Oleh:
Prof. Haedar Akib, Guru Besar Universitas Negeri Makassar
Andi Selvi Kartini Wonsu, S.Si., Apt., M.Tr.AP, Alumni Program Magister Terapan Administrasi Pembangunan Negara STIA-LAN Makassar, ASN pada RSUD Regional La Mappapenning
Artikulasi simbolik pemimpin jempolan menarik perhatian umat manusia sepanjang masa, mulai dari Nabi Adam sampai anak-cucu Adam-Adam yang akan lahir (Prof. Haedar Akib & Dr. Rudi Salam, Tribun Bone Jumat 26 November 2025). Daya tarik ini didasarkan pada realitas sejarah yang meneladankan karakter perilaku pemimpin kepada kita bahwa, Nabi Adam sebagai manusia pertama di muka bumi adalah pemimpin sekaligus Bapak Umat Manusia. Kemudian, Adam Smith (Scotlandia, 1723-1790) adalah pemimpin atau pelopor dalam ekonomi modern yang mengenalkan konsep pasar, karena menurutnya pasar diatur oleh tangan tak nyata (invisible hand). Selanjutnya, Adam Malik Batubara (Pematang Siantar, 1917-1984) adalah pemimpin bangsa sebagai mantan wakil presiden Republik Indonesia ketiga. Demikian pula anak-cucu Adam-Adam yang akan lahir adalah calon-calon pemimpin, minimal menjadi pemimpin bagi dirinya, kelompok, dan organisasinya, atau sebagai self-leader menurut Charles C. Manz dan Henry P Sims (2001) dalam bukunya berjudul The New Superleadership, Berrett-Koehler Publishers, Inc., San Francisco, atau menurut sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam empat belas abad yang lalu bahwa, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya (Hadits Bukhari Nomor 4801).
***
Artikulasi simbolik pemimpin jempolan merupakan makna interpretatif yang diberikan kepada orang yang terpilih atau dipilih berdasarkan kompetensi atau kapabilitas kepemimpinan yang dimiliki. Dengan demikian, orang dapat dianggap sebagai pemimpin jempolan misalnya karena tipe atau gaya kepemimpinan yang diperankan merefleksikan dan merepresentasikan karakter ibu jari atau jempol manusia. Alasannya adalah dalam khazanah teori organisasi dan manajemen sumber daya manusia disepahami bahwa mekanisme untuk mendapatkan pemimpin organisasi dapat dilakukan minimal melalui dua pendekatan, yaitu penunjukan (appointed) dan pemilihan (elected). Kedua cara ini dipilih dan diterapkan sesuai kesepakatan yang dibuat oleh orang-orang yang berkepentingan di dalamnya. Menurut kaidah bahasa, appointed dari kata appoint (bahasa Inggris) bermakna mengangkat atau menunjuk dan lazimnya orang yang menunjuk secara simbolik menggunakan jari telunjuk, sedangkan elected dari kata elect (bahasa Inggris) bermakna memilih, dimana orang yang memilih seringkali menunjukkan apresiasi simbolik kepada orang pilihannya dengan mengangkat ibu jari atau jempol (thumb), sehingga orang pilihan tersebut dianggap sebagai orang jempolan.
Sementara itu, berdasarkan perspektif interpretatif simbolik (perspektif ketiga perkembangan teori organisasi menurut Mary Jo Hatch (1997) dalam bukunya Organization Theory dapat dinyatakan bahwa penamaan ibu jari atau jempol manusia secara filosofis bermakna sebagai salah satu sumber pengetahuan yang mewakili dan mencirikan sekaligus membedakan sidik jari jempol setiap manusia yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi, sekiranya filosof adalah pemikir yang jempolan, maka dapat pula dinyatakan bahwa pemimpin yang dipilih dan terpilih sejatinya merupakan pemimpin jempolan, karena dihasilkan melalui proses (transaksi politik) pemilihan yang etis, estetis, demokratis (baca: Analogi Pemimpin Dalam Transaksi Politik Pemilu: Haedar Akib, Opini Tribun 17 Juli 2014).
