampaui batas agama dan kebangsaan. Teresa menunjukkan bahwa cinta adalah bahasa universal yang dapat dipahami siapa saja, bahkan oleh mereka yang tidak berbagi keyakinan yang sama.

Keduanya—Habib Abubakar dan Teresa—menunjukkan bahwa menjawab kelaparan dan keterbelakangan bukan hanya soal program sosial, tetapi soal sikap batin. Cinta, dalam pengertian ini, bukan sentimentalitas yang lembut dan pasif. Ia adalah energi moral yang mendorong seseorang untuk bertindak, bahkan ketika tidak ada sorotan kamera atau pujian publik. Ia bekerja dalam diam, tetapi dampaknya menjalar jauh.

Gagasan tentang cinta sebagai energi sosial juga pernah ditegaskan oleh Mahatma Gandhi: di mana ada cinta, di situ ada kehidupan. Cinta yang dimaksud bukanlah romantisme, melainkan kekuatan moral yang bekerja tanpa kekerasan. Ia membangun tanpa meruntuhkan, menyatukan tanpa memaksa. Dalam kerangka ini, pelayanan kepada kaum miskin bukanlah pilihan tambahan, melainkan inti dari etika kemanusiaan.

Bahkan sejak zaman klasik, Plato telah mengingatkan bahwa kebaikan yang dilakukan seseorang pada akhirnya memuliakan jiwanya sendiri. Memberi bukan hanya mengangkat penerima, tetapi juga membersihkan batin pemberi. Ada transformasi dua arah: yang ditolong memperoleh harapan, yang menolong menemukan makna.

Dalam perspektif pemikiran itu, dakwah berbasis kemanusiaan menemukan relevansinya bagi perdamaian global. Ia melampaui retorika dan menembus keseharian. Perdamaian bukan hanya kesepakatan politik atau dokumen diplomatik; ia tumbuh dari dapur-dapur yang mengepul untuk kaum lapar, dari ruang kelas yang membuka harapan, dari rumah sakit yang menyelamatkan nyawa, dan dari tangan yang menggenggam mereka yang terpinggirkan.

BACA JUGA:  BANK SYARIAH (6): MENCIPTAKAN PELUANG BARU BAGI INOVASI PEMBIAYAAN

Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh perbedaan identitas, pengabdian semacam ini mengajarkan bahwa cinta adalah fondasi terdalam kohesi sosial. Ia tidak bertanya tentang latar belakang, mazhab, suku, atau pilihan politik. Ia hanya mengenali satu identitas: manusia. Ketika kelaparan dijawab dengan makanan, ketika keterbelakangan dijawab dengan pendidikan, dan ketika penderitaan dijawab dengan kehadiran, maka cinta berhenti menjadi kata dan menjelma daya yang menggerakkan sejarah.

Pada akhirnya, baik Habib Abubakar bin Hasan Alatas Azzabidi maupun Mother Teresa memperlihatkan satu jawaban yang sama atas dua persoalan besar umat manusia: kelaparan dan keterbelakangan. Keduanya dijawab dengan cinta. Bukan cinta yang abstrak, melainkan cinta yang memberi makan, menyekolahkan, merawat, memeluk, dan memulihkan martabat.

Sebab sesungguhnya, kelaparan atas kasih sayang sering kali lebih buruk akibatnya daripada kelaparan atas makanan. Perut yang kosong memang melemahkan tubuh, tetapi hati yang kosong dari cinta dapat melumpuhkan jiwa, merusak harapan, bahkan memutuskan seseorang dari makna hidupnya. Di situlah cinta menemukan urgensinya yang paling dalam: ia bukan sekadar pelengkap kebajikan, melainkan kebutuhan dasar kemanusiaan.

Barangkali di sanalah bersemayam pesan paling hakiki dari dakwah yang bekerja melalui tindakan: bahwa hasrat untuk senantiasa memberi—tanpa pamrih dan tanpa sekat—merupakan jalan sunyi menuju perdamaian. Dunia tak selalu berubah oleh pidato-pidato besar; acap kali ia beralih arah oleh lumbung yang tak pernah kosong dan hati yang tak pernah lelah mencintai.

Tak keliru kiranya jika Jalaluddin Rumi pernah berujar, “The spirit of the universe is love.” Habib dan Terese pun terus hadir, menggenggam bara cinta yang mereka nyalakan bagi jiwa-jiwa yang tertinggal.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.