BONE, TRIBUNBONEONLINE.COM–Upaya menjaga kearifan lokal sebagai instrumen resolusi konflik kembali mendapat perhatian melalui riset yang dilakukan oleh Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Muhammadiyah Bone. Tim ini diketuai oleh Sulistina, bersama anggota Ratna dan Muhammad Yunus Sultan, yang tengah melakukan riset berjudul “Pabbage Wae: Integrasi Cultural-Mitigation Berbasis Tellu Pattola dan A’bulo Sibatang sebagai Social Harmony dalam Resolusi Konflik Air Masyarakat Bone.”
Sebagai bagian dari tahap pelaksanaan riset, tim telah melaksanakan wawancara mendalam dengan Kepala Desa Carima, Andi Musa untuk menggali eksistensi sistem Pabbage Wae dalam kehidupan masyarakat Bugis. Sistem ini, yang sudah mengakar secara turun-temurun, menjadi mekanisme penting dalam pembagian air irigasi pertanian di Desa Carima.
Dalam keterangannya, Andi Musa menegaskan bahwa Pabbage Wae memiliki nilai yang jauh melampaui fungsi teknis sebagai pengatur distribusi air.
“Pabbage Wae adalah warisan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat kami. Sistem ini tidak hanya mengatur siapa yang mendapat air lebih dulu, tetapi juga menjaga keadilan, kebersamaan, dan rasa saling menghormati antarpetani. Selama ini, meskipun ada tantangan modernisasi dan keterbatasan sumber daya, Pabbage Wae tetap menjadi alat untuk meredam konflik,” ujarnya.
Temuan ini memperkuat keyakinan tim peneliti bahwa nilai-nilai budaya Bugis seperti Tellu Pattola (Sipakatau, Sipakalebbi, Siri’ na Pacce) serta filosofi A’bulo Sibatang merupakan fondasi penting yang menopang keberlanjutan Pabbage Wae. Ketua tim, Sulistina, menyebut bahwa wawancara dengan Kepala Desa menjadi pijakan awal untuk memperkuat arah penelitian.
“Bapak Muklis memberikan pandangan yang sangat relevan dengan fokus riset kami. Bahwa Pabbage Wae tidak bisa dilepaskan dari nilai sosial dan budaya masyarakat Bugis. Hal inilah yang ingin kami eksplorasi lebih jauh, agar kearifan lokal bisa dilihat bukan hanya dari sisi tradisi, tetapi juga sebagai model resolusi konflik yang kontekstual,” ungkapnya, (28/8/2025).
Riset ini sendiri tidak hanya menargetkan kontribusi akademis, tetapi juga dampak praktis dalam tata kelola air di pedesaan. Dengan mengangkat kearifan lokal Bugis sebagai instrumen cultural-mitigation, penelitian ini diharapkan bisa menghadirkan strategi pencegahan dan penyelesaian konflik air yang inklusif, berkelanjutan, dan sejalan dengan semangat pembangunan desa.
Program PKM-RSH yang tengah dijalankan ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bone tidak hanya bergerak di ranah teori, tetapi juga aktif terjun ke lapangan untuk memberikan solusi berbasis riset. Ke depan, hasil penelitian ini ditargetkan dapat dirumuskan sebagai rekomendasi kebijakan pengelolaan air berbasis kearifan lokal, sekaligus mendukung misi pembangunan nasional dalam mewujudkan desa yang tangguh, mandiri, dan harmonis. (*)