Oleh: Prof. Syaparuddin, Guru Besar IAIN Bone dalam Bidang Ekonomi Syariah
“IAIN Bone untuk Masyarakat: Kampus yang Hadir Membawa Manfaat Nyata di Tengah Rakyat” mencerminkan semangat pengabdian dan transformasi pendidikan tinggi Islam di kawasan timur Indonesia. IAIN Bone bukan hanya menjadi pusat pengajaran agama, tetapi juga menjadi laboratorium sosial yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Kampus ini berdiri di atas nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan kemanusiaan, yang menuntun setiap langkahnya dalam menjawab kebutuhan nyata umat. Melalui sinergi antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat, IAIN Bone terus menunjukkan bahwa ilmu tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi harus hidup dalam denyut nadi masyarakat.
Secara faktual, berbagai program pengabdian masyarakat yang digagas oleh IAIN Bone telah menjangkau banyak sektor kehidupan dan memberikan kontribusi yang nyata dalam proses pemberdayaan umat. Melalui inisiatif yang sistematis dan berkelanjutan, kampus ini tidak hanya hadir sebagai lembaga akademik, tetapi juga motor perubahan sosial yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat di daerah. Kehadiran program-program tersebut memperkuat posisi IAIN Bone sebagai kampus yang membangun hubungan harmonis antara dunia akademik dan realitas sosial, sehingga ilmu pengetahuan dapat menghadirkan manfaat langsung bagi kehidupan sehari-hari.
Salah satu program yang paling menonjol adalah edukasi halal, yang memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya produk halal dalam aspek konsumsi dan aktivitas ekonomi. Edukasi ini tidak hanya menyentuh sisi normatif keagamaan, tetapi juga aspek kesehatan, keberlanjutan, dan perlindungan konsumen. Melalui seminar, lokakarya, penyuluhan di pasar tradisional, serta pelatihan sertifikasi halal bagi pelaku usaha, IAIN Bone berperan aktif dalam membangun budaya halal di tengah masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan visi nasional dalam mengembangkan ekosistem halal yang kuat, terutama di daerah yang potensial seperti Sulawesi Selatan.
Di sisi lain, pemberdayaan ekonomi syariah dan literasi keuangan menjadi salah satu fokus penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. IAIN Bone memberikan pendampingan mengenai tata kelola keuangan berbasis syariah, pengelolaan usaha, manajemen risiko, hingga akses terhadap lembaga keuangan syariah seperti BMT dan Bank Syariah. Pendampingan ini bertujuan agar pelaku ekonomi, khususnya UMKM, mampu membangun usaha yang berdaya saing tanpa meninggalkan prinsip-prinsip syariah. Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat tentang ekonomi syariah, roda perekonomian lokal dapat bergerak lebih sehat, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Program pendampingan UMKM juga menjadi wujud konkret peran kampus dalam mendorong kemandirian ekonomi rakyat. Melalui kegiatan lapangan, mahasiswa dan dosen diterjunkan untuk mendampingi pelaku usaha dalam memasarkan produk, merancang branding, memanfaatkan media sosial, serta melakukan digitalisasi usaha. Proses ini tidak hanya meningkatkan kapasitas pelaku UMKM dalam menghadapi persaingan pasar modern, tetapi juga membuka peluang baru bagi sektor ekonomi lokal untuk berkembang dan naik kelas. Pendampingan ini membuktikan bahwa kampus dapat hadir sebagai mentor sosial yang membantu masyarakat tumbuh bersama.
Untuk memperkuat dampak program, IAIN Bone mengembangkan riset terapan yang relevan dengan kebutuhan lapangan. Riset ini tidak hanya berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi menjadi basis perumusan model pemberdayaan yang dapat diterapkan secara nyata di masyarakat. Hasil riset tersebut kemudian diintegrasikan dalam program-program pengabdian, sehingga setiap langkah yang dilakukan berbasis data, terukur, dan berorientasi solusi. Keterhubungan antara riset dan pengabdian ini menjadikan transformasi sosial yang didorong oleh IAIN Bone lebih efektif dan berjangka panjang.
Kolaborasi lintas instansi juga menjadi kunci keberhasilan berbagai program pengabdian tersebut. IAIN Bone menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah, MUI, dinas terkait, komunitas pasar, lembaga keuangan syariah, sekolah, hingga organisasi masyarakat. Kolaborasi ini membuka ruang sinergi dan memperluas jangkauan manfaat program, sehingga pengabdian kampus tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi menjadi bagian dari gerakan bersama untuk memajukan daerah. Semangat gotong royong dalam kolaborasi tersebut semakin mempercepat proses transfer pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat.
