REFLEKSI DIRI DI AKHIR TAHUN DALAM PERSPEKTIF SAINS DAN AGAMA

oleh -650 x dibaca
Dr. Syamsidar HS

Oleh Dr. Syamsidar HS, S.T., M.Si

(Dosen IPA Prodi PGMI Fakultas Tarbiyah IAIN Bone)

 

Akhir tahun yang bersamaan liburan anak sekolah merupakan saat yang tepat untuk merefresh diri bersama keluarga. Ada yang memanfaatkan ke tempat- tempat wisata, bersilaturahmi dengan keluarga di kota maupun di desa, atau bahkan keluar negeri demi untuk melepaskan kepenatan dari aktivitas atau rutinitas. Pada hakekatnya makna “refreshing” atau penyegaran adalah momentum reflektif yang sarat makna bagi setiap individu. Pergantian tahun (Masehi) bukan sekadar penanda berakhirnya waktu secara kronologis, melainkan juga menjadi ruang kontemplatif (merenung) untuk mengevaluasi perjalanan hidup, sikap, serta kualitas kepribadian yang telah terbentuk sepanjang tahun. Dalam konteks ini, refleksi diri menjadi instrumen penting untuk menilai sejauh mana seseorang telah berkembang secara emosional, spiritual, dan intelektual.

Pertumbuhan dan perkembangan manusia dalam natural sains terkadang tidaklah seiring. Pertumbuhan adalah bertambahnya volume tubuh seperti tinggi dan berat badan (kuantitatif) sedangkan perkembangan adalah perubahan perilaku/sikap (kualitatif). Seseorang yang mengalami pertumbuhan belum tentu diikuti oleh perkembangan sifat atau prilaku yang lebih dewasa. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungannya. Menurut Bruce lipton dalam Biology Belief bahwa lingkungan biokimia sangat mempengaruhi pikiran seseorang, pikiran positif dapat menyehatkan setiap sel (sel tubuh manusia terdiri dari 50 Trilliun) dan memproduksi hormon pertumbuhan seperti endorphin dan serotonin sebaliknya stress, cemas, takut akan memproduksi hormon kortisol dan racun lain yang merusak tubuh.

Dewasa ini, tantangan kehidupan modern tekanan sosial, tuntutan profesional, arus informasi digital, serta dinamika relasi interpersonal sering kali memicu ketidakstabilan  pikiran atau emosional seseorang. Ketidakmampuan mengelola emosi dapat berujung pada konflik, keputusan impulsif, bahkan penurunan kualitas ibadah dan relasi dengan Tuhan. Oleh karena itu, pengendalian diri secara emosional menjadi indikator penting dari kedewasaan sikap seseorang. Tulisan ini mencoba merefleksikan proses evaluasi diri di akhir tahun melalui pendekatan interdisipliner yaitu neurosains dan agama, khususnya dalam memahami mekanisme emosi, pengendalian diri, dan peran ilmu agama dalam membentuk kematangan kepribadian. Integrasi kedua perspektif ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh tentang upaya manusia dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih dewasa, tenang, dan berakhlak. Islam secara tegas mengajarkan pentingnya mengendalikan emosi, khususnya amarah. Rasulullah bersabda yang artinya:

BACA JUGA:  Penguatan Kesehatan Lingkungan berbasis Kolaborasi Aktor

“Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari dan muslim)

Hadits ini selaras dengan temuan neurosains (Zulki, 2022) yang menyatakan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan otak untuk menahan impuls emosional dan memilih respons yang rasional serta bermoral.

Refleksi diri merupakan proses sadar untuk meninjau kembali pikiran, perasaan, dan perilaku yang telah dilakukan. Dalam neurosains, refleksi diri berkaitan dengan metakognisi, yaitu kemampuan otak untuk berpikir tentang pikirannya sendiri. Proses ini melibatkan aktivitas korteks prefrontal yang merupakan bagian otak yang berperan dalam perencanaan, penilaian moral, dan pengambilan keputusan. Dari sudut pandang agama, refleksi diri dikenal dengan istilah muhasabah, yaitu evaluasi diri secara spiritual terhadap amal perbuatan, niat, dan sikap hati. Muhasabah bukan hanya menilai benar dan salah, tetapi juga menimbang keikhlasan dan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam setiap tindakan. Dengan demikian, refleksi diri dalam agama tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga transendental.

Akhir tahun menjadi waktu yang tepat untuk menyatukan kedua pendekatan ini. Refleksi tidak hanya berhenti pada analisis rasional tentang keberhasilan dan kegagalan, tetapi juga menyentuh dimensi batiniah dalam mengelolah emosi atau mengendalikan amarah, dan keberadaan ilmu agama mempengaruhi respons terhadap masalah hidup.