Pertanyaan retorisnya adalah bagaimana wujud artikulasi simbolik pemimpin jempolan ala “Ayam Jantan dari Timur” – sebagai sebutan Belanda De Haantjes van Het Oosten – ini yang disematkan kepada Sultan Hasanuddin. Nama asli Sultan Hasanuddin adalah I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Sultan Hasanuddin merupakan putra kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Jawabannya adalah julukan ini muncul karena pihak penjajah Belanda melihat Hasanuddin sebagai lawan yang sangat agresif, keras kepala, dan pantang menyerah di medan perang, layaknya ayam jantan yang selalu siap menyongsong lawan. Ayam jantan dari timur juga merepresentasikan artikulasi simbolik tentang sosok pemimpin jempolan yang lahir dari timur Nusantara namun berdampak nasional bahkan melampaui zamannya. Julukan ini tidak sekadar merujuk pada keberanian Sultan Hasanuddin sebagai tokoh sejarah, tetapi juga memuat metafora kepemimpinan yang kokoh, berwibawa, dan pantang tunduk pada ketidakadilan.
Ayam jantan merupakan simbol kewaspadaan, ketangguhan, dan keberanian mengambil risiko, dimana ayam jantan berkokok paling pagi, membangunkan yang lain, menandai datangnya fajar. Dalam bingkai kepemimpinan, karakter ini menggambarkan pemimpin yang visioner, lebih dulu “terbangun” dibandingkan orang kebanyakan, mampu membaca ancaman dan peluang, lalu mengarahkan komunitas atau bangsanya keluar dari kegelapan menuju perubahan yang lebih terang. Sementara itu, kata “dari Timur” mengandung makna geografis sekaligus kultural. Timur bukan hanya arah mata angin, tetapi juga simbol daerah yang kerap dipinggirkan, namun justru menyimpan energi, semangat juang, dan identitas yang kuat. Pemimpin jempolan lahir bukan semata dari pusat kekuasaan, tetapi dari akar budaya lokal yang menjunjung tinggi nilai siri’, harga diri, solidaritas, dan keberanian moral. Dalam konteks ini, Ayam Jantan dari Timur merupakan artikulasi simbolik pemimpin yang berani menentang dominasi yang tidak adil, setia pada mandat rakyatnya, teguh memegang prinsip, namun tetap memelihara martabat lawan. Ia tidak hanya kuat di medan konflik, tetapi juga kokoh dalam integritas.
Sebagai wujud artikulasi simbolik pemimpin jempolan, Ayam Jantan dari Timur dapat diartikulasikan sebagai model kepemimpinan yang peka terhadap ancaman, tegas dalam bertindak, berani menanggung konsekuensi, serta berakar kuat pada nilai dan kearifan lokal. Figur ini mengingatkan bahwa pemimpin ideal bukan sekadar pejabat formal, melainkan penjaga marwah kolektif – yang kokokannya adalah suara moral, sikapnya adalah teladan, dan keberaniannya menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
***
Karakter perilaku ayam jantan yang selaras dengan karakter pemimpin adalah, antara lain, berani berdiri di depan, bukan di belakang dimana ayam jantan biasanya maju duluan ketika ada gangguan, menghadang musuh, bukan bersembunyi di belakang induk dan anak-anak ayam. Ini mencerminkan pemimpin yang siap mengambil risiko, melindungi tim atau rakyatnya, dan tidak “melempar” kesalahan ke bawahan saat situasi sulit; Selalu waspada dan peka terhadap lingkungan, sehingga ayam jantan sering tampak seperti “berjaga” dimana kepalanya menengok ke kiri-kanan, sigap ketika ada suara asing. Ini paralel dengan pemimpin yang peka terhadap perubahan zaman, ancaman, dan peluang. Ia tidak lengah, mampu membaca tanda-tanda krisis sejak dini dan menyiapkan respon strategis; Memberi tanda dan arahan, bukan sekadar mengatur dimana kokok ayam jantan bukan hanya suara berisik, bahkan di banyak budaya masyarakat, kokok ayam menjadi penanda waktu, perubahan malam ke siang, dan sinyal untuk memulai aktivitas. Dalam kepemimpinan, ini menyerupai kemampuan memberi signal – visi, arah, dan prioritas yang jelas.
