RUMAH TANPA SAKINAH, TRAGEDI KELUARGA BUNUH DIRI YANG MENELANJANGI SEKULARISME

oleh -7,271 x dibaca

Penulis: Waode Arumaini Ali, SE.
Ibu Rumah Tangga di Sinjai

Tubuh seorang ibu dan dua anaknya ditemukan tak bernyawa di rumahnya di Bandung. Ibu itu diduga menggantung diri setelah meracuni anak-anaknya. Kabar itu bukan sekadar berita duka, tapi jeritan sunyi yang mengguncang akal dan iman.
Apa yang membuat seorang ibu, simbol kasih sayang dan pengorbanan, justru tega mengakhiri hidup bersama darah dagingnya sendiri? Jawaban jujurnya bukan sekadar “karena depresi” atau “masalah pribadi”, sebagaimana klise yang diulang media arus utama.

Tragedi semacam ini adalah cermin dari kerusakan sistemik. Sebuah kehidupan yang dibangun di atas fondasi sekularisme, yang menyingkirkan Allah dari pengaturan urusan manusia.

Data Berbicara

Kementerian Kesehatan RI (2024) mencatat satu dari tiga orang dewasa Indonesia mengalami tekanan psikologis pasca-pandemi.[1]

WHO melaporkan angka depresi global melonjak 25% pasca-COVID-19, dengan mayoritas kasus muncul akibat tekanan ekonomi dan isolasi sosial.[2]

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap dalam Susenas 2025, stres rumah tangga meningkat signifikan terutama di keluarga kelas menengah bawah.[3]

BACA JUGA:  HMI Restoratif: Menerapkan Prinsip-Prinsip Rekonsiliasi Untuk Memperkuat Kader dan Organisasi

Adapun Komnas Perempuan menyoroti 76% tekanan psikis dan kekerasan justru terjadi di ruang domestik, dalam rumah itu sendiri.[4]

Semua data ini menunjukkan satu hal. Rumah tangga modern kehilangan sakinah. Sistem hidup sekuler, yang menganggap agama cukup di masjid, telah gagal memberi ketenangan dan keadilan. Ibu terhimpit tekanan ekonomi, suami didera tuntutan dunia kerja kapitalistik, serta anak kehilangan lingkungan ruhiyah yang menenangkan. Negara hadir hanya sebagai penonton, bukan pelindung.

Akar Masalah

Sekularisme memisahkan agama dari urusan sosial dan politik, seolah kehidupan bisa tenang tanpa petunjuk wahyu. Padahal manusia tanpa arah ilahi hanyalah tubuh kosong. Punya logika, tapi kehilangan makna. Ketika orientasi hidup bergeser dari ibadah menjadi kompetisi materi, keluarga kehilangan fungsi spiritual. Hubungan suami-istri menjadi transaksional, anak dibentuk oleh sistem pendidikan materialistik, serta kesejahteraan diukur dari saldo bank, bukan ketenteraman iman. Padahal Islam menempatkan keluarga sebagai pondasi peradaban, bukan urusan pribadi.
Dalam sistem pemerintahan Islam, negara wajib menjamin kebutuhan dasar rakyat (pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan) tanpa membebani individu hingga tercekik utang. Rasulullah Sallallahu Alahi Wasallam bersabda dalam riwayat Al Bukhari dan Muslim, “Imam (khalifah) adalah pemelihara dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.”
Sistem ekonomi Islam menghapus riba, menata kepemilikan umum, mengatur distribusi kekayaan lewat zakat dan baitul mal. Dengan demikian, tiada ibu yang terdesak lantaran kemiskinan hingga putus asa.

BACA JUGA:  Porprov yang Inklusif untuk Kebangkitan Olahraga Bone

Sistem pendidikan Islam menumbuhkan kesadaran ruhiyah, mengajarkan tujuan hidup. Bukan sekadar keterampilan duniawi, sehingga lahir generasi yang kuat jiwanya.

Peran Masyarakat Islam

Dalam masyarakat Islam, amar makruf nahi munkar menjadi urat nadi sosial. Lingkungan beriman tak akan membiarkan satu keluarga menanggung kesedihan sendirian. Masjid hidup sebagai pusat pembinaan umat. Tempat ilmu, dakwah dan solidaritas. Tetangga, ulama dan daulah Islam menjadi pelindung, bukan pengamat. Inilah sistem sosial yang lahir dari iman, bukan dari individualisme liberal yang mematikan rasa.

Bandingkan dengan masyarakat sekuler hari ini. Tetangga tak saling mengenal, anak tumbuh dalam gawai, serta kesepian dianggap normal. Inilah penyakit zaman. Kesunyian yang berakar dari sistem hidup yang salah arah.

BACA JUGA:  Artikulasi Simbolik Siklus Hidup Manusia

Solusi Sistemik
Tragedi ibu yang mengakhiri hidupnya bersama anak, bukan sekadar kasus personal. Ia merupakan cermin kegagalan sistem sekuler dalam menjaga jiwa manusia. Islam datang membawa solusi bukan di ruang psikoterapi, tetapi dalam tatanan hidup yang utuh (syumuliyatul Islam).

Negara dalam Sistem Khilafah akan menegakkan hukum syariat sebagai pelindung, menata ekonomi dengan keadilan, membina ruhiyah umat lewat pendidikan dan dakwah. Dalam naungan itu, setiap individu merasa terikat dengan Allah, bukan sekadar dengan beban dunia. Maka sakinah bukan lagi menjadi mimpi, tetapi kenyataan sosial.

Sudah saatnya umat berhenti menambal luka sistem dengan terapi parsial. Islam kaffah bukan utopia. Ia kebutuhan hidup yang mendesak. Karena hanya dengan Sistem Allah, rumah kembali menjadi taman surga, bukan ruang kematian.

Sumber:
[1]Kementerian Kesehatan RI, Laporan Kesehatan Jiwa Indonesia 2024 [2] WHO, World Mental Health Report 2024
[2]Badan Pusat Statistik, Susenas & Surveai Sosial Ekonomi Nasional 2025
[4] Komnas Perempuan, Catatan Tahunan (CATAHU) 2024.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.