Candu di Balik Jubah : Menggugat Perselingkuhan Agamawan dan Kekuasaan

oleh -38 x dibaca

Oleh : M. Agusman – Pribumi

 

Ada sebuah ironi yang memuakkan di tengah masyarakat kita, ketika rumah ibadah semakin megah dan gelar keagamaan berderet panjang, namun moralitas publik justru terjun bebas ke titik nadir. Di pusat paradoks ini, berdirilah sosok pemuka agama yang telah kehilangan “taring” profetiknya. Mereka bukan lagi penyambung lidah Tuhan untuk keadilan, melainkan lebih mirip dengan makelar ayat yang menjajakan legitimasi demi kenyamanan posisi dan akses kekuasaan.

 

Di satu sisi, simbol-simbol religiusitas kian marak di ruang public, namun di sisi lain, substansi moral dan keadilan sosial justru terasa kian merosot. Di tengah situasi ini, sosok pemuka agama yang seharusnya menjadi kompas moral, seringkali justru terjebak dalam pusaran kekuasaan dan formalisme yang mandul.

 

Makelar Surga dan Opium Massa

Ali Shariati, pemikir besar asal Iran, pernah memperingatkan tentang “Agama melawan Agama” (Baca buku : Agama Versus Agama). Ia secara brutal membedakan antara agama yang membebaskan dengan agama yang membius. Hari ini, kita menyaksikan jenis yang kedua. Banyak pemuka agama bertindak sebagai “petugas pemadam kebakaran” bagi gejolak sosial. Ketika rakyat menjerit karena ketidakadilan sistemik, para agamawan ini muncul dengan khotbah kesabaran yang disalahartikan ini adalah “candu” yang diracik sedemikian rupa agar masyarakat tetap patuh di bawah kaki penindas.

 

Ini adalah bentuk penghianatan intelektual. Meminjam logika Shariati, jika pemuka agama tidak berdiri paling depan melawan kezaliman, maka ia sebenarnya sedang menjadi “stempel religius” bagi kejahatan yang sedang terjadi. Mereka menggunakan jubah suci untuk menutupi borok kebijakan yang tidak memihak rakyat kecil.

BACA JUGA:  DILEMA KEBIJAKAN MAKAN SIANG GRATIS: ANTARA KESEJAHTERAAN SISWA DAN BEBAN FISKAL

 

Komodifikasi Ayat dan Elitisme yang Narsistik

Kritik terhadap pemuka agama bukan berarti serangan terhadap agama itu sendiri. Sebaliknya, ini adalah upaya dekonstruksi terhadap peran “penjaga gerbang” (gatekeeping) yang sering dimonopoli oleh para elit agamawan. Secara literatur, kita diingatkan oleh pemikir seperti Hassan Hanafi bahwa teologi seharusnya tidak berhenti pada perdebatan metafisika tentang sifat-sifat Tuhan yang abstrak. Hanafi menuntut agar teologi bertransformasi menjadi “Antropologi” sebuah ilmu yang membumi, yang berbicara tentang penderitaan manusia, hak asasi, dan pembebasan dari kemiskinan.

 

Namun, yang kita lihat hari ini adalah kecenderungan para pemuka agama untuk menjadi penjaga moralitas yang kaku, yang lebih sibuk menghakimi perilaku privat individu daripada menggugat struktur ketidakadilan yang sistemik.

 

Kritik tajam juga harus dihantamkan pada gaya hidup elitis para pemuka agama. Bagaimana mungkin nilai-nilai asketisme dan kesederhanaan diajarkan oleh mereka yang hidup dalam kemewahan hasil dari industri “penjualan harapan”? Agama telah mengalami komodifikasi yang menjijikkan. Simbol-simbol suci dipoles menjadi produk komersial, sementara substansi ketuhanannya luntur dalam narsisme panggung.