Pendekatan yang digunakan IAIN Bone bersifat praktis, komunikatif, dan adaptif terhadap budaya serta karakter sosial masyarakat Sulawesi Selatan. Kearifan lokal dijadikan pintu masuk untuk menyampaikan pesan-pesan pemberdayaan, sehingga masyarakat merasa dilibatkan dan dihargai. Dengan pendekatan yang membumi, program-program pengabdian menjadi lebih mudah diterima, dipahami, dan dijalankan. Hal ini memastikan bahwa setiap gerakan yang dilakukan kampus tidak hanya berlandaskan teori, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan nyata masyarakat serta membangun kesadaran digital dan ekonomi berkeadilan di tengah perubahan zaman.
Selain itu, kehadiran IAIN Bone telah memberikan perluasan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat daerah, khususnya di kawasan yang sebelumnya belum banyak tersentuh oleh perkembangan perguruan tinggi Islam. Kampus ini menjadi ruang terbuka bagi generasi muda untuk menimba ilmu tanpa harus pergi jauh ke kota besar, sehingga kesempatan meraih masa depan yang lebih baik menjadi lebih merata. Dengan membuka akses bagi berbagai lapisan sosial, IAIN Bone turut memutus mata rantai keterbatasan pendidikan akibat kondisi ekonomi, geografi, atau latar belakang keluarga. Akses pendidikan yang inklusif ini menjadikan kampus hadir sebagai harapan baru bagi lahirnya SDM unggul dari daerah.
IAIN Bone tumbuh sebagai simbol inklusivitas yang memandang pendidikan sebagai hak bersama, bukan hak istimewa. Kampus ini menerima mahasiswa dari berbagai latar sosial, ekonomi, budaya, bahkan dari berbagai wilayah di Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur. Prinsip keterbukaan tersebut diwujudkan dalam kebijakan akademik yang adil, layanan kampus yang ramah mahasiswa, serta dukungan beasiswa yang mengakomodasi mereka yang kurang mampu. Kehadiran mahasiswa dari berbagai latar belakang juga menciptakan ruang perjumpaan antarkultur yang memperkaya proses pembelajaran, sehingga kampus menjadi miniatur masyarakat yang menghargai perbedaan.
Dengan visi “Islamic Smart Campus,” IAIN Bone menegaskan arah pembangunan pendidikan tinggi Islam yang modern, adaptif, dan berwawasan global. Transformasi digital dikembangkan untuk mendukung sistem pembelajaran yang efektif, efisien, dan responsif terhadap perkembangan zaman. Teknologi dihadirkan bukan sekadar sebagai alat bantu akademik, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan budaya literasi digital di kalangan mahasiswa. Melalui visi tersebut, IAIN Bone ingin melahirkan lulusan yang tidak gagap teknologi, memiliki ketajaman intelektual, serta mampu berkompetisi di tengah perubahan dunia yang cepat.
Lebih jauh, IAIN Bone menempatkan kepedulian sosial sebagai elemen penting dalam pembentukan karakter lulusan. Kampus ini tidak hanya menanamkan ilmu, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan tanggung jawab sosial. Mahasiswa didorong untuk menjadi bagian dari solusi atas persoalan masyarakat, bukan sekadar penonton. Dengan pendekatan pendidikan yang holistik, diharapkan lulusan IAIN Bone memiliki keutuhan karakter—berilmu, beriman, berakhlak, dan peduli terhadap sesama.
Keterlibatan mahasiswa dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik menjadi salah satu wujud nyata dari tanggung jawab sosial tersebut. Melalui KKN, mahasiswa turun langsung ke komunitas untuk memahami realitas kehidupan masyarakat dan menghadirkan kontribusi sesuai bidang keilmuan mereka. Program ini membuka mata mahasiswa bahwa ilmu yang dipelajari di kampus harus berdialektika dengan kehidupan nyata, sehingga pengalaman tersebut menumbuhkan sensitivitas sosial dan kecerdasan emosional.
