Artikulasi Simbolik Siklus Hidup Manusia

oleh -232 x dibaca
(kiri), Prof. Haedar Akib. dan (Kanan) Andi Selvi Kartini Wonsu, S.Si., Apt., M.Tr.AP.

Oleh:

 Prof. Haedar Akib, Guru Besar Universitas Negeri Makassar & Dosen Program Pascasarjana Universitas Puangrimaggalatung (UNIPRIMA) Sengkang

 Andi Selvi Kartini Wonsu, S.Si., Apt., M.Tr.AP, ASN pada RSUD Regional La Mappapenning & Dosen Universitas Sipatokkong Mambo (UNSIMA) Bone

 

Artikulasi simbolik siklus hidup manusia yang identik dengan siklus hidup organisasi ini mengingatkan materi kuliah Colin A. Sharp, PhD sewaktu penulis (Haedar Akib, Mahasiswa Program Doktor FISIP Universitas Indonesia, 2000) mengikuti Program Sandwich di Flinders University, Adelaide, Australia, 2002. Saat itu, Mr Colin selaku dedengkot Program Privatisasi Organisasi Publik di Adelaide menyampaikan rekomendasi yang mengusik pikiran bahwa untuk efisiensi organisasi, kantor pemerintah cukup mengontrak ruangan berbentuk ’virtual office’ supaya tidak mengeluarkan biaya besar untuk pembangunan dan pemeliharaan. Mr Colin mencontohkan beberapa kantor atau unit kerja pemerintah lokal di Adelaide yang menyewa ruangan atau RUKO (rumah toko) untuk melayani urusan publik. Sebelumnya, Dia menjelaskan siklus hidup organisasi yang identik dengan Siklus Hidup Manusia atau hewan dengan analogi Dinosaurus (binatang purba berukuran besar) yang lahir, tumbuh, dewasa lalu mati atau punah karena tidak adaptif, atau tidak memperbaharui dirinya. Secara etimologis (asal usul kata), organisasi memang berasal dari kata Organon yang berarti bagian-bagian tubuh manusia. Jadi, sebanyak bagian tubuh manusia itulah jumlah elemen organisasi yang perlu dipahami.

Rekomendasi Mr Colin A. Sharp memang terkesan antagonis dan tajam setajam makna simbolik nama family-nya (Sharp, bahasa Inggris) untuk arah reformasi birokrasi/ organisasi publik di negri kita yang hingga saat ini gencar menjalankan program memangkas birokrasi, downsizing, right sizing, atau perampingan struktur (minim struktur kaya fungsi), ”efisiensi”, dan sebagainya, termasuk mengurangi/ menghilangkan perjalanan dinas. Padahal khusus kasus memperjalankan orang secara proporsional, prosedural, dan profesional merupakan bagian dari program refreshment pegawai yang mendukung Quality of Work Life (QWL), atau menurut hemat penulis sebagai pengamalan isi Kitab Suci Al Qur’an Surah Al-Jumu’ah (62) ayat 10….. ”fantasyiru fil ard”…bertebaranlah kamu di bumi.

***

Artikulasi simbolik siklus hidup organisasi di era digital ini mudah dipahami karena juga analog dengan temuan penelitian Disertasi Saudara Dr. H. Andi Asdar berjudul Resiliensi Surat Kabar Tribun Bone di Era Digital (Ilmu Komunikasi FISIP UNHAS 2024) yang melaporkan bahwa Tribun Bone sebagai organisasi bisnis melalui siklus hidup dan bisa tetap eksis atau bertahan hingga saat ini karena selain adaptif juga memperkuat fondasinya melalui pendekatan normatif, positif, dan kolaboratif, serta menerapkan seni manajemen yang andal, terintegratif, dan profesional. Oleh karena itu, jawaban pertanyaan retoris mengapa kita perlu memahami siklus hidup organisasi yang analog dengan siklus hidup manusia, sebagaimana pernyataan Colin A. Sharp adalah karena suka-atau tidak suka kita (pembaca) melaluinya. Bahkan, seorang sosiolog terkemuka, Amitai Etzioni (1964) yang dikutip oleh Pugh DS. (1971) dalam bukunya Organization Theory, Penguin Books Australian Ltd, Victoria, menyatakan bahwa, manusia dilahirkan, hidup, dididik dan bakal mati dalam organisasi. Saat ini banyak juga orang yang rela mati atau ”berbohong” demi membela diri atau organisasinya.