Pemimpin yang baik bukan hanya “menyuruh”, tetapi memberi tanda yang memandu – jelas, konsisten, dan mudah dipahami orang banyak; Melindungi dan mengayomi kelompoknya karena ketika ada ancaman, ayam jantan akan mengembangkan badan, mengepakkan sayap, dan terkadang menyerang untuk menghalau. Bukan semata-mata karena agresif, tapi karena naluri protektif. Ini serupa dengan pemimpin yang punya sense of responsibility – menjaga keamanan psikologis, sosial, dan bahkan ekonomi kelompoknya. Pemimpin tidak mengorbankan pengikutnya demi citra pribadi. Konsisten dan disiplin terhadap ritme di mana ayam jantan berkokok di waktu-waktu tertentu, relatif konsisten menjelang subuh, pagi, dan momen-momen tertentu. Ada ritme yang berulang. Ini mencerminkan pemimpin yang disiplin yaitu konsisten dalam tindakan, tidak plin-plan, dan membangun kebiasaan-kebiasaan baik dalam organisasi – bukan pemimpin yang hanya “heroik” sesaat lalu menghilang. Memiliki kebanggaan, namun harus dijaga agar tidak jadi kesombongan karena ayam jantan punya gestur khas, dada dibusungkan, kepala tegak, langkah mantap. Ada kebanggaan yang tampak. Pada diri pemimpin, rasa bangga bisa positif jika ia menjadi sumber kepercayaan diri dan wibawanya. Tetapi jika tidak dikendalikan, bisa berubah menjadi arogansi, merasa paling benar, dan tidak mau dikritik. Di sinilah pemimpin jempolan perlu menyeimbangkan wibawa dengan kerendahan hati. Kompetitif, tapi idealnya diarahkan menjadi kompetisi sehat karena ayam jantan sering bertarung mempertahankan wilayah atau hierarki. Dalam bentuk ekstrem, ini bisa destruktif (saling melukai). Dalam kepemimpinan, energi “kompetitif” ini idealnya diolah menjadi competitive spirit yang sehat dengan memacu kinerja, inovasi, dan prestasi tanpa menjatuhkan, memfitnah, atau meniadakan pihak lain. Setia pada “kawanan”, bukan hidup untuk dirinya sendiri di mana ayam jantan cenderung bertahan di lingkup kawanan yang sama, menjaga area yang di dalamnya ada induk dan anak ayam.
Pemimpin jempolan punya orientasi kolektif karena keputusan-keputusannya bukan hanya untuk karier pribadi, tetapi untuk keberlangsungan dan kemajuan kelompok, institusi, atau bangsanya. Dengan kata lain, ketika ayam jantan dari timur dipakai sebagai simbol pemimpin jempolan maka yang diangkat bukan sekadar sosok historisnya, tapi juga pola perilakunya yang berani di depan, peka terhadap perubahan, melindungi kelompok, konsisten, punya wibawa, namun tetap harus kritis pada sisi gelap berupa agresivitas, dominasi berlebihan, dan ego. Simbol ayam jantan juga menjadi refleksi pemimpin ideal dalam mengolah naluri berkuasa menjadi etika kepemimpinan yang bermartabat dan ”tidak pelit,” sebagai “antitesis” dari karakter perilaku masyarakat Maru yang pelit karena sifat pelitnya bertular ke ”ayam jantan peliharaannya yang merebut makanan dari mulut ayam betinanya” (Buku Cerita 1001 Malam).
***
Karakter “ayam jantan yang tidak pernah merebut makanan dari mulut ayam betina” menggambarkan tipe pemimpin yang kuat, bertangan di atas, tidak pelit, tidak rakus dan berkuasa, tidak menindas yang lemah. Dalam perilaku ayam, ada jantan yang ketika menemukan makanan memanggil betina, lalu membiarkan betina duluan makan. Ia tidak mencomot dari paruh betina, meskipun secara fisik ia mampu. Dari sini lahir simbol pemimpin yang punya kuasa, tetapi memilih menggunakan kuasanya untuk memfasilitasi, bukan menguasai sumber daya untuk dirinya sendiri.
Dalam perspektif kepemimpinan, sikap tidak merebut makanan dari mulut ayam betina dapat dimaknai sebagai penghormatan terhadap hak dan kebutuhan orang lain. Pemimpin seperti ini memahami bahwa anggota tim, bawahan, atau rakyat juga memiliki hak atas “makanan” mereka, termasuk kesempatan, penghargaan, penghasilan, dan ruang berkembang. Ia tidak memotong hak bawahan, tidak mengambil kredit atas kerja orang lain, dan tidak “memakan” jatah yang seharusnya sampai ke mereka.