Selain KKN, kegiatan riset komunitas juga memberi ruang bagi mahasiswa untuk menjadi bagian dari proses perubahan sosial berbasis data dan analisis akademik. Riset ini sering kali melibatkan observasi, wawancara lapangan, dan pendampingan masyarakat, sehingga mahasiswa mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan solutif. Masyarakat pun mendapatkan dampak langsung berupa rekomendasi, model pemberdayaan, atau pendampingan yang memperbaiki kondisi mereka.Tidak berhenti di sana, proyek-proyek sosial yang digagas oleh mahasiswa menjadikan kampus sebagai pusat gerakan kebaikan. Baik dalam bentuk literasi masjid, kelas motivasi, bimbingan belajar, pendampingan UMKM, hingga program keagamaan, mahasiswa belajar memimpin, mengabdi, dan bekerja sama. Pengalaman hidup yang mereka peroleh menjadikan proses pendidikan tidak hanya menghasilkan gelar, tetapi juga pembentukan karakter yang matang. Dengan cara inilah IAIN Bone membuktikan diri sebagai kampus yang tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga manusia-manusia yang siap mengabdi untuk umat dan bangsa.
Dari sisi kelembagaan, IAIN Bone menunjukkan komitmen kuat untuk terus memperkuat posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi Islam yang adaptif, visioner, dan inovatif. Transformasi yang dilakukan bukan sekadar perubahan administratif, tetapi sebuah gerakan menyeluruh untuk meningkatkan mutu akademik, tata kelola, dan relevansi keilmuan terhadap kebutuhan zaman. Dengan orientasi masa depan, IAIN Bone membangun ekosistem kampus yang responsif terhadap dinamika sosial, ekonomi, dan teknologi, sehingga setiap langkah kelembagaan selalu berdampak pada kemaslahatan masyarakat luas. Adaptasi ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi Islam mampu bergerak cepat tanpa kehilangan identitas spiritualnya.
Salah satu bentuk konkret penguatan kelembagaan tersebut tampak melalui lahirnya berbagai inisiatif riset strategis, termasuk riset unggulan bertajuk Ekohalal Nusantara. Riset ini diposisikan sebagai payung besar penelitian yang berorientasi pada pengembangan ekonomi halal, kelestarian lingkungan, dan pemberdayaan berbasis kearifan lokal. Melalui riset ini, IAIN Bone ingin memastikan bahwa kajian keislaman tidak hanya berhenti dalam tataran wacana, tetapi menjadi fondasi model pembangunan yang inklusif, ramah lingkungan, dan berbasis nilai-nilai etika Islam. Ekohalal Nusantara sekaligus menjadi ikon riset IAIN Bone yang mempertegas kontribusi kampus dalam ekosistem halal nasional.
Selain itu, inovasi digital menjadi arah penting dalam modernisasi kelembagaan. IAIN Bone mendorong digitalisasi berbagai layanan akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan efektivitas tata kelola kampus. Transformasi digital juga dikembangkan dalam riset dan pengabdian, seperti pengembangan aplikasi edukasi halal, digital marketing untuk UMKM, serta pemanfaatan teknologi dalam model pembelajaran. Hal ini menegaskan bahwa kampus tidak ingin tertinggal dalam era revolusi industri 4.0, tetapi justru ingin menjadi pelopor dalam memadukan nilai-nilai Islam dengan teknologi modern.
Penguatan literasi halal juga menjadi tonggak penting dalam agenda kelembagaan. IAIN Bone menyadari bahwa literasi halal bukan sekadar isu keagamaan, tetapi juga isu ekonomi, kesehatan, dan keberlanjutan hidup masyarakat. Melalui pusat halal, pelatihan sertifikasi, workshop, dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, kampus berupaya menciptakan masyarakat yang sadar halal dan mampu mengambil peran dalam rantai pasok industri halal. Dengan meningkatnya literasi halal, IAIN Bone tidak hanya membina mahasiswa, tetapi juga melibatkan pelaku usaha, komunitas pesisir, pengelola pasar, hingga generasi muda.
Selain riset dan literasi, penguatan model pemberdayaan berbasis komunitas turut menjadi fokus penting. IAIN Bone mengembangkan model-model pengabdian yang sinkron dengan problem nyata masyarakat, seperti kemiskinan, ketimpangan ekonomi, dan keterbelakangan digital. Pendekatan berbasis komunitas ini menempatkan masyarakat sebagai partner aktif, bukan objek pasif, sehingga setiap program pengabdian menjadi lebih tepat sasaran, partisipatif, dan berkelanjutan. Kampus hadir sebagai fasilitator perubahan yang menggerakkan kesadaran, kapasitas, dan kemandirian masyarakat.