 

Hassan Hanafi menuntut dekonstruksi total terhadap mentalitas ini. Ia muak melihat agamawan yang terjebak dalam teologi masa lalu yang mandul sibuk berdebat soal tata cara ritual yang remeh-temeh, sementara bumi sedang hancur karena krisis lingkungan dan manusia sekarat karena ketimpangan ekonomi. Bagi Hanafi, teologi yang tidak menghasilkan aksi nyata untuk keadilan sosial hanyalah sampah sejarah yang tidak layak dipertahankan.

BACA JUGA:  HULUISASI DAN HILIRISASI EKONOMI ISLAM (1)

 

Perselingkuhan di Mimbar Politik

Yang paling berbahaya adalah perselingkuhan antara mimbar dan tahta. Pemuka agama yang terjun ke politik praktis tanpa integritas moral seringkali mengubah ayat-ayat Tuhan menjadi senjata untuk memukul lawan politik. Mereka menciptakan polarisasi, memproduksi kebencian, dan mengklaim “restu langit” hanya untuk kepentingan faksi tertentu.

 

Inilah “kesyirikan intelektual”, ketika pendapat pribadi pemuka agama yang penuh kepentingan dipaksakan seolah-olah itu adalah kehendak mutlak Tuhan. Mereka menutup ruang nalar dengan dogma, membungkam kritik dengan stigma sesat, dan menjadikan umat sebagai komoditas suara pemilu.

 

Ketajaman kritik juga harus diarahkan pada komodifikasi agama. Saat ini, kita melihat sakralitas agama telah menjadi produk industri. Fatwa dan anjuran moral seringkali disesuaikan dengan pesanan pasar atau kepentingan politik praktis. Mimbar-mimbar yang seharusnya menjadi sumber pencerahan intelektual, kerap berubah menjadi instrumen mobilisasi massa demi kekuasaan jangka pendek.

 

Hassan Hanafi memperingatkan bahwa tanpa keberanian untuk melakukan kritik internal dan kontekstualisasi teks, institusi agama akan terjebak dalam “stagnasi sejarah”. Kita tidak bisa terus-menerus menggunakan solusi abad pertengahan untuk menjawab krisis lingkungan, etika kecerdasan buatan, atau ketimpangan ekonomi global yang kompleks.

BACA JUGA:  Pertambangan Rakyat dalam Bayang-Bayang Masalah: Urgensi Ketegasan Regulasi dan Pengawasan dari  Pemerintahan Daerah dan Desa

 

Runtuhkan Berhala Penafsiran

Kita tidak membutuhkan pemuka agama yang hanya pandai merangkai kata-kata manis di depan kamera. Kita membutuhkan sosok-sosok yang berani menjadi musuh penguasa ketika penguasa itu zalim. Jika para agamawan terus-menerus menjadi “anjing penjaga” bagi status quo, maka jangan salahkan jika generasi mendatang akan meninggalkan agama sebagai sebuah institusi yang sudah tidak relevan dan busuk.

 

Sudah saatnya kita meruntuhkan berhala-berhala penafsiran yang dibangun oleh para elit agama ini. Agama harus dikembalikan pada ruh aslinya, sebuah api yang membakar ketidakadilan, bukan air dingin yang menidurkan kesadaran.

 

Olehnya itu, sebuah bangsa yang sehat membutuhkan kritik dari para agamawan, tetapi bukan kritik yang bersifat reaktif dan penuh sentimen kelompok. Kita membutuhkan pemuka agama yang mampu melakukan “keraguan kreatif” yakni keberanian untuk mempertanyakan kembali apakah praktik keagamaan kita hari ini benar-benar membawa kemaslahatan, atau sekadar menjadi topeng bagi status quo.

 

Jika pemuka agama tidak lagi mampu menjadi suara bagi mereka yang tak bersuara (voice of the voiceless), maka mereka sebenarnya sedang memimpin umat menuju kehampaan spiritual. Sudah saatnya kita menuntut kembalinya peran pemuka agama sebagai intelektual publik yang independen, yang jubahnya tidak hanya bersih dari noda fisik, tapi juga bersih dari noda perselingkuhan dengan kekuasaan yang zalim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.