PilRek: Wujud Konflik Konseptual Manajemen Pengetahuan

oleh -136 x dibaca
(kiri), Prof. Haedar Akib. dan (Kanan) Andi Selvi Kartini Wonsu, S.Si., Apt., M.Tr.AP.

Oleh:

 Prof. Haedar Akib, Guru Besar Ilmu Administrasi, Angota Senat Universitas Negeri Makassar

 Andi Selvi Kartini Wonsu, S.Si., Apt., M.Tr.AP, Alumni Program Magister Terapan Administrasi Pembangunan Negara STIA-LAN Makassar, ASN pada RSUD Regional La Mappapenning

 

Konflik konseptual dalam organisasi berbasis pengetahuan ini menarik dibicarakan terkait adanya rencana kerja pelaksana tugas (Plt.) Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof. Dr. Farida Patittingi, SH., M.Hum., untuk menyelenggarakan pemilihan rektor (Pilrek) dalam waktu dekat. Konflik konseptual atau sering disebut perbedaan persepsi (apriori atau aposteriori/ berdasarkan pengalaman bersama) yang mendasari kemungkinan perbedaan pilihan calon rektor sebaiknya disepahami sebagai refleksi sekaligus bentuk apresiasi dan partisipasi warga kampus khususnya anggota senat dalam berdemokrasi secara santun (etis, estetis, kinestetis) atau harmonis menurut Basti Tetteng dalam tulisannya berjudul Pemilihan Rektor yang Kita Impikan: Kontestasi Gagasan dalam Harmoni Akademik, Fajar https://fajar.co.id/2026/02/12/pemilihan-rektor-yang-kita-impikan-kontestasi-gagasan-dalam-harmoni-akademik/).

***

Pada proses Pilrek di perguruan tinggi (PT) selama ini terlihat bahwa data, informasi dan pengetahuan melalui media massa (online, offline) merupakan komoditas, sumber daya, aset, dan kekuatan individu, kelompok (fakultas), organisasi (universitas, institut, sekolah tinggi, akademi), dan masyarakat akademis. Sedangkan modal intelektual (intellectual capital) dianggap sama pentingnya dengan modal manusia (human capital) karena institusi PT selalu mengedepankan pengetahuan (tersurat dan tersirat, menurut Nonaka & Takeuchi dalam bukunya, 1994, berjudul Knowledge Creating Company) orang-orang yang ada di dalamnya sebagai basis dalam bekerja. Atas dasar itu pula, individu, kelompok atau organisasi (institusi) PT yang kreatif-inovatif senantiasa mengelola informasi dan pengetahuan yang dimiliki untuk mendukung pencapaian tujuan strategis yang direncanakan dan menjaga “marwah akademik”. Dalam pengelolaannya, perspektif manajemen pengetahuan digunakan untuk menjelaskan nilai dasar dan orientasi nilai pengembangan instrumen, proses, sistem, struktur, dan kultur akademik PT.

Minimal dipahami empat sumber konflik konseptual yang perlu dicermati dari perspektif manajemen dalam organisasi berbasis pengetahuan. Pertama, perjuangan menyediakan dan mengendalikan beragam sumber daya yang dimiliki. Salah satu sumber konflik konseptual dalam mengembangkan inisiatif manajemen pengetahuan adalah perjuangan mengendalikan sumber daya (informasi, pengetahuan, wilayah, komunitas) tertentu. Fenomena seperti ini pernah terjadi di Indonesia, yaitu ketika tim pengembang nasional mengenalkan cara baru dalam menciptakan dan berbagi pengetahuan dan teknologi yang dapat mempercepat proses pembangunan ekonomi melalui “lompatan teknologi” gaya (almarhum) Bapak Profesor B.J. Habibie, atau disebut perspektif Habibienomic’s yang nampaknya berhadapan dengan perspektif Widjojonomic’s. Demikian pula – menurut pengamatan penulis – dalam kasus menjaga marwah akademik UNM, maaf! Profesor Husain Syam yang bergaya “benevolent authoritarian” (otoriter yang baik hati) untuk tujuan ketentraman dan kesejahteraan warga kampus UNM vis-a-vis dengan gaya Profesor Karta Jayadi setelahnya yang bertagline “humanis” sehingga terjadi penyesuaian dimensi proses pembelajaran yang semula hanya PAIKEM menjadi pembelajaran yang PAIKEMHUB (produktif, aktif, inovatif, efektif, menyenangkan, humanis, bermakna).

BACA JUGA:  BANK SYARIAH (3):  INKLUSI KEUANGAN UNTUK SEMUA DAN MENGAPA BANK SYARIAH LEBIH RELEVAN?

Kedua, konflik ideologi. Ideologi merupakan serangkaian keyakinan, norma, dan asumsi mengenai hubungan sebab-akibat yang menentukan cara orang mendiagnosis, memetakan, dan bertindak dalam menangani isu-isu atau masalah tertentu. Pada tataran makro, pengetahuan di masyarakat merupakan ragam budaya yang kompleks dan terdiri dari sub-budaya khas dengan basis ideologi yang dinamis. Konflik sub-budaya atau ideologi yang muncul bersama dengan segala kontradiksinya sering tidak tertangani dan secara virtual tidak diperhitungkan, kecuali setelah nyata akibat buruk yang ditimbulkan, seperti isu perundungan, terorisme, separatisme, atau mungkin pula dampak negatif yang akan muncul pasca-pilrek manakala tidak diantisipasi sebelumnya.

