Oleh : Tamzil, S. Pd Guru MIS Arrahman Pajekko/Wartawan Tribun Bone
Pergantian tahun 2026 menjadi momentum yang kerap disambut sebagian masyarakat dengan berbagai bentuk perayaan, mulai dari pesta kembang api hingga hura-hura yang sering kali melalaikan nilai spiritual. Dalam pandangan Islam, pergantian waktu sejatinya bukan untuk diisi dengan kemaksiatan atau kesenangan sesaat, melainkan dijadikan sebagai waktu muhasabah—introspeksi diri atas amal perbuatan yang telah dilalui.
Islam memandang waktu sebagai amanah yang sangat berharga. Setiap detik kehidupan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian” (QS. Al-‘Ashr: 1–2), ayat ini menjadi pengingat bahwa waktu yang berlalu tidak boleh terbuang sia-sia.
Momentum Tahun Baru 2026 seharusnya dimaknai sebagai titik evaluasi diri: sejauh mana keimanan kita meningkat, bagaimana kualitas ibadah kita, serta apa kontribusi kita bagi sesama. Muhasabah mengajarkan umat Islam untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan menata niat untuk masa depan yang lebih baik.
Berbeda dengan hura-hura yang sering berujung pada kelalaian, Islam menganjurkan kegiatan positif seperti dzikir, doa bersama, memperbanyak istighfar, serta mempererat silaturahmi. Tradisi ini bukan hanya menenangkan jiwa, tetapi juga memperkuat keimanan dan persatuan umat.
Tahun Baru 2026 hendaknya menjadi awal perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa, bukan sekadar pergantian angka kalender. Dengan muhasabah, umat Islam diajak untuk menjadikan setiap pergantian waktu sebagai langkah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperbaiki kualitas hidup di dunia maupun akhirat.
Semoga Tahun Baru 2026 membawa keberkahan, kedamaian, dan kesadaran spiritual bagi seluruh umat, serta menjauhkan kita dari perbuatan yang sia-sia dan melalaikan. Aamiin.







