GUGAT EUFORIA TAHUN BARU, ANTARA MENTAL TERJAJAH DAN NORMALISASI MAKSIAT

oleh -510 x dibaca
Waode Arumaini Ali

OLEH : WAODE ARUMAINI ALI, SE – KOLUMNIS PUBLIK

Setiap akhir Desember, umat Islam kembali disuguhi sebuah paradoks yang menyesakkan. Di satu sisi, Islam mengajarkan muraqabatullah (merasa diawasi Allah), kesadaran waktu dan pertanggungjawaban amal. Namun di sisi lain, sebagian umat justru larut dalam euforia tahunan yang asing dari akidahnya, perayaan Tahun Baru Masehi. Lebih ironis lagi, tradisi ini kerap diterima tanpa kritik. seolah netral, wajar dan dianggap sekadar budaya. Padahal, Tahun Baru Masehi bukan sekadar pergantian angka kalender. Ia simbol dominasi peradaban sekuler Barat yang dipaksakan menjadi perayaan universal, lalu diinternalisasi Umat Islam tanpa saringan akidah.

Perayaan Tanpa Dalil Adalah Penyimpangan
Islam bukan agama yang membiarkan urusan hidup berjalan tanpa aturan. Dalam perkara ibadah, simbol dan perayaan, Islam menetapkan batas yang tegas. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti bagi kalian dua hari raya yang lebih baik: Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Abu Dawud)
Hadis ini bermakna jelas. Selain dua hari raya tersebut, tidak ada hari raya lain yang diakui secara syar’i. Maka setiap upaya mengkhususkan waktu tertentu sebagai perayaan tanpa dalil adalah bid’ah dalam pengertian syar’i. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan, “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR Abu Dawud)

BACA JUGA:  PESAN RAMADAN UNTUK PEMIMPIN DAN UMAT (1): INTROSPEKSI DAN MUHASABAH DALAM KEPEMIMPINAN

Tahun Baru Masehi lahir dari konsep Anno Domini yang berbasis teologi Kristen. Ketika kaum Muslim ikut merayakannya, ini bukan lagi persoalan teknis kalender, melainkan penyerupaan peradaban (tasyabbuh hadhâri) yang mengikis jati diri umat.

Penjajahan Cara Pandang
Sekularisme bekerja bukan melalui paksaan, tetapi melalui normalisasi. Perayaan Tahun Baru dijauhkan dari kritik agama, lalu dipromosikan sebagai hiburan, tradisi global, atau momen sosial. Akibatnya, sebagian umat merasa ketinggalan zaman, jika menolak. Merasa modern bila ikut. Inilah bentuk penjajahan paling berbahaya. Penjajahan cara berpikir yang membuat umat kehilangan skala prioritas antara yang hak dan yang batil. Islam akhirnya dipersempit menjadi urusan ritual, sementara budaya, gaya hidup dan simbol peradaban dibiarkan tunduk pada arus global sekuler. Padahal, Islam datang bukan untuk menjadi aksesoris budaya dunia, melainkan sebagai panduan hidup yang menyeluruh. Allah berfirman: “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya.” (QS Ali ‘Imran: 85)

BACA JUGA:  Narkoba Dalam Pandangan Agama Dan Kesehatan, Jalan Gelap Yang Menjerumuskan Jiwa Dan Raga

Kerusakan Struktural Yang Berulang
Bukan rahasia lagi, malam pergantian tahun selalu menjadi puncak berbagai kemudaratan. Data kepolisian dan layanan kesehatan di berbagai kota besar secara konsisten mencatat pola yang sama setiap tahunnya. Lonjakan kecelakaan lalu lintas akibat minuman keras dan kelelahan, tawuran antar kelompok, hingga penggunaan kembang api yang memicu kebakaran permukiman. Fenomena ini bukan insidental, melainkan struktural. Malam tersebut seolah menjadi legitimasi sosial untuk melepaskan kontrol diri dan menghalalkan kelalaian secara kolektif. Islam memiliki prinsip tegas. “Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.” (HR Ibnu Majah)

Jika sebuah tradisi secara dominan melahirkan kemudaratan, maka meninggalkannya adalah kewajiban syar’i, bukan sikap ekstrem. Resolusi Semu dalam Peradaban Kosong Tahun baru sering dihiasi jargon resolusi. Namun resolusi tanpa iman hanyalah sugesti tahunan yang berulang tanpa hasil. Perubahan hakiki tidak lahir dari hitungan mundur di tengah hiruk-pikuk terompet dan pesta, melainkan dari taubat dan ketaatan kepada Allah. Perlu diingat, bagi seorang Muslim, muhasabah bukanlah ritual tahunan setiap 31 Desember. Ia adalah nafas harian. Setiap matahari terbenam adalah pengingat jatah usia berkurang dan hisab semakin dekat.

BACA JUGA:  Aspek Perpajakan Koperasi Merah Putih

Allah menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS Ar Ra’du: 11)

Wajib Menjaga Identitas
Menolak perayaan Tahun Baru Masehi bukanlah bentuk kebencian, apalagi intoleransi. Ini tindakan menjaga akidah dan identitas umat. Umat Islam tidak butuh validasi dari peradaban sekuler untuk merasa bahagia atau modern. Islam justru menawarkan alternatif yang jauh lebih bermartabat. Hidupkan malam dengan ibadah dan kajian, memperkuat ikatan keluarga tanpa terjebak arus maksiat, menanamkan kesadaran bahwa waktu adalah amanah yang kelak dihisab, serta menghidupkan kalender Hijriyah sebagai identitas peradaban Islam yang mandiri.

Khatimah
Tahun Baru Masehi adalah simbol dominasi peradaban sekuler dan normalisasi kemaksiatan. Mengikutinya berarti membuka celah kompromi akidah, meski dimulai dari hal yang tampak sepele. Umat Islam dimuliakan bukan karena ikut arus mayoritas, tetapi karena ketaatan total kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebab umat yang masih merasa perlu menyalakan kembang api untuk menandai hidupnya, sejatinya sedang kehilangan cahaya iman yang seharusnya membimbing arah peradabannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.