Dengan seluruh langkah inovatif tersebut, IAIN Bone membuktikan bahwa peran perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya melahirkan sarjana dengan ijazah dan teori. Lebih dari itu, kampus harus tampil sebagai agen perubahan sosial yang membangun peradaban. IAIN Bone telah menegakkan peran itu dengan keberanian untuk berinovasi, kepekaan terhadap realitas sosial, dan komitmen pada penguatan nilai-nilai keislaman. Dampaknya terasa nyata: masyarakat terbantu, daerah bergerak maju, dan perguruan tinggi Islam tampil sebagai aktor penting dalam pembangunan daerah.
Lebih jauh, IAIN Bone memandang masyarakat bukan sebagai objek pembangunan yang hanya menerima hasil, melainkan sebagai mitra sejajar yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan aspirasi yang harus dihargai. Paradigma ini menunjukkan bahwa kampus memahami pembangunan sebagai proses kolaboratif yang memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat agar perubahan yang dihasilkan bersifat inklusif dan berkelanjutan. Dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek, IAIN Bone memastikan bahwa setiap program yang dijalankan relevan dengan kebutuhan nyata di lapangan dan tidak berhenti sebagai proyek seremonial semata.
Melalui pendekatan partisipatif, IAIN Bone mengajak masyarakat untuk menjadi bagian integral dalam setiap kegiatan pengabdian. Mekanisme dialog, musyawarah, observasi partisipatoris, dan pendampingan jangka panjang menjadi metode yang diutamakan dalam membangun relasi yang setara. Pendekatan ini tidak hanya membuat masyarakat merasa dilibatkan, tetapi juga mendorong tumbuhnya rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap program-program yang dijalankan. Masyarakat tidak lagi menjadi penerima manfaat pasif, melainkan ikut menentukan arah, strategi, bahkan keberlanjutan program tersebut di masa depan.
Kolaborasi erat antara akademisi dan masyarakat ini menciptakan hubungan yang saling menguatkan dalam proses pemberdayaan. Akademisi hadir dengan keilmuan, metodologi, dan perspektif ilmiah, sementara masyarakat hadir dengan realitas empiris, kearifan lokal, serta pengalaman hidup yang kaya. Pertemuan dua unsur tersebut melahirkan solusi sosial yang lebih utuh, realistis, dan dapat diterapkan secara langsung. Hal ini sekaligus memperkaya proses akademik, karena teori-teori yang diajarkan di kelas diuji, dipertajam, dan diperbarui melalui dinamika sosial di tengah masyarakat.
Dalam konteks sosial-ekonomi, kolaborasi ini membuka ruang tumbuhnya kemandirian masyarakat. Penguatan UMKM, pengembangan ekonomi halal, peningkatan literasi digital, dan pendampingan komunitas menjadi contoh bagaimana kampus dan masyarakat bergerak bersama untuk mencapai perubahan konkret. Program berbasis kolaborasi ini memperkecil kesenjangan antara dunia kampus dan dunia nyata, menjadikan perguruan tinggi hadir secara fungsional dalam denyut kehidupan rakyat, bukan sekadar simbol akademik.
Dalam perspektif pembangunan daerah, kehadiran IAIN Bone memainkan peran yang signifikan dalam mendorong integrasi antara nilai-nilai keislaman dan agenda pembangunan berkelanjutan. Kampus memastikan bahwa pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan nilai etika, keadilan, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan sosial. Nilai-nilai Islam seperti kejujuran, amanah, keseimbangan (tawazun), dan keberlanjutan (istidamah) dijadikan spirit dalam setiap model pemberdayaan yang ditawarkan.
Integrasi ini menjadikan IAIN Bone sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam perencanaan dan implementasi kebijakan. Kampus hadir memberikan rekomendasi ilmiah, hasil riset, kajian akademik, dan pendampingan lapangan sebagai dasar pembangunan berbasis pengetahuan (knowledge-based development). Dengan demikian, pembangunan tidak dijalankan secara trial and error, tetapi dengan pendekatan ilmiah yang berbasis nilai.
Secara konseptual, gagasan “IAIN Bone untuk Masyarakat” menegaskan pentingnya paradigma kampus yang tidak hanya hidup dalam ranah akademik, tetapi juga melekat pada denyut kebutuhan sosial di sekitarnya. Paradigma ini menolak pola perguruan tinggi yang eksklusif, elitis, dan terisolasi dari realitas warga. Sebaliknya, IAIN Bone menghadirkan wajah kampus yang membumi, berinteraksi, dan berkontribusi secara langsung dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, pendidikan tidak lagi dipahami hanya sebagai proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi sebagai ikhtiar kolektif untuk memajukan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya secara lebih luas.