Ketiga, penyatuan unit atau kelompok penting yang berperan/ terlibat. Potensi konflik kepentingan karena berbeda pilihan dalam Pilrek misalnya akan tergantung pada perbedaan di antara individu, unit atau kelompok otonom dan akumulasi integrasi yang diperlukan untuk mengembangkan informasi dan pengetahuan dalam mendukung strategi yang dirumuskan. Terkait dengan fenomena yang terlihat, Profesor Eko Prasodjo, Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia di masanya, pernah menyatakan bahwa “selera pilihan capres-cawapres kita di negeri ini sama saja, hanya bagaikan memilih mie rasa bakso atau mie rasa ayam.” (Penguji Eksternal pada Ujian Promosi Doktor Guntur Karnaeni, 20 Juni 2014 pada PPS UNM di Menara Pinisi).

BACA JUGA:  KETAHANAN PANGAN DALAM ISLAM (SERI 9): KRISIS PANGAN GLOBAL DAN TANGGUNG JAWAB MUSLIM TERHADAP LINGKUNGAN DAN SOLIDARITAS DUNIA

Keempat, konflik dalam mengendalikan sumber daya informasi dan pengetahuan. Ketika manajemen pengetahuan memperoleh kredibilitas atau kepercayaan publik, maka ketika itu pula menjadi sumber daya dan kekuatan ekonomi-politik yang potensial. Salah satu sumber konfliknya adalah ketika informasi dan pengetahuan berbasis teknologi (media massa online-offline) dijadikan “komoditas” atau “kendaraan” bagi keuntungan politik kelompok tertentu, padahal sejatinya media disediakan untuk kita semua.

Penerapan strategi manajemen pengetahuan yang adaptif perlu kita sepahami dengan mengacu pada beberapa langkah alternatif-konstruktif, antara lain, mendiagnosis landscape ideologi untuk mendukung strategi yang dirancang. Kemudian, menciptakan kesepahaman tim berbasis multi-perspektif. Bahasa simbolik – seperti “siapa pun pilihannya, kita tetap satu untuk kemajuan UNM” – merupakan komitmen bersama yang sejatinya direaktualisasi sebagai warga kampus atau anggota senat selaku pemilih. Selanjutnya, mengembangkan proses kompetisi, negosiasi dan kolaborasi yang harmoni, atau seperti proses pembelajaran yang PAIKEMHUB. Interaksi yang tertata mendukung pengembangan pemahaman baru satu sama lain sekaligus memperkuat semua perspektif dominan yang dianut, seperti pada ajang dialog (pemaparan visi-misi) calon rektor yang diinisiasi oleh panitianya selama ini.

Kenyataannya, tidak ada formulasi magis yang dapat menyatukan berbagai perspektif beragam. Namun, menyatakan dan mengakui adanya perbedaan pilihan sangat penting dan bermanfaat agar fokus perhatian terus-menerus diberikan pada apa yang disebut sebagai luaran dari inisiatif ke arah perubahan dan kemajuan institusi yang diharapkan. Oleh karena itu, minimal ada tiga strategi menantang otonomi dan pola penanganan konflik yang menguatkan, yakni sistem infrastruktur (di kampus atau di masyarakat) yang ditata ulang atau direkonstruksi untuk meningkatkan saling ketergantungan fungsional di antara kelompok atau unit (program studi, jurusan, fakultas) dan menetralisir perilaku tertentu yang dominan sebagai potensi konflik konseptual. Kita sepaham dengan analogi yang dinyatakan sebelumnya, ”bagaikan sama-sama mau makan mie, ada yang suka mie rasa ayam dan ada yang suka mie rasa bakso”, seperti halnya warga kampus UNM yang sejak lama menyukai cita-rasa mie bakso dg. Nyau di Gunungsari. Selanjutnya, mengenalkan, mengembangkan, dan mengkomunikasikan contoh baru dan cara kreatif-inovatif yang bernilai sebagai respons terhadap konflik konseptual, misalnya melalui “dakwah bil hal” atau menyampaikan ajaran Islam melalui keteladanan perilaku, akhlak mulia, dan amal nyata dengan dasar ilmu-amaliah dan amal-ilmiah. Kemudian, mengembangkan norma perilaku sipakatau (saling memanusiakan), sipakainge (saling mengingatkan), sipakalebbi (saling menghargai) agar tercipta suasana demokratis dan kekeluargaan.

BACA JUGA:  Opini: Antara Data dan Kejujuran, Kenapa Bansos Kerap Salah Sasaran?

***

Keteladanan setiap pemimpin di sejumlah daerah di Indonesia dan di berbagai belahan dunia, terutama keteladanan Nabi Muhammad (aktor urutan pertama yang berpengaruh dalam membangun peradaban dunia menurut Michael H. Hart, dalam bukunya berjudul Seratus Tokoh yang Berpengaruh Dalam Sejarah), serta best practices kepemimpinan para rektor PT yang sukses perlu direaktualisasi dalam organisasi, baik dalam mengelola isu-isu strategis atau kasus-kasus yang berpotensi konflik konseptual, maupun dalam mensosialisasikan inisiatif manajemen pengetahuan secara multi-perspektif agar dihasilkan keputusan-kebijakan-program yang menguntungkan semua pihak. Demikian pula halnya, kemampuan (baca rekam jejak) dan keteladanan para pemimpin, termasuk kompetensi setiap calon rektor dalam mengidentifikasi potensi konflik konseptual dan menangani tugasnya sebagai bagian penting dari keberhasilan yang dicapai selama ini perlu dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk dipilih. Oleh karena itu, setiap calon pemimpin (rektor) perlu menguatkan kembali kepercayaan dan komitmen bersama dalam menangani konflik konseptual para pemilih (anggota senat UNM) agar menjadi pembelajaran yang PAIKEMHUB untuk kita. Semoga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.