Masjid Songkok Recca: Akulturasi Budaya Religius

oleh -5,849 x dibaca

Oleh: Dika Saputra,

Siswa Kelas 12 MAN 1 Bone

KABUPATEN Bone di Sulawesi Selatan memiliki kekayaan budaya yang hingga kini masih dilestarikan, salah satunya adalah Songkok Recca. Penutup kepala tradisional ini dibuat dari anyaman daun lontar yang kuat dan rapi, sehingga memiliki bentuk khas yang berbeda dengan songkok biasa.

Pada masa lalu, Songkok Recca hanya dipakai oleh bangsawan dan pejuang sebagai lambang kehormatan, keberanian, dan kewibawaan. Kini, songkok ini bisa dikenakan oleh semua kalangan, tetapi tetap dianggap sebagai simbol kebanggaan masyarakat Bugis Bone. Keindahan dan maknanya membuat Songkok Recca tidak hanya bernilai fungsional, melainkan juga sarat filosofi.

BACA JUGA:  Instrumen Hedging Berbasis Akad salam dalam Mitigasi Risiko pada Perbankan Syariah

Proses pembuatannya memerlukan keahlian dan ketekunan tinggi karena setiap anyaman harus dikerjakan dengan teliti. Hal ini menunjukkan bahwa Songkok Recca adalah hasil karya seni yang bernilai tinggi sekaligus cerminan kesabaran pengrajin.

Di tengah perkembangan zaman, Songkok Recca terus dijaga melalui acara adat, pernikahan, hingga festival budaya. Selain menjadi warisan budaya, Songkok Recca juga memiliki prospek ekonomi yang baik karena banyak pengrajin lokal mengembangkannya menjadi produk UMKM yang diminati, bahkan sampai ke pasar nasional dan internasional.

Perubahan fungsi dari yang dulu hanya dipakai oleh kalangan bangsawan menjadi dapat digunakan oleh semua lapisan masyarakat dapat dianggap baik, karena menandakan bahwa budaya ini semakin dikenal, diterima, dan dicintai oleh banyak orang tanpa menghilangkan nilai-nilai kehormatan dan kebanggaan yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, Songkok Recca bukan hanya penutup kepala, tetapi juga identitas budaya masyarakat Bone yang memiliki nilai seni, ekonomi, dan sejarah yang patut dilestarikan.

BACA JUGA:  Program Makan Bergizi Gratis Sebagai Bagian Wujudkan Pemenuhan Hak Konstitusional Warga Negara (Kajian Perspektif Sosiologi Hukum)

Songkok Recca sebagai simbol dan nilai penanda status sosial, sekarang ini telah mengalami akulturasi budaya yang begitu deras. Identitas budaya ini tidak hanya penanda strata tetapi sudah menjadi sombol asal sebagai turunan bugis. Pergeseran ini tentu berdampak pada kehidupan sosial ekonomi krn semakin banyak industri kerajinan Songkok Recca dgn variasi warna, model dan kualitasnya.

Tidak hanya itu, masjid Songkok Recca yg dibangun oleh Bupati Bone H.A. Fahsyar Mahdin Padjalangi melengkapi argumen akulturasi budaya ini, bahkan sebuah terobosan arsitektur masjid megah yang memadukan religiusitas dgn budaya yang apik, saling melengkapi dan tentu mengundang daya tarik. Terbukti bahwa masjid Songkok Recca menjadi ikon budaya religius baru yang banyak dikunjungi wisatawan.

BACA JUGA:  Membincang Lagu Mangu Fourtwnty feat. Charita Utami: Cinta, Perbedaan, dan Ketulusan Hati

Seharusnya, dinas pariwisata, dinas perindustrian dan dinas kebudayaan kab Bone punya tempat semacam UPT di area masjid Songkok Recca agar pesan dan kesan bhdaya religius dan akulturasinya bisa dijelaskan oleh pemerintah, semoga!

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.