BACA JUGA:  HULUISASI DAN HILIRISASI KEUANGAN KOMERSIL ISLAM (2)

Artikulasi simbolik siklus hidup organisasi dengan contoh Surat Kabar Tribun Bone ini semakin mengusik pikiran setelah membaca hasil Critical Reviu sekaligus apresiasi mahasiswa atas sejumlah opini penulis di Tribun Bone, karena persepsi dan kritikannya terhadap penerbit tersebut agak berbeda dari hasil penelitian disertasi Dr. Andi Asdar. Sebetulnya, penulis selaku dosen yang menunjukkan keterkaitan Tri-Dharma Perguruan Tinggi (pengajaran, penelitian dan penulisan karya ilmiah, pengabdian masyarakat) hanya menugasi mahasiswa pascasarjana untuk mengkritisi materi (isi) artikel hasil penelitian dan opini-opini dalam rangka pemenuhan tugas matakuliah Filsafat Manajemen, namun ternyata ada juga di antaranya yang mengkritisi penerbitnya (Surat Kabar Tribun Bone). Tetapi (BUT, kata kunci yang sering diucapkan Mr Colin A Sharp sebagai penegasan sesuatu hal) bagi penulis, apresiasi (nilai) terbaik tetap diberikan kepada mahasiswa yang kritis, karena mempraktikkan cara mempelajari Filsafat (Manajemen) melalui Pendekatan Kritis (Aliran Frankfurt di Jerman seabad yang lalu), selain mempelajari Isi (Materi) dan Sejarahnya, termasuk rekam jejak filosofnya.

***

Analogi siklus hidup organisasi, seperti halnya Surat Kabar Tribun Bone memang identik dengan siklus hidup manusia karena setelah lahir akan melalui beberapa tahap perkembangan, tantangan (kritikan), dan proses transisi yang serupa/ identik.

Tahap kelahiran. Pada tahap ini, manusia baru dilahirkan ke dunia untuk memulai hidup dengan ketergantungan total pada orang tua dan lingkungan sekitar. Tidak ada kemampuan atau keterampilan yang dimiliki sehingga perlu perawatan dan perhatian untuk tumbuh dan berkembang. Sama halnya dengan manusia, organisasi juga memiliki tahap kelahiran, yaitu ketika organisasi baru didirikan atau dibentuk. Pada fase ini, organisasi baru mulai beroperasi dengan sumber daya yang terbatas dan bergantung pada inisiatif pendiri, visi, dan misi yang jelas untuk membimbing langkah pertamanya. Organisasi berada pada tahap yang sangat rentan dengan kebutuhan untuk membangun fondasi yang kokoh.

BACA JUGA:  Memutar Jarum Jam Demokrasi : Kritik atas Wacana Pilkada melalui DPR

Tahap pertumbuhan (tumbuh dewasa). Pada usia anak-anak dan remaja, manusia berkembang pesat, belajar keterampilan baru, membangun pengetahuan, dan mulai membentuk identitas serta keterampilan sosial. Pasa saat ini dianggap sebagai masa yang penuh dengan eksperimen dan pembelajaran. Sementara, organisasi pada tahap ini mengalami pertumbuhan pesat karena mengembangkan produk atau layanannya, memperluas segmen dan pangsa pasar, seperti halnya Surat Kabar Tribun Bone yang merambah pada empat kabupaten (Bone, Sinjai, Wajo, Sidrap), dan meningkatkan pendapatan. Jadi, sama seperti anak-anak yang berkembang, organisasi mengasah keterampilan manajerial, memperbaiki proses, menata struktur internal, sembari mulai menambah karyawan, memperluas jaringan, dan menghadapi lebih banyak tantangan dan kritikan seiring dengan pertumbuhannya.

