Ayo Tinggalkan Legacy Baik: Menata Masa Depan DAS Walennae di Kabupaten Bone

oleh -326 x dibaca

Oleh: Dray Vibrianto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone

 

WORKSHOP pengelolaan bentang lahan yang diselenggarakan oleh ICRAF–SCF–YPLMI pada 16 Desember 2025 di Novena Hotel Bone menjadi momentum penting untuk berbagi pandangan dan pengalaman tentang masa depan lingkungan hidup di Kabupaten Bone. Dari forum tersebut, muncul satu pesan sederhana namun bermakna: ayo tinggalkan legacy baik.

Pesan ini relevan dengan tantangan yang kita hadapi bersama, khususnya dalam mengelola Daerah Aliran Sungai (DAS) Walennae. Bagi masyarakat Bone, DAS Walennae bukan sekadar alur sungai. Ia adalah sumber air, penghidupan, dan ruang hidup yang menghubungkan wilayah hulu, tengah, hingga hilir. Apa yang terjadi di satu bagian akan berdampak pada bagian lainnya.

BACA JUGA:  Pembelajaran Kebijakan Penataan RTH berbasis Sistem Tana' Ulen

Kita menyadari bahwa tekanan terhadap lingkungan semakin meningkat. Perubahanpenggunaan lahan, praktik pengelolaan yang belum sepenuhnya lestari, serta keterbatasan koordinasi lintas sektor menjadi tantangan nyata. Kondisi ini mengingatkan kita bahwa pengelolaan DAS tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah, melainkan membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, Program Lahan untuk Kehidupan (Land4Lives) menjadi salah satu upaya kolaboratif yang patut diapresiasi. Program ini merupakan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Bone dan ICRAF World Agroforestry, yang dilaksanakan bersama SCF dan YLPMI, dengan dukungan pendanaan dari Global Affairs of Canada (GAC). Pendekatan yang dikembangkan mendorong keterlibatan aktif masyarakat, khususnya petani, sebagai bagian penting dari solusi pengelolaan lahan.

BACA JUGA:  Outlook Demokrasi Indonesia: Catatan Kritis dari Masyarakat Sipil

Pemerintah Kabupaten Bone memandang bahwa pengelolaan DAS Walennae perlu dijalankan dengan berlandaskan pada tiga nilai utama: kemandirian, keadilan, dan keberlanjutan. Kemandirian berarti masyarakat didorong untuk memiliki kemampuan dan pengetahuan dalammengelola sumber daya alamnya. Keadilan berarti setiap kelompok mendapatkan manfaat yang proporsional dan tidak menanggung beban lingkungan secara sepihak. Sementara keberlanjutan menuntut kesabaran dan konsistensi dalam kebijakan serta praktik di lapangan.

Lingkungan hidup bukanlah penghambat pembangunan. Justru dari lingkungan yang terjaga, kesejahteraan masyarakat dapat tumbuh secara lebih kokoh. DAS Walennae yang sehat akan mendukung ketahanan pangan, ketersediaan air, dan stabilitas ekonomi masyarakat Bone dalam jangka panjang.

BACA JUGA:  DARI PANCASILA KE PANGAN: WUJUDKAN KEADILAN YANG MEMBUMI

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Bone berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak—lembaga pendamping, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat—dalam menjaga dan memulihkan fungsi DAS Walennae. Upaya ini membutuhkan peran bersama, saling percaya, dan kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah investasi bagi masa depan.

Ajakan meninggalkan legacy baik tidak hanya ditujukan kepada pemerintah, tetapi kepada kita semua. Setiap kebijakan, setiappraktik, dan setiap pilihan yang kita ambil hari ini akan menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Semoga yang kita tinggalkan adalah lingkungan yang lebih lestari, masyarakat yang lebih berdaya, dan Kabupaten Bone yang tumbuh secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.