BENGO, TRIBUNBONEONLINE.COM– Dengan adanya program makan bergisi secara bersama – sama di sekolah yang digelar setiap satu kali dalam seminggu ditiap sekolah, dengan cara para murid membawa bekal telur ayam kampung dari rumah masing – masing atau bahkan disiapkan oleh pihak sekolah, maka dengan itu mendorong adanya kemandirian pangan sekolah dalam pemenuhan pangan sebagai langkah solutif, terbangunnya kolaborasi antara orang tua murid dan pihak sekolah dalam pemenuhannya.
Mengingat pula adanya dorongan dari berbagai kalangan dilingkup pendidikan yakni menganjurkan pihak sekolah agar membangun kandang ayam kampung petelur serta kebun sayur yang produktif, tentunya menjadi langkah alternative dan efisiensi dalam pemenuhan gisi anak disekolah dan disambut positif pihak sekolah.
“Orang tua hanya membekali anak – anak mereka dengan nasi, kemudian pihak sekolah yang menyiapkan lauk pauknya yang diambil dari hasil kebun dan peternakan sekolah,” ujar Hj. ST. Masyita, S.Pd. Kepala SDN 12/79 Bengo saat diwawancarai Senin (3/11/2025).
Ia melanjutkan, namun dengan itu, tentunya untuk diterapkan secara menyeluruh disetiap sekolah di Kabupaten Bone, maka kita membutuhkan sekolah percontohan dengan cara terprogram dan nantinya sekolah tersebut, dapat menjabarkan secara rinci dari proses persiapan sampai panen dan produksi, ke tiap sekolah untuk dilaksanakan juga.
”Pasalnya kalau sekolah mencoba untuk mandiri pangan dari segi telur ayam kampung misalnya, maka konsep dan tata kelola kandang mesti ada dan tidak serta merta dilakukan, karena kita mesti berhitung mulai dari model kandang, penempatan kandang ideal yang ramah lingkungan serta perawatan apakah dari awal misalnya memelihara DOC atau ayam siap produksi dan langkah taktis perawatan ayam sehari – hari, karena aparat guru dan murid tidak selamanya disekolah ada hari Minggu serta libur nasional, maka dengan itu sekolah percontohan dibutuhkan, terkait efektifitas dalam memenuhi kemandirian pangan disekolah,” katanya.
Selain itu, kebun sekolah juga dalam tata kelolanya dibutuhkan percontohan, kenapa kebun mandiri disekolah selama ini, selalu gagal atau tanaman mati dan terbengkalai dan tidak sempat dipanen kalaupun sempat dipanen hasilnya tidak seberapa, tidak mampu memenuhi kebutuhan jumlah murid, ini dikarenakan tidak adanya konsep pengelohan dan perawatan tanaman yang matang,
”Mulai dari jenis tanaman yang baik dan cocok ditanam hasilnya continue, untuk memenuhi kebutuhan gisi anak sekolah serta cara pengolahahan tanaman yang baik dan benar bagi sekolah yang memiliki lahan luas atau sekolah yang hanya memiliki lahan sempit, dengan adanya sekolah percontohan kendala selama ini terjawab, serta tak lupa menggunakan sumber anggaran dari dari mana,” tutupnya.
Penulis : Affandy