Tahap kedewasaan (stabilitas). Ketika manusia menginjak dewasa, mereka memiliki pemahaman diri yang lebih baik, kestabilan emosional, dan kemampuan untuk berfungsi secara mandiri dalam masyarakat. Manusia (orang) mampu membuat keputusan yang matang dan berperan aktif dalam kehidupan sosial-ekonomi-politik-kenasyaratakan dan sebagainya. Begitu juga organisasi yang mencapai tahap kedewasaan, karena struktur dan proses internalnya sudah mapan. Organisasi, seperti halnya Tribun Bone beroperasi secara efisien, memiliki pelanggan setia, termasuk pembaca opini ini, serta stabil dalam mengelola pendapatan dan produksi secara online dan offline (versi cetak). Pada fase ini, organisasi menjadi pemain utama di industri atau wilayahnya dan biasanya menikmati keuntungan yang relatif stabil. Meskipun stabil, organisasi senantiasa menghadapi tantangan dan kritik, seperti kritik-konstruktif mahasiswa terhadap Tribun Bone, untuk mempertahankan inovasi, relevansi dan adaptasinya dalam pasar yang dinamis.

Tahap penurunan (penuaan). Manusia pada tahap ini mulai mengalami penurunan dalam kapasitas fisik dan mental. Ada penurunan energi, fleksibilitas, ketahanan terhadap tantangan hidup. Pada masa ini, manusia mulai menghadapi masalah kesehatan atau keterbatasan fisik, dan seringkali perlu menyesuaikan gaya hidupnya, apalagi kalo ”sudah pensiun”. Begitu juga dengan organisasi, pada tahapan ini, mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan. Pendapatan mungkin mulai stagnan atau menurun dan seringkali kesulitan mempertahankan keunggulan kompetitifnya. Organisasi yang sudah lama berdiri mungkin merasa sulit beradaptasi dengan perubahan teknologi atau perubahan pasar yang cepat sehingga bisa jadi mengurangi inovasi dan lambat mengambil keputusan.

BACA JUGA:  Cure’ Labba sebagai Simbol Penyatu Keturunan Arumpone di Silatnas 2025

Tahap kematian atau pembaruan (transformasi atau kepailitan). Setiap manusia pada akhirnya menghadapi kematian. Pada tahap ini, tubuh tidak lagi dapat berfungsi dan kehidupan fisik manusia berakhir. Namun, dalam beberapa kasus, orang mungkin membuat warisan atau pengaruh yang bertahan lama setelah kematiannya. Dalam siklus hidup organisasi, tahap ini terlihat ketika mengalami kepailitan atau stagnasi yang tak terelakkan. Organisasi bisa jadi gulung tikar karena ketidakmampuan beradaptasi, pengelolaan yang buruk, atau penguasaan pangsa pasarnya berubah drastis. Namun, pada beberapa organisasi, saat seperti ini melakukan pembaruan atau transformasi dimana organisasi yang gesit dan adaptif berusaha meremajakan diri melalui inovasi, restrukturisasi, atau bahkan perubahan total dalam model bisnisnya, agar bisa bertahan dan berkembang kembali. Jadi, seperti manusia yang meninggalkan warisan, organisasi yang mampu bertransformasi akan meninggalkan pengaruh positif bagi industri atau masyarakat. Dengan kata lain, bagi organisasi yang berada dalam siklus ini mengubah moto atau prinsip hidupnya dari ”merdeka atau mati” menjadi ”kreatif-inovatif atau mati.” Mati yang dimaksud bukanlah mati sungguhan atau berpisahnya roh dari jasad manusia atau hewan, melainkan terakuisisi, teralienasi, terpinggirkan, kalah bersaing, atau dilupakan.

***

Baik manusia (kita) maupun organisasi sama-sama melewati siklus hidup ini sesuai fase-fasenya, kelahiran, pertumbuhan, kedewasaan, penurunan, dan kematian (manusia), atau pembaruan (organisasi), sebagaimana pernyataan Colin A. Sharp. Selama perjalanan keduanya menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan adaptasi, inovasi, dan pembelajaran untuk bertahan dan berkembang. Singktnya, analogi siklus hidup ini mampu merefleksikan dinamika yang terjadi, memberi wawasan tentang cara orang (manusia) dan organisasi mempersiapkan masa depannya melalui inovasi dan adaptasi, serta mengantisipasi terjadinya stagnasi dan kegagalan agar tidak mati. Oleh karena itu, jawaban pertanyaan retoris mengapa perlu mengarahkan siklus hidup ini secara simbolik karena simbol memiliki makna mendalam yang memungkinan kita mengambil pelajaran dari setiap fase yang dilalui, sekaligus memahami posisi kita di dalamnya sebagai dasar mengaca diri dalam mengarahkan transisi kehidupan ini secara bijak. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.