TANETE RIATTANG TIMUR, TRIBUNBONEONLINE.COM–Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Amir Fil Jannah Bajoe sukses menyelenggarakan Festival Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema Kearifan Lokal. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 16-17 Desember 2024, ini bertujuan menanamkan nilai-nilai budaya lokal serta memperkuat karakter murid sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.
Pada hari pertama, kegiatan difokuskan pada pembuatan makanan tradisional oleh murid Fase C (kelas 5 dan 6) dimana orang tua murid turut berperan aktif sebagai mentor. Sedangkan murid Fase B (kelas 3 dan 4) yang menampilkan lagu Bugis, memperkenalkan budaya melalui karya seni musik. Sementara itu, murid Fase A (kelas 1 dan 2) mewarnai gambar bernuansa rumah adat dan pakaian adat Bugis, yang bertujuan untuk mengenalkan keanekaragaman budaya lokal sejak dini. Kegiatan hari pertama ditutup dengan pameran hasil karya murid yang telah dihasilkan selama semester ganjil Tahun Pelajaran 2024/2025.
Pada hari kedua, murid Fase B dan C mengikuti Seminar Pangadereng yang diisi oleh narasumber Dr. Kasmah, S. Pd.I., M. Pd.I., Ketua Program Studi PGSD/MI IAIN Bone. Seminar ini membahas konsep Pangadereng sebagai sistem nilai dalam budaya Bugis yang mencakup adat istiadat, etika, dan norma sosial. Sementara itu, murid Fase A menampilkan permainan tradisional khas Bugis sebagai bentuk pelestarian budaya dan pembelajaran nilai-nilai kebersamaan.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Pengawas SD Kabupaten Bone Wilayah Tanete Riattang Timur, H. Abdu Rahman, S.Pd., M.M., yang menyampaikan apresiasi terhadap upaya sekolah dalam mengenalkan budaya lokal kepada murid. “Melalui kegiatan seperti ini, kita bisa menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini serta membentuk karakter generasi muda yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila,” ujarnya.
Kepala SDIT Al Amir Fil Jannah Bajoe, Muh. Salim, S.Pd., M.Pd., juga menyampaikan harapannya agar kegiatan ini terus berlanjut dan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain. “Kami berkomitmen untuk terus memberikan pendidikan berbasis karakter dan budaya lokal demi membentuk siswa yang berprestasi dan berkarakter kuat,” tutur Muh. Salim.
Festival P5 ini tidak hanya menjadi ajang kreativitas bagi murid, tetapi juga mempererat kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam upaya pelestarian budaya lokal. Dengan kegiatan ini, diharapkan murid semakin memahami, menghargai, dan mencintai budaya serta kearifan lokal di lingkungan mereka. (Tamzil)







