Porprov dan Ujian Daerah: Prestise vs Pembinaan Atlet Berkelanjutan

oleh -462 x dibaca

Oleh : Affandy , S.Sos Wartawan TribunBone

Penunjukan Kabupaten Bone sebagai tuan rumah bersama Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Selatan tahun 2026, bukan sekadar agenda olahraga. Ia adalah peristiwa besar yang membawa kebanggaan, sorotan publik, sekaligus tanggung jawab kebijakan yang tidak ringan. Di balik semangat menyambut event bergengsi ini, Porprov sejatinya menghadirkan satu ujian penting bagi daerah: apakah ia hanya akan menjadi simbol prestise, atau justru momentum memperkuat pembinaan atlet secara berkelanjutan.

Menjadi tuan rumah Porprov tentu patut diapresiasi. Ada kepercayaan yang diberikan, ada ekspektasi yang disematkan. Spanduk, baliho, dan narasi tentang kehormatan daerah dengan cepat memenuhi ruang publik. Namun dalam perspektif kebijakan, prestise tidak boleh berdiri sendiri. Ia harus ditopang oleh kesiapan anggaran, infrastruktur yang layak, serta tata kelola yang profesional dan transparan. Tanpa itu, prestise justru bisa berubah menjadi beban.

Porprov bukan sekadar seremoni pembukaan atau hiruk-pikuk pertandingan. Ia adalah event besar yang menuntut kesiapan menyeluruh: venue yang sesuai standar, manajemen pertandingan yang tertib, akomodasi kontingen yang manusiawi, hingga koordinasi lintas sektor yang solid. Semua itu menuntut perencanaan matang, bukan pendekatan dadakan yang hanya mengejar sukses acara.

BACA JUGA:  PESAN RAMADAN UNTUK PEMIMPIN DAN UMAT (1): INTROSPEKSI DAN MUHASABAH DALAM KEPEMIMPINAN

Namun, persoalan paling mendasar dari Porprov bukan hanya soal penyelenggaraan, melainkan soal makna. Dalam filosofi olahraga, Porprov adalah puncak pembinaan atlet daerah. Ia seharusnya menjadi etalase dari proses panjang pembinaan di sekolah, klub, dan komunitas olahraga. Kekhawatiran yang sering muncul adalah ketika daerah sibuk membenahi fisik dan kemasan acara, tetapi lupa memastikan bahwa atlet lokal benar-benar siap bersaing.

Jangan sampai Bone sukses sebagai tuan rumah, tetapi gagal sebagai pembina atlet. Venue boleh megah, namun tanpa atlet yang dibina secara konsisten, semua itu hanya akan menjadi monumen. Event olahraga sejatinya bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari ekosistem pembinaan yang berkelanjutan. Porprov tidak boleh menjadi titik awal pembinaan yang terlambat, melainkan puncak dari kerja sistematis yang sudah lama berjalan.

BACA JUGA:  Lingkungan Dijaga oleh Penghuni yang Akan Datang

Momentum Porprov seharusnya dimanfaatkan sebagai ruang evaluasi bersama. Cabang olahraga apa yang menjadi kekuatan Bone? Mana yang selama ini tertinggal dan perlu perhatian khusus? Bagaimana pola pembinaan atlet usia dini? Sejauh mana peran sekolah, klub, KONI, dan pemerintah daerah berjalan selaras? Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar Porprov tidak berlalu tanpa meninggalkan pembelajaran.

Di sisi lain, Porprov juga membawa dampak sosial dan ekonomi. UMKM, penginapan, transportasi, dan sektor jasa berpotensi merasakan manfaat. Namun dampak ini tidak akan optimal jika tidak dirancang secara inklusif. Event besar harus memberi ruang bagi pelaku lokal, bukan hanya menjadi ajang keuntungan segelintir pihak. Keterlibatan masyarakat adalah kunci agar Porprov benar-benar menjadi milik bersama.

Karena itu, Porprov di Bone harus ditempatkan dalam kerangka kebijakan jangka panjang. Dibutuhkan peta jalan olahraga daerah yang jelas: target prestasi, prioritas cabang olahraga, skema pembinaan berjenjang, dan keberlanjutan pasca-event. Tanpa arah tersebut, Porprov berisiko menjadi pesta lima tahunan yang meriah sesaat, lalu sunyi setelahnya.

BACA JUGA:  Arahan Bupati Bone: Sebuah Langkah Mundur dalam Transparansi Pemerintahan

Kritik publik terhadap kesiapan anggaran dan fasilitas seharusnya dipahami sebagai bagian dari kontrol demokratis. Ia bukan penolakan terhadap Porprov, melainkan bentuk kepedulian agar event ini tidak mengorbankan kebutuhan publik lainnya. Transparansi, komunikasi yang terbuka, dan pelibatan berbagai pihak akan menentukan apakah Porprov menjadi sumber kebanggaan atau justru polemik.

Akhirnya, Porprov adalah ujian kedewasaan daerah dalam mengelola prestise. Bone dihadapkan pada pilihan: berhenti pada kebanggaan sebagai tuan rumah, atau melangkah lebih jauh dengan menjadikan Porprov sebagai tonggak pembinaan atlet yang berkelanjutan. Idealnya, keduanya berjalan beriringan.

Jika dikelola dengan visi dan komitmen yang tepat, Porprov bisa meninggalkan warisan penting: atlet yang tangguh, sistem pembinaan yang kuat, dan budaya olahraga yang hidup di tengah masyarakat. Namun jika hanya berakhir sebagai seremoni, ia akan menjadi catatan singkat yang cepat dilupakan.

Porprov, pada akhirnya, bukan soal siapa yang paling meriah, tetapi siapa yang paling siap membangun masa depan olahraga daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.