Konsep berakar dalam gagasan tersebut bermakna bahwa setiap langkah kampus harus berpijak pada realitas lokal. IAIN Bone berusaha memahami sejarah, karakter, tradisi, dan kearifan masyarakat Bugis sebagai modal sosial dalam merancang program pengabdian dan pembangunan. Dengan mengenali akar budaya lokal, kampus mampu menyesuaikan pendekatan agar lebih diterima masyarakat dan menghasilkan program yang relevan. Pendekatan berbasis lokalitas ini menjadikan IAIN Bone tidak hanya hadir secara fisik di daerah, tetapi juga hadir secara kultural dalam kesadaran masyarakatnya.
Sementara itu, konsep berbuah merupakan manifestasi dari kontribusi nyata kampus bagi publik. Ilmu yang dikembangkan di kelas dan laboratorium sosial harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Buah dari proses intelektual tersebut tampak melalui hadirnya solusi atas masalah sosial, meningkatnya kualitas hidup warga, dan terciptanya tatanan masyarakat yang lebih adil, berdaya, serta berkarakter Islami. Inilah bentuk konkret bahwa pendidikan yang benar adalah pendidikan yang melahirkan perubahan, bukan sekadar menumpuk pengetahuan.
Dengan semangat tersebut, IAIN Bone menjadi pelopor kampus yang menempatkan ilmu sebagai sarana ibadah dan pemberdayaan. Setiap aktivitas akademik—baik riset, pengabdian, maupun pembelajaran—dinilai bukan hanya dari capaian formal, tetapi juga dari sejauh mana ia memberi maslahat kepada umat. Ilmu dipahami sebagai amanah, bukan kebanggaan intelektual semata. Ketika ilmu dijalankan sebagai ibadah, maka lahirlah keilmuan yang penuh etika, kepekaan, dan kepedulian terhadap sesama.
Paradigma ini sekaligus menghapus citra perguruan tinggi sebagai menara gading yang jauh dari persoalan rakyat. IAIN Bone memilih hadir di tengah masyarakat sebagai sahabat yang memberi teladan, bukan sekadar pengamat. Kampus bergerak sebagai sumber inspirasi, menyalakan semangat perubahan dan membangun optimisme sosial. Ia menjadi ruang dialog, tempat kelahiran ide, dan rumah besar bagi setiap aspirasi sosial-keagamaan yang ingin memajukan daerah.
Lebih dari itu, kampus juga menyadari perannya sebagai pusat inovasi. Inovasi yang dimaksud bukan hanya teknologi, tetapi juga inovasi sosial, kultural, dan spiritual. IAIN Bone mendorong lahirnya metode dakwah yang relevan dengan generasi muda, model pemberdayaan ekonomi berbasis syariah, hingga pendekatan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Semua inovasi ini berorientasi pada kemaslahatan publik, sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang menjunjung tinggi keadilan dan keberlanjutan.
Dengan model konseptual tersebut, IAIN Bone telah menegaskan identitasnya sebagai kampus yang berakar kuat di bumi dan berorientasi ke langit. Ia berpijak pada kearifan lokal, bergerak dengan ilmu, dan berbuah dalam bentuk kebermanfaatan yang luas. Inilah wajah perguruan tinggi Islam ideal yang diharapkan menjadi motor peradaban—menerangi masyarakat dengan ilmu, menyelesaikan masalah dengan hikmah, dan membimbing perubahan dengan akhlak.
Pada akhirnya, keberadaan IAIN Bone membuktikan bahwa pendidikan Islam memiliki kekuatan besar dalam membangun peradaban yang inklusif, produktif, dan berkeadilan. Di tengah dinamika zaman yang kian kompleks, IAIN Bone menjadi contoh nyata bahwa kampus Islam dapat bertransformasi menjadi motor penggerak pembangunan daerah dan nasional. Dengan spirit keilmuan yang membumi dan keislaman yang mencerahkan, IAIN Bone terus melangkah sebagai kampus yang hadir untuk masyarakat—mengabdi dengan ilmu, beraksi dengan iman, dan berbuah bagi kemaslahatan umat.







