Oleh: Andi Hamrianto
Staf MIN 8 Bone
Di ruang kelas, seorang guru tidak hanya berhadapan dengan papan tulis dan buku pelajaran. Ia berhadapan dengan manusia kecil yang datang dari latar keluarga, pola asuh, dan karakter yang berbeda-beda. Setiap hari, ratusan wajah hadir dengan keunikannya masing-masing. Dalam dinamika itulah, teguran sering kali menjadi bagian dari proses pendidikan bukan untuk merendahkan, melainkan untuk menuntun.
Hari ini, makna teguran itu sering berada di persimpangan pemahaman. Niat mendidik kerap disalahartikan sebagai sikap yang melukai. Tidak sedikit guru akhirnya memilih lebih banyak diam, bukan karena acuh, melainkan karena khawatir niat baiknya berubah menjadi persoalan di luar ruang pendidikan.
Persoalan kerap bermula dari konflik-konflik kecil antaranak. Perselisihan sederhana, candaan yang berlebihan, atau emosi sesaat yang sebenarnya wajar dalam dunia mereka. Namun konflik itu tidak berhenti di sekolah. Ia dibawa pulang ke rumah, kemudian diceritakan kepada orang tua melalui sudut pandang yang dimiliki anak.
Di sinilah sering muncul persoalan yang lebih rumit. Tidak jarang anak menyampaikan cerita yang belum sepenuhnya utuh bukan karena niat menipu, melainkan karena ingin memperoleh simpati, perlindungan, atau pembelaan dari orang tua. Anak belum selalu mampu memisahkan fakta dengan perasaan. Sayangnya, laporan sepihak itu kerap langsung direspons tanpa adanya ruang klarifikasi kepada guru atau pihak sekolah.
Teguran yang sejatinya lahir dari tanggung jawab pendidikan tiba-tiba berubah menjadi sumber ketersinggungan. Guru diposisikan sebagai pihak yang telah bersalah, bahkan sebelum diberi kesempatan menjelaskan. Pada titik ini, guru tidak hanya menghadapi murid, tetapi juga beban sosial yang semakin berat.
Ketegangan pun sering melebar. Konflik yang awalnya terjadi antaranak beralih menjadi ketegangan antar orang tua. Masing-masing berdiri atas nama cinta dan pembelaan. Tidak ada yang benar-benar berniat buruk, namun emosi orang dewasa justru memperpanjang persoalan yang seharusnya dapat diselesaikan melalui dialog sederhana.
Sebagai guru, posisi ini sungguh tidak mudah. Ia dituntut adil, sabar, dan profesional, namun kerap berada di tengah pusaran emosi. Di satu sisi harus menjaga nilai disiplin, di sisi lain harus menahan diri agar tidak terseret dalam konflik yang melampaui batas pendidikan.
Namun kejujuran harus tetap kita jaga. Guru pun adalah manusia yang terus belajar. Tidak semua guru selalu berhasil memilih pendekatan paling tepat dalam menghadapi setiap karakter anak. Ada kalanya teguran disampaikan dengan cara yang kurang bijak atau kurang empatik. Mengakui hal ini bukan untuk melemahkan profesi guru, tetapi justru untuk memuliakannya.
Guru profesional bukanlah sosok tanpa salah, melainkan pribadi yang mau merefleksi diri dan memperbaiki cara mendidik. Ketika pendekatan guru dirasa kurang tepat, orang tua tentu berhak menyampaikan keberatan, namun dengan cara yang dialogis, bukan reaktif.
Di sisi lain, orang tua pun memegang peran yang tak kalah penting. Cinta kepada anak adalah fitrah yang luhur. Namun cinta yang mendewasakan lahir dari kesediaan mendengar berbagai sisi, bukan hanya satu cerita. Anak perlu belajar bahwa kejujuran adalah nilai utama, dan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Jika setiap persoalan anak selalu berakhir pada pertentangan orang dewasa, maka yang paling dirugikan adalah pendidikan itu sendiri. Anak kehilangan pelajaran penting tentang tanggung jawab, penyelesaian konflik, dan kedewasaan bersikap.
Pendidikan sejatinya adalah kerja bersama. Guru, orang tua, dan masyarakat berada dalam satu barisan mendidik manusia. Tidak ada yang sepenuhnya benar dan tidak ada yang sepenuhnya salah. Yang ada adalah itikad baik yang perlu dipertemukan dalam ruang dialog.
Sebagai guru, saya percaya bahwa setiap teguran yang lahir dari niat tulus adalah doa yang sunyi agar anak tumbuh dengan adab, karakter, dan ketangguhan. Dan sebagai orang tua, barangkali penting untuk melihat guru bukan sebagai lawan, melainkan mitra dalam menjaga masa depan anak-anak kita.
Akhirnya, pendidikan membutuhkan kepercayaan. Kepercayaan bahwa guru mendidik dengan hati, orang tua mendampingi dengan kebijaksanaan, dan anak-anak bertumbuh dalam iklim saling memahami. Jika kepercayaan itu terjaga, insya Allah, setiap proses mendidik akan bernilai ibadah.






