Oleh : Andi Asdar
Kamad MIN 4 Bone
Seperti biasanya,suasana di Madrasah Ibtidaiyah pagi itu terasa begitu
religius. Ratusan murid-muridnya berkumpul di Aula Madrasah untuk melaksanakan shalat dhuha berjamaah, dilanjutkan dengan pembacaan surah-surah pendek dan zikir bersama. Suara lantunan ayat-ayat suci menggema, menciptakan ketenangan yang menyejukkan hati. Begitu khusyuk bahkan mampu menembus relung-relung kalbu. Madrasah pagi itu seperti punya aura yang dalam menyelami samudra kebatinan.
Namun, pemandangan berjarak beberapa meter dari tempat shalat
menceritakan kisah yang sama sekali berbeda. Di sudut madrasah, tong sampah besar meluap. Isinya bukan hanya wadah plastik sekali pakai dan pembungkus makanan ringan, melainkan juga sisa-sisa makanan nasi separuh porsi, potongpotongan tempe, dan sisa-sisa sayur yang dibuang begitu saja tanpa perasaan mubazir. Pada saat yang sama, fasilitas tempat-tempat wudhu di depan tiap pintu madrasah juga kerap kali air terbuang sia-sia. Keran-keran kerap dibiarkan menetes atau bahkan dibuka lebar-lebar tanpa kesadaran bahwa meteran air madrasah kian membengkak tagihannya dari bulan ke bulan.
Skenario di atas bukanlah rekaan, melainkan potret pada umumnya nyata
yang dihadapi oleh banyak lembaga pendidikan kita hari ini. Pemandangan tersebut tentunya memicu dua pertanyaan mendasar,
1. Mengapa kurikulum yang kaya akan nilai-nilai spiritual belum berbanding lurus dengan kesadaran menjaga lingkungan?
2. Mengapa hafalan tentang kebersihan sebagai bagian dari iman tidak sertamerta menghentikan tindakan membuang sampah sembarangan?
Pendidikan keagamaan sering kali hanya berfokus pada dimensi ritual
individu seperti keabsahan shalat, tata cara wudhu, atau hafalan teks dibanding interpretasi dari konteks-konteks yang diketahui. Tentu saja hal ini berdampak pada pemahaman bahwa kebersihan sebagian dari iman hanya sebagai jargon kognitif semata. Kesadaran murid terlihat membuang sampah sembarangan sebagai tindakan yang menyalahi norma sosial belaka, bukan sebagai bentuk pelanggaran atau dosa.Kebanyakan murid madrasah hanya memperhatikan pendekatan kognitif,
bukan perilaku. Nilai-nilai lingkungan hidup sering ditransfer lewat metode ceramah,
hafalan, dan ujian tertulis. Murid-murid tahu teori pengolahan limbah atau dalil
menjaga alam, tetapi tidak terbangun kepedulian emosional dan perilakunya. Tanpa
pembiasaan yang konsisten, pengetahuan tidak pernah menjelma menjadi refleksi
dari karakter.
Perubahan perilaku membutuhkan dorongan sistemis dan terstruktur. Ketika
kurikulum mengajarkan pemilahan sampah, namun di lingkungan madrasah hanya
tersedia satu jenis tempat sampah campuran, terjadi dis-koneksi yang timpang
antara teori-teori yang diajarkan dengan realitas yang tampak jelas di lapangan. Jika
kebutuhan-kebutuhan ini tidak terpenuhi, tentu saja berdampaknya pada warga
madrasah itu sendiri, yang pastinya menimbulkan kontradiksi bahwa upaya menjaga
lingkungan menjadi sulit bahkan sia-sia dikarenakan ekosistem fisik madrasah tidak
mendukung program-programnya sendiri.
Pada dasarnya pembentukan perilaku dan budaya madrasah sangat
dipengaruhi oleh kurikulum yang tak mesti ditampakkan oleh madrasah itu (hidden
curriculum), yaitu perilaku nyata yang dicontohkan oleh mulai dari pimpinan, guru-
guru, dan seluruh staf dalam interaksi sehari-hari. Jika semua tenaga pendidik atau
pengelola madrasah belum konsisten mempraktikkan gaya hidup yang ramah
lingkungan misalnya masih menggunakan kemasan plastik sekali pakai di kantin
atau menyisakan makanan, murid-murid akan merekam pesan implisit bahwa
menjaga lingkungan bukanlah menjadi program prioritas.
Ada berbagai masalah di setiap madrasah-madrasah yang tentunya terlalu
kompleks untuk dipaparkan akhir-akhir ini, namun yang kita bahas saat ini bukanlah
sekadar masalah umum tentang tata tertib madrasah atau kurangnya tempat
sampah. Akan tetapi hari ini adalah gejala-gejala dari krisis ekologi dan teologi yang
jauh lebih berdampak parah dan masif. Kita dihadapkan pada kenyataan bahwa
kondisi madrasah-madrasah kita saat ini adalah hubungan manusia dengan
ekosistemnya, dan hubungan manusia dengan pencipta-Nya sudah tidak
mencerminkan yang semestinya.