BACA JUGA:  Investasi Masa Depan Demokrasi di Sulsel lewat Pilketos  Serentak di SLTA Se-Sulawesi Selatan

Dalam perspektif neurosains, emosi merupakan hasil interaksi kompleks antara beberapa bagian otak, terutama sistem limbik yaitu amigdala dan hipokampus serta korteks prefrontal. Amigdala berperan dalam respons emosional cepat seperti marah, takut, dan cemas, sementara korteks prefrontal bertugas mengendalikan impuls dan menilai konsekuensi jangka panjang. Ketika seseorang bereaksi secara emosional tanpa pertimbangan matang, hal ini sering kali disebabkan oleh dominasi amigdala terhadap korteks prefrontal. Kondisi ini dikenal sebagai amygdala hijack, yaitu situasi dimana emosi mengambil alih rasionalitas. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini tampak pada sikap mudah tersinggung, berkata kasar, atau mengambil keputusan tergesa-gesa.

Refleksi diri akhir tahun membantu individu menyadari pola-pola emosional tersebut. Dengan kesadaran ini, otak dilatih untuk memperkuat jalur kontrol diri. Neurosains menunjukkan bahwa latihan kesadaran (mindfulness), perenungan, dan pengendalian emosi secara konsisten dapat meningkatkan fungsi korteks prefrontal. Kedewasaan emosional bukan sifat bawaan, melainkan hasil dari proses pembelajaran dan latihan berkelanjutan terhadap kondisi lingkungan.

Dalam agama, kedewasaan emosional tercermin dalam akhlak dan kemampuan menahan diri. Banyak ajaran agama menekankan pentingnya pengendalian emosi, terutama amarah. Pengendalian diri bukanlah bentuk kelemahan, melainkan kekuatan batin yang menunjukkan kematangan iman. Agama mengajarkan bahwa emosi adalah bagian dari fitrah manusia, tetapi manusia diberi akal dan petunjuk ilahi untuk mengelolanya. Kesabaran, keikhlasan, dan tawakal merupakan bentuk regulasi emosi yang bernilai ibadah. Ketika seseorang mampu menahan amarah dan memilih respons yang bijak, ia tidak hanya menjaga hubungan sosial, tetapi juga meningkatkan kualitas spiritualnya.

Ilmu agama memberikan kerangka makna yang lebih luas terhadap pengalaman emosional. Kesulitan hidup dipahami sebagai ujian, kegagalan sebagai pelajaran, dan keberhasilan sebagai amanah. Perspektif ini membantu individu menafsirkan emosi negatif secara konstruktif, sehingga tidak terjebak dalam reaksi destruktif. Pengendalian diri emosional tidak bertentangan antara sains dan spiritualitas. Justru, keduanya saling menguatkan. Praktik-praktik keagamaan seperti doa, dzikir, dan tafakur terbukti secara neurosains dapat menenangkan sistem saraf, menurunkan aktivitas amigdala, dan meningkatkan fokus serta ketenangan batin.

BACA JUGA:  Jangan Plin-Plan (Imma’ah): Membangun Diri di Atas Fondasi Pendirian yang Kuat

Dengan memahami cara kerja otak, seseorang dapat lebih rendah hati terhadap kelemahan dirinya, sekaligus lebih termotivasi untuk berubah. Sementara agama memberikan nilai, arah, dan tujuan perubahan tersebut. Integrasi ini melahirkan kesadaran bahwa kedewasaan emosional adalah proses spiritual sekaligus biologis.

Akhir tahun bukanlah titik akhir, melainkan titik balik. Dalam Islam, kesadaran akan waktu memiliki nilai spiritual yang tinggi, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an (QS. Al-‘Ashr: 1–2) yang terjemahnya:

“Demi masa sesungguhnya manusia benar- benar berada dalam kerugian”

Ayat ini menegaskan bahwa perjalanan waktu harus disertai dengan evaluasi diri agar manusia tidak terjerumus dalam kerugian eksistensial. Refleksi yang jujur memungkinkan individu mengakui kekurangan emosional yang masih sering muncul seperti mudah marah, defensif, atau reaktif. Pengakuan ini merupakan langkah awal menuju perubahan. Melalui refleksi berbasis neurosains dan agama, individu dapat menyusun komitmen perbaikan diri yang realistis dan bermakna. Misalnya, melatih jeda sebelum bereaksi emosional, memperbanyak ibadah reflektif, serta meningkatkan pemahaman ilmu agama yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Kedewasaan sikap tercermin bukan pada ketiadaan emosi, melainkan pada kemampuan mengelolanya dengan penuh kesadaran dan nilai. Dengan demikian, refleksi akhir tahun menjadi sarana transformasi diri menuju pribadi yang lebih tenang, bijaksana, dan berintegritas. Semoga refleksi ini menjadi langkah awal menuju tahun baru yang lebih bermakna, penuh kesadaran diri, dan kedekatan kepada Tuhan. Akhir kata, Jangan pernah berucap dan bertindak dikala emosi karena akan fatal akibatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.