Oleh: Dr. Muhammad Asriady, M.Th.I. (Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas)
Di tengah arus kehidupan yang terus melaju, memiliki pendirian adalah sebuah jangkar yang vital. Sayangnya, fenomena plin-plan atau yang dalam istilah Islam dikenal sebagai imma’ah semakin menjamur. Sikap ini, sebagaimana diungkapkan oleh sahabat Rasulullah Ibnu Mas’ud Ra bawah sikap ini merujuk pada orang yang tidak punya pendirian atau orang angin-anginan. Mereka mudah berubah haluan, hari ini berpegang pada A, besok sudah berpindah ke B. Bahkan yang lebih kompleks, mereka bisa memiliki dua atau lebih pendirian dalam waktu bersamaan.
Bahaya imma’ah dapat menjadi jembatan menuju kemunafikan
Sikap imma’ah bukanlah sekadar masalah ketidaktegasan, ini adalah masalah karakter yang merusak. Mengapa demikian? Karena sifat plin-plan seringkali menjadi pintu masuk menuju kemunafikan. Anregurutta’, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., dalam buku Kontemplasi Ramadhan menapak jalan pecinta meraih kasih yang maha mencinta, beliau menyebutkan bahwa imma’ah adalah kata lain dari sifat munafik. Ini terjadi karena orang yang plin-plan cenderung mengambil sikap yang menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain, tanpa didasari prinsip atau kebenaran yang hakiki. Sifat munafik ini memiliki konsekuensi yang amat berat. Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala secara tegas memberikan ancaman keras. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah An-Nisa/4: 145:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ اْلأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ
Terjemahnya:
Sesungguhnya orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.
Kecaman Tuhan mengenai hal tersebut menunjukkan betapa berbahayanya hidup tanpa pendirian. Sikap plin-plan, khususnya saat seseorang menjadi pengadu domba karena ketidakjelasan sikapnya, akan merusak tatanan sosial di manapun ia berada. Mereka tak hanya merusak dirinya sendiri, tapi juga menabur benih kekacauan di lingkungan dimana ia berada.
Mari Membangun Diri, Bukan Merusak Kehidupan
Maka dari itu, sebuah refleksi penting harus kita lakukan, sudahkah kita memiliki pendirian yang teguh? Jangan biarkan diri kita menjadi perusak, jika memang belum mampu menjadi pembangun. Janganlah kita membangun istana di atas puing-puing kehancuran orang lain. Mari kita ambil langkah nyata untuk menjauhi sikap imma’ah.
Ini bukan berarti kita harus kaku dan tertutup dari perubahan, melainkan memastikan bahwa setiap perubahan sikap dan keputusan kita didasarkan pada prinsip, kebenaran, dan moral yang kuat, bukan sekadar keuntungan sesaat atau mengikuti arah angin demi popularitas.
Teguhlah dalam kebenaran, sekalipun itu terasa berat atau berisiko. Dengan memiliki pendirian yang didasari iman dan akal sehat, kita membangun karakter yang kokoh, terhindar dari kehinaan imma’ah, dan menjadi pribadi yang membawa manfaat, bukan kerusakan, bagi diri sendiri dan masyarakat.
Jadilah pribadi yang, jika tidak bisa memperbaiki, setidaknya tidak merusak. Jadilah pribadi yang berdiri teguh di atas fondasi kebaikan, jauh dari ancaman neraka yang paling bawah.