Mengutamakan keberlanjutan kelompok, bukan kenyamanan pribadi. Ayam jantan yang baik lebih berperan sebagai provider dan protector dibanding consumer utama. Dalam konteks pemimpin, ini berarti ia siap mengalah untuk menjamin orang-orang di sekitarnya cukup “nutrisi”: cukup informasi, cukup dukungan, cukup kesempatan. Ia paham bahwa kemajuan bersama lebih penting daripada kelebihan pribadi.
Kontrol diri di tengah peluang untuk menyalahgunakan kuasa. Merebut makanan dari mulut ayam betina itu mudah, ayam jantan mampu melakukan, namun justru nilai moralnya terlihat ketika ia tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya ia mampu lakukan. Di sinilah letak martabat pemimpin, bukan pada kemampuan mengambil, tetapi pada kemampuan menahan diri. Pemimpin jempolan tidak menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri, memonopoli akses, atau memotong jalur orang lain.
Simbol kepemimpinan yang adil dan berkeadaban. Dalam organisasi atau masyarakat, pemimpin yang “tidak merebut makanan” akan terlihat dari kebijakannya, ia tidak menekan gaji pegawai, tidak memotong hak bawahan, tidak menahan informasi untuk keuntungan pribadi, dan tidak menyusun sistem yang hanya menguntungkan lingkaran kecilnya, dengan dalih efisiensi, karena – maaf – orang efisien beda tipis dengan orang pelit. Pemimpin seperti ini menjadikan keadilan dan kelayakan sebagai standar, bukan sekadar jargon. Dengan kata lain, karakter ayam jantan yang tidak pernah merebut makanan dari mulut ayam betina adalah metafora halus tentang pemimpin yang berani, berwibawa, tetapi juga tahu malu untuk serakah. Ia menjadikan kekuasaan sebagai amanah, bukan alat untuk “menghabisi porsi” orang lain. Di level simbolik, ini adalah ajakan agar pemimpin modern tidak hanya gagah di panggung, tetapi juga elegan dalam hal yang paling sederhana, tidak rakus ketika punya kesempatan untuk rakus.
Ayam Jantan dari Timur sebagai semboyan yang melekat pada institusi – Kodam XIV/Hasanuddin – juga merupakan artikulasi simbolik yang menghubungkan warisan sejarah Sultan Hasanuddin dengan jati diri prajurit Angkatan Darat di kawasan timur Indonesia. Julukan ini diadopsi secara simbolik sebagai identitas kehormatan, bersanding dengan moto resminya “Setia Hingga Akhir”. Dalam konteks ini moto tersebut memuat beberapa lapis makna, antara lain sebagai simbol keberanian ofensif dan daya juang tinggi, penegasan identitas khas kawasan timur Indonesia, serta keteladanan kepemimpinan yang pantang menyerah dan setia sampai akhir, termasuk kedekatan dengan rakyat dan keberpihakan pada kepentingan publik. Dalam berbagai pernyataan resmi, kepemimpinan Kodam XIV/Hasanuddin menekankan bahwa TNI harus “menjadi bagian dari solusi permasalahan rakyat” dan hadir (manunggal) bersama masyarakat. Dengan demikian, semangat ayam jantan dari timur, dalam tafsir kekinian, bukan lagi semata-mata perlawanan bersenjata, tetapi kehadiran proaktif, protektif, dan solutif, karena membantu saat bencana, mengawal pembangunan, menjaga stabilitas, dan menjamin rakyat merasakan kehadiran negara secara nyata.
***
Artikulasi simbolik Ayam Jantan dari Timur sebagai semboyan bukanlah sekadar romantisasi masa lalu, melainkan sebagai bahasa simbolik yang sejatinya tercermin dalam karakter setiap pemimpin (Presiden, Gubernur, Bupati/ Walikota, Camat, Lurah/ Kepala Desa), termasuk para pejabat publik dan kita. Keberanian dan keteguhan sikap, identitas kedaerahan yang dijahit ke dalam nasionalisme, keteladanan moral dalam memimpin dan melayani rakyat, serta rasa malu (siri’) mengambil hak dan memaksakan kehendak kepada orang lain meskipun ada peluang juga sejatinya dijadikan semboyan atau moto yang menjembatani warisan sejarah Gowa ini dengan profesionalisme kita selaku warga negara dan warga masyarakat dalam memanggul nama besar Ayam Jantan dari Timur sebagai standar kehormatan yang harus terus dijaga selaku pemimpin jempolan. Semoga.





