BONE, TRIBUNBONEONLINE.COM–Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SMA/SMK di Kabupaten Bone tahun ini meninggalkan catatan baru yang tak sedikit membuat orang tua dan siswa terkejut. Jalur zonasi yang dulu menjadi jalur ‘aman’ kini bukan lagi jaminan untuk menembus gerbang sekolah negeri idaman.
Tahun ajaran ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menerapkan kebijakan berbeda. Semua pendaftar wajib menjalani Tes Potensi Akademik (TPA). Hasilnya kemudian diakumulasi dengan nilai rapor lima semester saat menempuh SMP atau MTs.
Di kota Watampone, misalnya, SMA Negeri 1 Bone sekolah favorit yang berdiri megah di Kelurahan Jeppe’E hanya membuka kuota seratusan kursi untuk jalur akademik. Siswa yang tinggal bersebelahan dengan pagar sekolah pun tak serta-merta lolos. Rata-rata nilai akumulasi yang diterima mencapai angka 200 hingga 300. Mereka yang hanya mengantongi angka di bawah 200 harus rela terlempar ke sekolah pilihan kedua, ketiga, atau bahkan sekolah penyangga di pinggiran kota.
Hanya siswa berprestasi dengan sertifikat juara, atau para penghafal Al-Qur’an satu hingga 30 juzz yang punya jalur khusus. Selebihnya, persaingan murni diadu lewat angka.
Hal serupa juga terjadi di SMAN 13 Bone dan SMAN 3 Bone. Di tiga sekolah unggulan ini, ratusan nama akhirnya tertolak. Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Bone, Muhadisa, SS tak menampik situasi ini. Ia memastikan, meski banyak yang gagal di sekolah favorit, tidak berarti siswa kehilangan kesempatan.
“Semua siswa tetap terakomodir. Masih ada sekolah penyangga seperti SMAN 7 Bone di Kelurahan Bajoe atau SMAN 9 Bone di Kelurahan Bulu Tempe. Bahkan Madrasah Aliyah Negeri juga masih siap menampung,” jelas Muhadisa.
Di balik ketatnya persaingan di SMA unggulan, sekolah kejuruan justru menunjukkan geliat baru. Animo lulusan SMP/MTs untuk masuk ke SMK Negeri di Bone kian besar. Di SMKN 4 Bone dan SMKN 2 Bone, misalnya, jurusan otomotif jadi rebutan. Kelas Teknik Kendaraan Ringan dan Teknik Sepeda Motor penuh sesak pendaftar.
Muhadisa melihat tren ini sebagai sinyal positif. “Sekarang masyarakat mulai melihat lulusan SMK bukan hanya siap pakai, tapi juga siap kerja,” ujarnya.
Tak kalah menarik, program tahfidz yang diusung Pemerintah Provinsi Sulsel juga jadi daya tarik tersendiri. Tiap siswa SMA dan SMK Negeri diwajibkan hafal juzz 30. Nuansa keagamaan yang kental membuat para hafidz lulusan SMP/MTs mantap memilih jalur negeri.
Meski persaingan makin ketat, tak ada laporan siswa benar-benar terhenti langkahnya karena tak diterima di sekolah impian. Tahun ini, angka memang bicara banyak. Tapi di balik angka, harapan orang tua, semangat siswa, dan dinamika dunia pendidikan di Bone terus menulis cerita baru: bahwa sekolah favorit tak selalu jadi satu-satunya jalan meraih mimpi. (Ag)