Ecoteologi (literasi ekologi dan teologi) bukan sekadar pengetahuan tentang
alam raya dan pencipta-Nya, atau mempelajari jenis-jenis makhluk hidup dan
lingkungannnya, melainkan kemampuan untuk memahami sistem kehidupan bumi
yang kita huni dan seluruh alam raya, menyadari dampak aktivitas manusia terhadap
sistem tersebut, dan bertindak secara bijak untuk menjaga keberlanjutannya.Di lingkungan madrasah, ecoteologi memiliki bobot strategis yang sangat
berdampak. Ia menjadi jembatan penghubung antara nilai-nilai keagamaan (teologi)
dengan tindakan nyata (ekologi).
Madrasah haruslah memiliki kekayaan dogma-dogma spiritual yang
mendasar seperti konsep khalifah fil ‘ardh (pemimpin/pengelola di bumi), laa tufsiduu
fil ‘ardh (larangan merusak bumi), hingga thaharah (bersuci/kebersihan). Tanpa
dogma-dogma ecoteologi yang lugas, doktrin tersebut berisiko berhenti sebagai
konsep-konsep yang abstrak semata atau mungkin sekedar bahan-bahan hafalan
ujian saja.
Dogma-dogma tentang ecoteologi sangatlah besar dampaknya untuk
membantu murid-murid madrasah untuk memahami mengapa membuang sampah
plastik merusak ekosistem dan bagaimana prinsip Islam diterapkan dalam konteks
krisis lingkungan global.
Ecoteologi secara konsisten mendidik seluruh warga madrasah untuk melihat
hubungan sebab-akibat dari setiap tindakan-tindakan harian mereka. Setiap murid
tidak hanya menahan individu dari merusak lingkungan karena takut
aturan/hukuman, tetapi karena kesadaran etik yang kokoh dan spiritual yang
mendalam bahwa menzalimi alam adalah bentuk cerminan krisisnya iman dan
ketakwaan mereka kepada yang menciptakan-Nya.
Salah satu keunggulan madrasah adalah integrasi ilmu umum dan ilmu
agama sehingga tidak ada dikotomi ilmu yang terkikis. Peran ecoteologi di
madrasah menjadi laboratorium yang hidup nyata terhadap integrasi ilmu dan adab.
Saat murid-murid madrasah mempelajari tentang siklus air di mata pelajaran IPA,
secara tidak langsung mereka akan mengaitkannya dengan pentingnya efisiensi air
wudhu dalam fiqih. Ketika belajar dampak emisi karbon, mereka mengaitkannya
dengan amanah menjaga keseimbangan (mizan) alam.
Ketika pendidikan hanya berfokus pada capaian akademis dan kebiasaan
ritualistis semata tanpa mengaitkannya dengan keberlangsungan ekosistem, kita
sedang melahirkan cara berpikir dan bertindak yang sangat keliru, cara pandang
yang menganggap alam semesta hanyalah obyek pemenuhan kebutuhan manusia.
Pada kondisi inilah madrasah memiliki keunggulannya yang patut diterapkan.
Madrasah tidak hanya memiliki berbagai perangkat sains laboratorium untuk
meneliti dan memahami fenomena alam, tetapi juga memiliki dasar-dasar teologi
islam yang sangat kuat yang tentu saja sering kali didengungkan oleh Prof.
Nasaruddin Umar di berbagai ceramahnya. Integrasi antara ayat-ayat qauliyah(wahyu tertulis) dan ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda alam) adalah modal utama yang belum tersentuh secara optimal. Yang sangat diperlukan dan seharusnya kita pahami bahwa mengembangkan
ecoteologi di madrasah bukan berarti menambah beban mata pelajaran baru, akan tetapi madrasah bertanggung jawab membangun ulang cara pandang (mindset) seluruh warga madrasah.
Sudah sepantasnyalah madrasah-madrasah harus berada di garda terdepan
untuk seluruh lapisan masyarakat. Murid-murid dan guru-guru yang fasih keilmuan tentang ecoteologi, mampu menjadi episentrum untuk menggerakkan aksi nyata demi keberlangsungan seluruh alam ini tetap kondusif, peduli dan bersahabat kepada seluruh mahluk dan alam raya ini. Aksi nyata itu, sebagai contoh pengelolaan sampah mandiri agar tidak mencemari lingkungan, pembuatan resapan air (biopori) untuk memberi hak tumbuh-tumbuhan untuk tetap hidup lebih baik, penanaman pohon, hingga kantin sehat bebas plastik. Ini tentu menjadikan madrasah sebagai pusat perubahan (agent of change) bagi masyarakat sekitarnya untuk bumi dan seluruh alam raya ini.
Pada akhirnya, ecoteologi akan menyadarkan semua manusia akan paham
keberadaannya, tidak lagi egois dengan dirinya, cintanya akan terus tumbuh terhadap semua mahluk lainnya, dan kepedulinnya sebagai khalifa di dunia.







